FORUM Tebing Tinggi | Gejolak di tubuh PDAM Tirta Bulian akhirnya memakan korban. Pelaksana Tugas (Plt) Direktur, Roy Abdul Rahman, resmi mengundurkan diri dari jabatannya pada Jumat, (24 /4/ 2026) kemarin.
Keputusan itu disampaikan langsung kepada awak media, sebagai bentuk tanggung jawab moral atas kondisi perusahaan yang dinilai terus mengalami penurunan kinerja.
Namun mundurnya Roy bukan sekadar pergantian jabatan biasa. Ia justru menjadi penanda bahwa persoalan di tubuh perusahaan daerah tersebut belum pernah benar-benar selesai.
Dalam keterangannya, Roy mengungkap bahwa masalah yang dihadapi saat ini merupakan “warisan lama” yang terus berulang dari satu kepemimpinan ke kepemimpinan berikutnya. Pada masa direktur sebelumnya yakni KH, publik sempat dihebohkan dengan kebijakan kenaikan iuran distribusi air yang memicu penolakan luas hingga berujung pada pencopotan jabatan.
Alih-alih menjadi titik perbaikan, dinamika tersebut justru berlanjut pada periode Plt Direktur berikutnya berinisial HS. Berbagai persoalan kembali mencuat, mulai dari keluhan masyarakat hingga tekanan internal yang kian menguat. Situasi ini disebut telah mengganggu stabilitas organisasi secara keseluruhan.

Roy mengakui, kondisi tersebut menjadi beban tersendiri dalam menjalankan tugasnya. Konflik yang berkepanjangan serta persoalan struktural yang belum terselesaikan membuat ruang geraknya sebagai Plt menjadi sangat terbatas. “Kewenangan Plt tidak sepenuhnya bisa mengambil keputusan strategis,” ujarnya.
Di sisi lain, persoalan internal juga diperparah dengan kondisi sumber daya manusia yang belum ideal. Sejumlah posisi penting disebut mengalami kekosongan, sehingga berdampak langsung terhadap kinerja operasional perusahaan.
Situasi ini memperkuat kesan bahwa persoalan PDAM Tirta Bulian bukan lagi bersifat insidental, melainkan sudah mengarah pada masalah sistemik yang terus berulang tanpa penyelesaian tuntas.
Sementara itu, Sekretaris Daerah LIRA Kota Tebing Tinggi, Amarullah, menilai langkah mundurnya Roy sebagai keputusan yang tepat. Ia menyebut, sikap tersebut mencerminkan profesionalitas di tengah kondisi internal yang dinilai tidak kondusif.
Namun Amarullah juga menegaskan bahwa pengunduran diri ini tidak boleh berhenti pada pergantian figur semata.
LIRA Kota Tebing Tinggi akan mendorong Wali selaku Kuasa Pemilik Modal (KPM) untuk segera mengambil langkah strategis guna membenahi kondisi PDAM secara menyeluruh.
“Arah kebijakan ke depan harus jelas, apakah mau dibenahi serius atau dibiarkan terus seperti ini,” ujarnya.
Selain itu, LIRA juga menyoroti proses penjaringan calon direktur yang dinilai belum sepenuhnya terbuka. Dengan mundurnya Plt Direktur, publik kini menanti langkah konkret pemerintah daerah. Sebab, pergantian pimpinan tanpa pembenahan menyeluruh dikhawatirkan hanya akan mengulang siklus persoalan yang sama. (MET)







