DAERAH  

Kolam Belum Laik Fungsi, Keramik Pecah Menyebabkan Insiden di Kolam Dewasa

Screenshot 2026 01 30 17 28 34 35 6012fa4d4ddec268fc5c7112cbb265e7

FORUM Tebing Tinggi | Kolam renang yang diperuntukkan sebagai kolam latihan dan belajar berenang bagi remaja dan dewasa kembali menjadi sorotan serius. Selain dipertanyakan dari sisi kedalaman yang mencapai 180 sentimeter, kondisi fisik kolam yang belum laik fungsi kini dilaporkan telah mengakibatkan kecelakaan terhadap pengunjung, bahkan bukan yang pertama kali.

Informasi yang diperoleh FORUM pada Jumat ( 30 /1/2026 ) pagi menyebutkan, seorang pengunjung mengalami luka sobek cukup serius pada bagian lutut mengalami luka sobek setelah terkena keramik di dalam kolam renang dewasa. Insiden tersebut diduga kuat berkaitan dengan keramik kolam yang pecah atau tidak terpasang sempurna, sehingga membahayakan pengguna saat beraktivitas di dalam air.

Sumber FORUM menilai, kejadian ini mempertegas bahwa persoalan kolam renang tersebut bukan sekadar kekurangan perawatan, melainkan menyangkut kelayakan fungsi dan keselamatan pengguna. “Kolam yang sudah dibuka untuk umum seharusnya bebas dari elemen tajam dan cacat material. Jika sampai menimbulkan luka sobek, itu menandakan kolam belum laik fungsi secara teknis,” ujar sumber tersebut.

Secara regulasi, keselamatan pengguna kolam renang telah diatur dalam sejumlah ketentuan, di antaranya SNI 03-2911 tentang kolam renang, serta prinsip keselamatan fasilitas publik sebagaimana diamanatkan dalam Permenpar terkait standar usaha kolam renang dan wisata air, yang mewajibkan kolam bebas dari material berbahaya, permukaan tidak tajam, lantai dan dinding anti licin, serta aman bagi kontak langsung tubuh manusia. Demikian juga dengan saran pendukung lainnya.

IMG 20260129 WA0454

Ketentuan tersebut juga menekankan pentingnya melakukan uji laik fungsi sebelum kolam dibuka untuk umum. Secara spesifikasi teknis, kolam latihan dan belajar berenang, kolam bermain ( wahana ) bagi anak dan remaja seharusnya menggunakan keramik khusus kolam renang yang anti licin, kuat terhadap tekanan air, dan tidak mudah pecah.

Keramik yang terkelupas atau pecah di kolam dewasa, terlebih dengan kedalaman kolam sedalam 180 sentimeter, dinilai berisiko tinggi karena pengguna tidak dapat menapak dan sulit menghindari kontak dengan permukaan kolam. Selain persoalan material, kedalaman 180 sentimeter sendiri dinilai tidak sesuai dengan fungsi belajar berenang. Spesifikasi umum kolam latihan menetapkan kedalaman ideal di kisaran 120–140 sentimeter, dengan batas maksimal aman 150 sentimeter.

Kedalaman tersebut memungkinkan kontrol tubuh dan mengurangi risiko panik, berbeda dengan kolam sedalam 180 sentimeter yang lebih tepat dikategorikan sebagai kolam perenang mahir. Lebih mengkhawatirkan, insiden ini bukan kejadian pertama.

Sebelumnya, awak media FORUM juga menerima laporan bahwa seorang anak kecil mengalami luka sobek pada kaki akibat keramik lantai di sekitar kolam bermain anak. Dua kejadian dalam satu lokasi ini memperkuat dugaan bahwa masalah keselamatan bersifat sistemik, bukan insidental.

Sumber FORUM kembali menegaskan pentingnya uji laik fungsi sebelum peresmian dan pemanfaatan. “Jika kolam telah dibuka dan bahkan diresmikan, maka secara prinsip harus sudah lulus uji keselamatan. Dua insiden luka akibat keramik menunjukkan pengujian dan pengawasan belum optimal,” tegasnya.

Dalam konteks proyek fasilitas publik, kondisi tersebut mengarah pada tanggung jawab teknis Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan kontraktor pelaksana, khususnya dalam memastikan kesesuaian spesifikasi material, mutu pekerjaan, serta keselamatan pengguna selama masa pemeliharaan.

Masyarakat berharap, perbaikan dilakukan secara menyeluruh, bukan sekadar tambal sulam, hingga kolam benar-benar aman dan sesuai fungsi. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa peresmian tidak identik dengan kelayakan, dan keselamatan publik terutama pada fasilitas yang bersentuhan langsung dengan risiko fisik, harus ditempatkan di atas kepentingan seremonial. ( MET )