DAERAH  

BBM Juga Langka di Kota Tebing Tinggi: Antrean Mengular di Sejumlah SPBU

676f8a10 9d0b 4295 903c 8d9e060e2028

FORUM TEBING TINGGI | Sejumlah SPBU di Kota Tebing Tinggi masih dipadati pengendara. Antrean panjang mengular hingga badan jalan akibat kelangkaan BBM pascabanjir yang melanda kota ini selama dua hari berturut-turut, Kamis–Jumat (28–29/11/2025) lalu. Kondisi ini membuat warga terpaksa menunggu berjam-jam hanya untuk mendapatkan bahan bakar.

Pantauan awak media jejaring FORUM di sejumlah SPBU, mulai dari Jalan Prof HM Yamin, Jalan Diponegoro/Simpang Rambung, Jalan Setia Budi hingga Jalan Sukarno Hatta menunjukkan antrean kendaraan yang tidak kunjung surut sejak pagi. Bahkan sejumlah SPBU dilaporkan telah kehabisan stok sebelum siang hari.

Seorang warga, Ningsih, mengaku harus mengantre lebih dari dua jam di SPBU Jalan HM Yamin, Kelurahan Tanjung Marulak. “Dari jam 10 pagi, dapatnya jam 12 siang. Habis tenaga, habis waktu, panas lagi, Aku terpaksa mengantre karena sepeda motorku sempat mogok akibat kehabisan bensin. ” ujarnya kepada awak media jejaring FORUM, Senin (01/12/2025).

Warga lainnya, Abdul Aziz Purba, terpaksa memutar jauh ke SPBU Diponegoro–Simpang Rambung setelah SPBU dekat rumahnya tutup karena belum mendapat pasokan BBM. “Terpaksa harus ke Diponegoro Simpang Rambung. Di sini pun tetap antre panjang,” keluhnya.

Malik juga mengaku heran kenapa pasokan BBM justru langka setelah banjir surut. Menurutnya, antrean kendaraan yang terlalu panjang telah mengganggu arus lalu lintas. “Biasanya enggak sepanjang ini. Kalau gini, lalu lintas pun kacau. Pemerintah harus cepat atasi kelangkaan minyak ini,” ujarnya.

Sama dengan pengendara lainnya, cukup banyak kenderaan sudah kehabisan bensin sejak dua hari terakhir dan terpaksa berburu BBM ke berbagai SPBU demi bisa tetap beraktivitas. Di SPBU Jalan Sukarno Hatta, warga bernama Madan Damanik mengaku sudah mengantre hampir satu jam. “Susah kali cari minyak. Keliling hampir semua SPBU, banyak yang habis,” ucapnya.

Situasi kelangkaan BBM ini juga dimanfaatkan oleh beberapa ” oknum nakal “. Sejumlah warga mengaku terpaksa membeli BBM eceran dengan harga mencapai Rp 35 ribu hingga Rp 45 ribu per liter untuk Pertalite. “Daripada tak bisa jalan. Tadi pun kedai tempat kami beli hampir habis, di inti kota. ,” ungkap seorang warga.

Kelangkaan pascabanjir ini bukan sekadar antrean panjang, tetapi pukulan keras bahwa manajemen distribusi BBM di kota ini di nilai rapuh. Warga berharap pemerintah hadir bukan setelah antrean menumpuk, tetapi sebelum situasi berubah menjadi bencana kecil yang menghambat aktivitas masyarakat. ( MET )