Dari Kesehatan hingga Teknologi, Mahasiswa FKM USU Bangun Cara Berpikir Lintas Bidang melalui Riset 

Oleh: Fadhilah Safa Salsabila Desky

IMG 20261104 WA00402

FORUM MEDAN – Ronny, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (USU), tidak membatasi diri pada bidang kesehatan masyarakat. Melalui pengalaman mengikuti berbagai kompetisi karya ilmiah, ia mulai mengeksplorasi isu kimia, biologi, teknik, kesehatan hewan, hingga psikologi.

Bagi Ronny, eksplorasi lintas bidang menjadi kesempatan untuk memperluas pengetahuan sekaligus mengembangkan gagasan di luar bidang yang selama ini ia tekuni. Ia menilai, setiap bidang memiliki cara pandang berbeda dalam memahami sebuah persoalan.

Ronny mengaku, ia sering menemukan ide melalui tema dan subtema kompetisi yang diikutinya. Sebelum menyusun karya, ia terlebih dahulu mempelajari arah yang diinginkan penyelenggara melalui panduan atau paper kompetisi.

“Saya menemukan ide dari tema dan subtema lomba yang diselenggarakan. Saya memilih salah satu subtema yang paling cocok dan dapat saya pahami, lalu mencari masalah nyata yang relevan untuk dikaji,” ujar Ronny.

Salah satu contohnya ketika Ronny mengikuti International Paper Innovation Contest pada The 14th Civil Engineering Innovation Contest Universitas Diponegoro 2026. Ia memilih subtema pengembangan inovasi infrastruktur dan ketahanan bangunan, lalu mengaitkannya dengan isu gempa bumi yang saat itu menjadi perhatian publik.

Dari situ, Ronny bersama tim mengembangkan SMART-TILT, karya berjudul “SMART-TILT: Integrating Digital Twin, IoT Sensors, and Machine Learning for Predictive Structural Health Monitoring of Heritage Buildings in Earthquake-Prone Areas”. Karya tersebut mengusung gagasan pemantauan kondisi struktur bangunan bersejarah di wilayah rawan gempa.

Pengalaman menggarap karya lintas bidang membuat Ronny belajar untuk memastikan suatu karya ilmiah memiliki gagasan lintas bidang yang tetap logis dan tidak hanya sekadar menggabungkan istilah teknologi yaitu dengan memahami terlebih dahulu fungsi setiap komponen, mulai dari teknologi pemetaan, analisis data, hingga platform pelaporan.

“Saya jadi belajar, kalau kita membuat suatu karya yang logis, kita harus tahu dulu teknologi ini fungsinya apa. Misalnya machine learning atau AI untuk analisis, lalu platform sebagai wadah pelaporan atau penyimpanan data, Jadi kalau kita buat suatu inovasi itu semua harus punya fungsi yang berbeda-beda tapi tetap bisa menghasilkan 1 tujuan yang sama” ungkap Ronny.

Menurut Ronny, sebuah inovasi perlu memiliki alur yang jelas agar setiap komponen benar-benar berfungsi sesuai kebutuhan. Ia menilai, sistem yang baik terbentuk dari fungsi fungsi yang berbeda, tetapi diarahkan untuk mencapai tujuan yang sama.

Salah satu karya yang paling menantang bagi Ronny adalah saat ia mengembangkan inovasi “TRANQUILUX PATCH”, inovasi terapi berbasis plester nanoherbal dan sensor elektromiografi (EMG) untuk membantu pengelolaan kecemasan serta pencegahan gangguan psikosomatis. Karya tersebut dikembangkan bersama tim dari latar belakang farmasi, kesehatan masyarakat, dan kedokteran.

Ronny mengakui, bidang farmasi dan penggunaan sensor EMG merupakan area yang belum ia kuasai sebelumnya. Meski demikian, pengalaman tersebut justru memperkenalkannya pada pentingnya kolaborasi antarbidang. Setiap anggota tim membawa keahlian berbeda, tetapi diarahkan untuk mencapai tujuan yang sama.

Pengalaman tersebut turut mengubah cara Ronny belajar. Ia menjadi lebih terbiasa menata langkah secara bertahap, menentukan prioritas, dan memahami materi sebelum terjun lebih dalam ke sebuah bidang.

Pesan dari Ronny, mahasiswa tidak perlu merasa terbatas pada jurusan yang ditekuninya. Ia mengutip pesan Gabriel Rey bahwa seseorang perlu berani mencoba berbagai kesempatan, menjalani proses, dan belajar dari pengalaman tersebut.

“Seperti yang pernah disampaikan Gabriel Rey, kita itu ga boleh pemilih, kita ga boleh ‘ah gue maunya kerjanya di sini’, kita ga boleh kayak gitu. Kita harus jalanin semuanya dulu, ambil semua kesempatan yang ada. Dari situ kita belajar, dari situ kita ngebangun mental. Jangan banyak alasa, jangan gengsi,” jelas Ronny.

Menurut Ronny, keterbukaan terhadap pengalaman baru dapat membantu mahasiswa mengenal minat serta membangun mental. Ia menilai, mahasiswa tidak selalu langsung menemukan minat atau passionnya, sehingga penting untuk terbuka terhadap berbagai kegiatan dan peluang yang aa.

“Pelan pelan, ketika kita sudah tahu di mana passion kita, kita bisa mengenal diri ebih baik,” ujar Ronny. (rel)

Berita ini kiriman Fadhilah Safa Salsabila Desky