DAERAH  

Air Mata di Kasur Tua, Nestapa Nek Noridah di Sialang Buah

IMG 20251011 WA0236

FORUM SERDANG BEDAGAI | Di sebuah rumah sederhana di Dusun Sialang Buah, tubuh renta seorang perempuan terbaring lemah di atas kasur lusuh. Dialah Nek Noridah (80) — sosok ibu, nenek, dan pejuang hidup yang kini hanya bisa menatap dunia dari ruang tamu rumahnya. Nafasnya pelan, tubuhnya kurus, dan langkahnya kini hanya tersisa dalam kenangan.

Sudah tujuh bulan belakangan ini, Nek Noridah tak lagi mampu bangkit dari pembaringan. Kursi roda yang dulu menjadi teman setia kini lebih banyak diam di sudut ruangan. Makan pun hanya sekali sehari — itupun sering ditolak tubuh yang sudah rapuh. Berat badannya turun drastis, dan kedua telinganya mulai tak lagi peka pada suara dunia di sekelilingnya.

Irma Tambunan (48), anak kandung Nek Noridah, menceritakan dengan mata berkaca-kaca bahwa ibunya sudah lama berjuang melawan penyakit yang belum juga sembuh. “Sudah hampir 10 tahun beliau sakit. Tahun lalu masih bisa duduk di kursi roda, sekarang sudah tidak kuat lagi,” ujarnya lirih sambil mengusap air mata di pipinya.

Setiap hari, Irma dan suaminya, Edwin Yatim, bergantian menjaga sang ibu. Mereka memindahkan kasur ke ruang tamu agar Nek Noridah bisa tetap merasa “hadir” di tengah keluarga. “Kadang beliau menolak makan. Jadi kami hanya bisa membujuk pelan, memberi minum, lalu menemaninya agar tidak merasa sendiri,” tambahnya.

Nestapa Nek Norida mengundang simpati Zuhari, pimpinan media online sinarsergai.com, yang datang menjenguk. Ia datang tidak dengan tangan kosong, melainkan membawa sembako sederhana — beras, telur, minyak goreng, ikan kaleng, dan mi instan — sebagai bentuk kepedulian dan silaturahmi.

IMG 20251011 WA0235 1

“Kami hanya ingin berbagi sedikit rezeki dan memberi semangat. Kadang yang dibutuhkan bukan hanya obat, tapi juga perhatian dan doa,” ujar Zuhari dengan nada lembut.

Irma menunduk haru. “Kami sangat berterima kasih. Kunjungan seperti ini memberi kekuatan baru bagi kami. Semoga Allah membalas semua kebaikan Pak Zuhari,” katanya, menahan tangis yang hampir pecah.

Zuhari menuturkan, kegiatan sosial ini bukan yang terakhir. Pada 15 Oktober 2025, pihaknya berencana melanjutkan kegiatan serupa untuk janda miskin, anak yatim, dan bilal mayit dalam rangka syukuran ulang tahun medianya.

“Ini bagian kecil dari rasa syukur kami. Semoga langkah kecil ini bisa menjadi pengingat, bahwa masih banyak orang di sekitar kita yang butuh uluran tangan,” katanya penuh keyakinan.

Menjelang sore, saat Zuhari menjenguk, cahaya matahari menyusup lembut ke ruang tamu rumah itu. Nek Noridah terbaring dengan mata setengah terpejam, sementara Irma menggenggam tangannya erat. Di tengah kesunyian, masih ada kasih, doa, dan harapan yang tidak pernah padam.

Karena dalam setiap derita, selalu ada cinta yang bekerja diam-diam — dari anak untuk ibunya, dari sesama manusia untuk manusia lain. Dan dari tangan kecil yang memberi, untuk hati besar yang tetap bersyukur.

‘Kita tidak selalu bisa membuat orang sembuh atau kuat. Tapi kita selalu bisa membuat mereka merasa tidak sendiri,” tutup Zuhari. (rel)