RAGAM  

Kuman Penyakit Ini Obat Penyakit Itu

Untitled 1 1

Semua orang normalnya tidak mau kalau tubuhnya sampai kemasukan kuman penyakit. Pasalnya setiap orang pasti ingin supaya dirinya selalu berada dalam kondisi sehat. Namun seiring dengan semakin maju dan beragamnya teknik pengobatan, sejumlah kuman penyakit mulai diberdayakan supaya bisa menyembuhkan penyakit lain yang tidak bisa dihilangkan dengan cara biasa. Berikut ini adalah contoh dari kuman-kuman penyakit tersebut.

Plasmodium Malaria

Plasmodium Malaria

Sifilis adalah penyakit kelamin yang disebabkan oleh bakteri. Penyakit ini menyebar ketika seseorang yang terjangkit melakukan hubungan badan dengan orang yang masih sehat. Seseorang juga bisa tertular sifilis ketika ia bersentuhan dengan luka pada kulit penderita sifilis.

Sifilis bakal menyebabkan tubuh penderitanya dipenuhi oleh bisul-bisul kecil. Gejala yang dimiliki sifilis tersebut menyebabkan penderita penyakit ini terlihat menjijikan dan dijauhi oleh orang-orang di sekitarnya.

Namun bahaya sifilis belum berhenti sampai di sana. Sebelum abad ke-19, sifilis tidak bisa disembuhkan dan bisa menyebabkan korbannya meninggal dunia dalam rentang waktu 4 tahun.

Saat sifilis sudah mencapai fase yang parah, penderita sifilis bakal mengalami lumpuh, kebutaan, dan kerusakan pada sistem syarafnya. Banyak penderita sifilis tingkat lanjut yang sulit mengendalikan diri dan terpaksa disekap di rumah sakit jiwa hingga akhir hayatnya.

Tahun 1880-an, dokter Julius Wargner-Jauregg mengembangkan teknik pengobatan baru untuk menangani sifilis. Metode pengobatannya terbilang unik karena ia justru menggunakan kuman penyakit lain untuk mengobati sifilis.

Julius menggunakan metode pyrotherapy untuk mengobati sifilis. Pyrotherapy adalah tindakan memasukkan kuman penyakit yang sudah dilemahkan dalam tubuh penderita penyakit yang tidak bisa disembuhkan.

Saat pasien mengalami demam tinggi, kuman penyebab penyakit yang tidak bisa disembuhkann akan mati. Sesudah itu, barulah pasien diobati supaya demamnya hilang.

Julius awalnya menggunakan aneka macam kuman dari vaksin seperti kuman TBC, tifus, hingga kolera. Namun semua upayanya tersebut tidak berhasil.

Tahun 1917, Julius akhirnya menemukan kuman penyakit yang ia cari. Ia mengambil darah dari penderita malaria dan menyuntikkannya kepada orang-orang yang menderita sifilis.

Saat kuman Plasmodium penyebab malaria masuk ke dalam tubuh para pasien sifilis tadi, mereka semua langsung mengalami tinggi layaknya penderita malaria. Karena bakteri sifilis tidak tahan akan suhu lebih dari 40 derajat Celcius selama 6 jam, para pasien tersebut sesudah itu tidak lagi menderita sifilis. Julius lalu melakukan pengobatan untuk menghilangkan malarianya.

Meskipun berhasil mengobati sifilis, terapi memakai Plasmodium juga membawa bahaya bagi pasien. Pasalnya selain menyebabkan demam, malaria juga bisa menyebabkan kerusakan pada ginjal dan darah. Itulah sebabnya ketika antibiotik penisilin sudah diciptakan, pengobatan sifilis memakai malaria tidak lagi dilanjutkan.

Virus Cacar Sapi

Virus Cacar Sapi

Cacar adalah penyakit yang menyebabkan korbannya menderita demam tinggi dan bisul di sekujur tubuhnya. Di masa kini, cacar sudah tidak lagi menjadi bahaya berkat penemuan vaksin cacar.

Namun sebelum tahun 1977, cacar merupakan penyakit yang amat berbahaya. Pasalnya cacar bisa menyebabkan korbannya mengalami kebutaan dan bahkan meninggal dunia. Di Benua Amerika, jutaan penduduk suku Indian diyakini meninggal akibat terkena penyakit cacar yang dibawa oleh orang-orang Eropa.

Edward Jenner adalah orang yang berjasa menciptakan vaksin penyakit cacar sehingga penyakit ini sekarang tidak lagi menjadi momok bagi dunia. Edward sendiri pertama kali mendapat ide untuk menciptakan vaksin cacar ketika ia melihat kalau pemerah susu sapi tidak ada yang pernah terkena penyakit cacar.

Edward lantas menduga kalau pemerah sapi tidak pernah terkena cacar karena saat bekerja, mereka pernah terkena virus cacar sapi. Kebetulan virus cacar sapi memiliki kemiripan dengan virus cacar yang menyerang manusia.

Untuk membuktikan dugaannya tersebut, Edward kemudian memasukkan virus cacar sapi ke dalam tubuh seorang bocah 8 tahun yang bernama James Phipps. Sekitar 2 bulan kemudian, Edward memasukkan virus cacar manusia ke dalam tubuh James. Hasilnya, James ternyata tetap nampak berada dalam kondisi sehat dan tidak terkena penyakit cacar.

Edward lantas berkesimpulan bahwa James kini berada dalam kondisi kebal terhadap virus cacar manusia karena tubuhnya sebelum ini pernah kemasukan virus dengan karakteristik serupa. Dengan menggunakan hasil pengamatannya ini, Edward kemudian mengembangkan vaksin cacar.