DAERAH  

Kolam Renang “Gudang Masalah”, Diduga Proyek Revitalisasi Ini Tanpa Perencanaan Matang

IMG 20260131 WA0103

FORUM TEBING TINGGI | Kolam Renang Pemko Kota Tebing Tinggi yang baru direvitalisasi di duga menyimpan segudang masalah dan kembali sorotan serius. Belum genap dua pekan sejak dibuka untuk umum, Perlahan warga di pertontonkan buruknya kualitas pekerjaan kontraktor, wahana di kolam anak rusak berat, keramik lantai pecah di beberapa tempat, ruang sanitasi sulit air, belum sepekan air kolam yang awalnya bening justru berubah menghijau dan berlumut, kondisi memunculkan dugaan kuat tidak berfungsinya sistem penyaring dan sirkulasi air yang seharusnya menjadi elemen vital kolam renang publik atau tidak tersedia.

Awal dugaan buruknya kondisi pekerjaan kolam renang tersebut terkonfirmasi saat DPRD Kota Tebing Tinggi, khususnya Komisi III, melakukan inspeksi mendadak. Proyek revitalisasi ini sudah melewati batas waktu dan pekerjaan belum selesai padahal proyek ini menelan anggaran besar yang bersumber dari uang rakyat.

Secara teknis, kolam renang publik wajib dilengkapi sistem filtrasi air (filter pump), pompa sirkulasi aktif, serta desinfeksi berbasis chlorine dengan pengendalian pH. Tanpa sistem ini bekerja optimal, air kolam sangat rentan ditumbuhi lumut, alga, dan bakteri. Kondisi kolam yang cepat berlumut memunculkan dugaan bahwa alat penyaring air tidak berfungsi, tidak memadai, atau bahkan kemungkinan besar tidak tersedia..

Masalah tidak berhenti pada kualitas air. FORUM juga mencatat kerusakan fisik serius pada kolam, mulai dari keramik pecah di dalam kolam dewasa hingga lantai di sekitar kolam. Kondisi ini telah menimbulkan insiden kecelakaan, di mana seorang pengunjung dewasa dilaporkan mengalami luka sobek cukup serius akibat terkena keramik di dalam kolam.

Lebih memprihatinkan, insiden tersebut bukan kejadian pertama. Sebelumnya, seorang anak kecil juga dilaporkan mengalami luka sobek pada kaki akibat keramik lantai di sekitar kolam bermain anak. Dua kejadian ini memperkuat dugaan bahwa kolam renang tersebut belum laik fungsi, baik dari sisi keselamatan maupun kualitas konstruksi.

Di area kolam anak, kondisi wahana permainan air juga disorot. Sejumlah wahana terlihat rusak parah, mulai dari struktur yang tidak stabil, permukaan licin, hingga elemen yang tidak ramah anak. Padahal, kolam anak semestinya dirancang dengan material aman, anti-slip, tanpa sudut tajam, serta wahana yang berfungsi penuh demi keselamatan pengguna.

Kekecewaan itu dirasakan langsung oleh warga. mengaku bernama Anisa Dani (37), warga Kecamatan Padang Hilir, mengaku heran sekaligus kecewa melihat kondisi kolam yang disebut-sebut baru selesai direvitalisasi sudah mengalami kerusakan di sana -sini.
“Kalau baru sepuluh hari sudah dalam kondisi begini, kami jadi ragu ini benar-benar siap atau tidak. Sayang uang rakyat besar-besar dipakai, tapi hasilnya malah bikin khawatir, bukan nyaman,” ujar Anissa kepada FORUM, Sabtu ( 31/1/2026 ) saat bertemu di depan areal kolam renang.

Sumber FORUM lainnya menilai, rangkaian persoalan ini menunjukkan bahwa revitalisasi kolam renang lebih menonjolkan aspek tampilan fisik, namun mengabaikan sistem inti dan keselamatan pengguna. “Kolam yang airnya berlumut, keramiknya pecah, wahana anak rusak, lalu sudah menimbulkan korban, itu bukan sekadar kurang perawatan. Itu indikasi kolam belum laik fungsi secara menyeluruh,” ujar sumber FORUM yang tidak ingin disebut jati dirinya.

Dalam konteks fasilitas publik, kondisi ini mengarah pada tanggung jawab teknis Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan kontraktor pelaksana, khususnya dalam memastikan spesifikasi alat penyaring air, mutu pekerjaan konstruksi, serta uji laik fungsi sebelum peresmian. Keputusan membuka kolam untuk umum di tengah kondisi tersebut dinilai berisiko terhadap keselamatan dan kesehatan masyarakat.

Kasus kolam renang ini sekaligus menjadi ujian bagi fungsi pengawasan DPRD Kota Tebing Tinggi. Kolam yang belum laik fungsi namun sudah diresmikan Pemko Tebing Tinggi dan dimanfaatkan untuk umum secara gratis dengan batas waktu tertentu, hal ini mencerminkan lemahnya kontrol terhadap proyek publik.

Publik pun menanti langkah tegas, apakah akan dilakukan evaluasi menyeluruh, atau persoalan ini kembali dibiarkan hingga menimbulkan insiden berikutnya.
Pembangunan fasilitas publik tidak cukup diukur dari cepatnya peresmian, melainkan dari fungsi sistem, keselamatan pengguna, dan kebermanfaatannya bagi masyarakat.

Kolam Renang Kota Tebing Tinggi kini berdiri sebagai peringatan bahwa tanpa standar teknis dan pengawasan ketat, revitalisasi berisiko berubah menjadi kegagalan yang mahal.Dengan kondisi kolam renang yang carut marut diduga akibat tidak dilengkapi sistem penyaring air kolam.

Beberapa ruas keramik kolam dewasa yang pecah hingga memicu insiden luka sobek serius pada kaki seorang perenang serta wahana kolam anak yang rusak parah, publik patut bertanya: mengapa Pemerintah Kota Tebing Tinggi tetap memaksakan diri meresmikan kolam renang ini pada Senin (21/1/2026), sementara proses uji laik fungsi belum dilakukan dan segudang persoalan keselamatan masih nyata di depan mata? ( MET )