Produksi Padi Meningkat, Belum Jamin Indonesia Swasembada Pangan

IMG 20261020 WA0043

FORUM ​MEDAN — Tren peningkatan produksi padi nasional akhir-akhir ini memang memberikan angin segar bagi sektor pertanian tanah air. Namun, kenaikan angka panen tersebut dinilai belum dapat dijadikan indikator tunggal bahwa Indonesia telah sepenuhnya berhasil meraih swasembada pangan yang kokoh dan berkelanjutan.

Peringatan tersebut disampaikan oleh praktisi dan pengamat pertanian, M. Taufik Batubara, dalam sebuah pertemuan yang berlangsung di Medan, Sumatra Utara.

​Menurut Taufik, masyarakat dan pemangku kepentingan perlu membedakan antara peningkatan produksi sesaat dengan kemandirian pangan yang berkelanjutan. Untuk mencapai titik di mana Indonesia benar-benar berdikari dalam memenuhi kebutuhan beras nasional tanpa ketergantungan impor, pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan masih memiliki rentetan pekerjaan rumah (PR) mendasar yang wajib diselesaikan.

​”Produksi padi yang meningkat merupakan perkembangan positif yang patut kita apresiasi. Namun, hal itu tidak serta-merta menunjukkan bahwa Indonesia sudah benar-benar swasembada. Masih banyak pembenahan di tingkat akar rumput yang harus diselesaikan,” ujar Taufik dalam keterangannya.

​Lima Pilar Penting Pembenahan Sektor Pertanian

​Guna memastikan tren positif produksi beras tidak sekadar menjadi capaian sementara, Taufik menyoroti lima aspek vital yang membutuhkan intervensi mendesak:

Modernisasi dan Perbaikan Sistem Irigasi

Pasokan air yang stabil adalah kunci utama keberhasilan panen. Banyak wilayah pertanian masih menghadapi kendala jaringan irigasi yang rusak atau belum menjangkau lahan sawah tadah hujan.

Peningkatan Mekanisasi Pertanian

Keterbatasan tenaga kerja di sektor pertanian perlu diimbangi dengan penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan) yang modern dan terjangkau bagi para petani.

​Penyediaan dan Distribusi Benih Unggul

Penggunaan benih berkualitas tinggi yang tahan terhadap hama dan perubahan iklim sangat menentukan produktivitas per hektar lahan.
​

Efisiensi dan Ketepatan Penggunaan Pupuk

Penerapan pemupukan berimbang yang sesuai dengan kebutuhan spesifik tanaman dan kondisi tanah perlu terus disosialisasikan agar hasil optimal dan efisien dari segi biaya.

​Pemulihan Kualitas dan Kesehatan Tanah Pertanian

Penggunaan bahan kimia secara masif dalam jangka panjang telah menurunkan tingkat kesuburan alami tanah. Pembenahan kondisi tanah (soil conditioning) secara masif dan berkelanjutan mutlak diperlukan untuk menjaga vitalitas lahan.

Perlu Sinergi Lintas Sektor

​Taufik menegaskan bahwa tanpa langkah strategis pada lima aspek di atas, lonjakan hasil panen yang terjadi saat ini berisiko bersifat fluktuatif dan rentan terhadap gangguan luar, seperti perubahan iklim ekstrem maupun serangan hama.

Untuk itu, ia mendorong terbentuknya kolaborasi yang solid antara pemerintah pusat dan daerah, pelaku industri/swasta, serta komunitas petani. Sinergi ini diharapkan tidak hanya fokus pada peningkatan angka statistik produksi, tetapi juga berorientasi pada peningkatan kesejahteraan hidup para petani di lapangan.

​”Target swasembada pangan nasional bukan sekadar pencapaian angka di atas kertas, melainkan wujud nyata ketahanan pangan yang memberikan dampak langsung pada kesejahteraan petani dan keterjangkauan harga pangan bagi seluruh rakyat Indonesia,” pungkasnya.
(red)