DAERAH  

Nek Suliyem Meninggal Dunia, Polemik Dugaan Penolakan Layanan RSUD Kumpulan Pane Kembali Disorot Publik

IMG 20260202 WA0097

FORUM Tebing Tinggi | Kisah duka menutup perjalanan hidup Nek Suliyem (67), warga Lingkungan I, Kelurahan Brohol, Kecamatan Bajenis, Kota Tebingtinggi. Pasien lansia yang sebelumnya sempat diberitakan mengalami dugaan penolakan pelayanan medis di RSUD dr. H. Kumpulan Pane itu, meninggal dunia di rumahnya pada Senin pagi (2/2/2026) sekitar pukul 09.00 WIB.

Keterangan tersebut disampaikan Anggi, menantu Acai Sembada, yang selama ini mendampingi dan mengurus kebutuhan medis almarhumah. Menurut Anggi, sebelum meninggal dunia keluarga masih merencanakan agar Nek Suliyem menjalani cuci darah lanjutan di RS Chevani, Kota Tebingtinggi. Namun rencana tersebut tidak sempat terlaksana karena kondisi pasien terus memburuk.

“Pasca kejadian penolakan itu, Nek Suliyem sudah sempat menjalani tiga kali cuci darah di RS Chevani. Rencananya mau lanjut cuci darah lagi, tapi keburu meninggal,” ujar Anggi.

 

Peristiwa wafatnya Nek Suliyem kembali memantik sorotan publik terhadap akses dan mutu layanan kesehatan di Kota Tebingtinggi, khususnya bagi pasien dengan penyakit kronis yang membutuhkan penanganan berkelanjutan dan tidak boleh terputus.

IMG 20260202 WA0098

Kasus ini sebelumnya menyita perhatian luas setelah beredar informasi dugaan penolakan pelayanan di RSUD dr. H. Kumpulan Pane. Informasi tersebut memicu polemik di ruang publik dan menimbulkan kekhawatiran masyarakat terkait jaminan keselamatan pasien di rumah sakit milik pemerintah daerah.

Di tengah duka keluarga, perhatian publik juga tertuju pada sikap dan respons Pemerintah Kota Tebingtinggi. Dalam sebuah apel resmi di lingkungan RSUD, Wali Kota Tebingtinggi Iman Ardian Saragih sempat menyinggung adanya dugaan “drama-drama politik” di balik kasus pasien tertolak tersebut.

Pernyataan itu menuai kritik karena dinilai tidak sensitif dan berpotensi mengaburkan persoalan utama, yakni keselamatan pasien serta hak warga atas layanan kesehatan yang layak.

IMG 20260202 WA0096

Hingga berita ini dikirim, belum ada penjelasan resmi dari pihak manajemen RSUD dr. H. Kumpulan Pane maupun Pemerintah Kota Tebingtinggi terkait kronologi dan rangkaian pelayanan yang diterima almarhumah sebelum wafat.
Kematian Nek Suliyem bukan sekadar kabar duka, melainkan peringatan keras bagi Pemerintah Kota Tebingtinggi.

Ketika seorang pasien lansia dengan penyakit kronis harus berpindah rumah sakit demi mendapatkan layanan medis, publik berhak mempertanyakan fungsi dan tanggung jawab RSUD sebagai fasilitas kesehatan rujukan milik daerah. Diamnya Pemko dan manajemen rumah sakit hingga kini justru memperkuat dugaan adanya persoalan serius dalam sistem pelayanan kesehatan yang belum sepenuhnya berpihak pada keselamatan dan hak pasien. (MET)