FORUM MEDAN | Universitas Al Washliyah Medan resmi meluncurkan UNIVA Mart, Kamis (2/4/2026), sebagai langkah strategis membangun kemandirian ekonomi kampus sekaligus menghadirkan laboratorium bisnis nyata bagi mahasiswa di tengah berkembangnya kebutuhan ekosistem kewirausahaan di perguruan tinggi. Peresmian itu bukan sekadar membuka toko, tetapi juga sebagai pintu masuk menuju ekosistem ekonomi kampus yang mandiri, terintegrasi, dan berorientasi masa depan.
UNIVA Mart hadir di lingkungan kampus sebagai jawaban atas kebutuhan sederhana: menyediakan barang sehari-hari bagi civitas akademika. Namun di balik rak-rak produk dan kasir digital, tersimpan visi yang jauh lebih besar.
Dikelola secara mandiri dan bermitra dengan Indogrosir Medan, UNIVA Mart mengusung konsep “Harga Heboh, Dekat dan Hemat”. Model ini tidak hanya menekankan aksesibilitas, tetapi juga efisiensi ekonomi bagi mahasiswa dan dosen.
Lebih dari sekadar ritel, UNIVA Mart juga berfungsi sebagai pusat layanan keuangan mini. Dengan peran sebagai agen Bank Syariah Indonesia, mart ini melayani transaksi setor, tarik, hingga transfer. Layanan lainnya mencakup pembayaran PDAM, BPJS, SPP, token listrik PLN, hingga top-up dompet digital seperti OVO, GoPay, dan ShopeePay.
Dengan demikian, satu ruang kecil di dalam kampus menjelma menjadi simpul ekonomi yang menghubungkan kebutuhan konsumsi, layanan finansial, hingga teknologi digital.

Bagi Rektor UNIVA Medan, Prof Dr Saiful Akhyar Lubis MA, kehadiran UNIVA Mart adalah bagian dari strategi besar. “Ini bukan sekadar unit usaha, tetapi komitmen kami membangun kemandirian ekonomi kampus. Mahasiswa harus unggul secara akademik sekaligus memiliki jiwa kewirausahaan,” ujarnya.
Pernyataan itu bukan jargon. Di balik operasional UNIVA Mart, mahasiswa dilibatkan sebagai bagian dari proses belajar. Mulai dari manajemen stok, pelayanan pelanggan, hingga pengelolaan keuangan ritel modern—semuanya menjadi “kelas hidup” yang tak ditemukan di ruang kuliah.
Manajer UNIVA Mart, Rusli Efendi Damanik SE MM, menyebut konsep ini sebagai laboratorium bisnis. “Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi langsung praktik. Ini adalah ruang tumbuh bagi calon wirausahawan,” katanya.

Peluncuran UNIVA Mart, menurut Rusli, juga menandai kuatnya sinergi antara dunia pendidikan dan sektor keuangan. Sejumlah institusi seperti BSI, Bank Mandiri, Bank Sumut, serta lembaga sosial Alzis turut ambil bagian.
Kolaborasi ini membuka peluang lebih luas: mulai dari transaksi non-tunai, penguatan literasi keuangan, hingga inklusi ekonomi berbasis kampus. “Mahasiswa tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga bagian dari sistem ekonomi yang aktif dan produktif,” ucap Rusli.
Kehadiran lembaga zakat juga memberi dimensi sosial. Aktivitas ekonomi tidak berhenti pada profit, tetapi juga menyentuh aspek distribusi dan kepedulian sosial.
Menurut Rusli, UNIVA Mart merupakan sebuah terobosan yang mencerminkan pergeseran paradigma perguruan tinggi di Indonesia. “Kampus tidak lagi sekadar pusat ilmu, tetapi juga motor penggerak ekonomi mikro yang berkelanjutan,” ujarnya.

Dengan mengintegrasikan ritel, layanan keuangan, edukasi, dan kolaborasi lintas sektor, UNIVA Medan sedang membangun model ekonomi kampus yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Langkah ini sekaligus menjawab tantangan besar: bagaimana menciptakan lulusan yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja.
Di tengah dinamika ekonomi digital dan persaingan global, UNIVA Mart menjadi bukti bahwa kemandirian bisa dimulai dari lingkungan kampus—dari rak sederhana, kasir kecil, hingga mimpi besar tentang masa depan ekonomi yang lebih inklusif dan berdaya saing. (re)







