FORUM MEDAN | Aktivis 98 Herianto SE menilai kekhawatiran banyak pihak bahwa Deforestasi yang terjadi di Indonesia penyebab utamanya adalah ekspansi perkebunan kelapa sawit harus didasari data yang benar.
Data menunjukkan perkebunan sawit bukanlah penyumbang utama deforestasi. Justru, sebagian besar lahan sawit berasal dari lahan terdegradasi (degraded land) seperti semak belukar , bekas hutan tebangan (ex – logging), dan lahan pertanian / perkebunan yang sudah ada.
Data yang tersedia :
– 1950 luas hutan Indonesia mencapai 162 , 3 juta hektare.
– 1985 berkurang jadi 119, 7 hektare.
– 2000 tinggal 103, 3 juta hektare.
– 2022 menyusut jadi 82,5 juta hektare.
“Deforestasi paling besar justru terjadi sebelum ekspansi besar – besaran kebun sawit, yakni antara tahun 1950 – 2000. Dalam periode 2000 – 2022, ketika luas kebun sawit bertambah 16,3 juta hektare, kontribusinya terhadap Deforestasi hanya 15 persen saja. Sisanya 85 persen lahan hutan dikonversi untuk keperluan lain seperti pertanian umum, pertambangan, pemukiman, dan infrastruktur,” kata Herianto SE di Medan, Rabu (24/12/2025).
Beliau pun menepis isu yang beredar tentang kepemilikan lahan sawit oleh Pak Prabowo dikaitkan dengan deforestasi.
“Nggak benar itu, sengaja dihembuskan pihak antek asing yang bertentangan dengan kebijakan beliau saat ini,” ujarnya.
Banyak berita yang beredar di media sosial saat ini banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat akibat dari Deforestasi Tamanan sawit.
Herianto pun menduga isu tersebut sengaja dihembuskan oleh para kaki tangan asing dalam upaya mengendalikan kebijakan bio solar (biodisel) produk Indonesia yang tentunya memiliki harga relatif lebih murah, sehingga menjadi ancaman di pasar Uni Eropa. Apalagi Indonesia menang ditingkat peradilan di tingkatan World Trade Organization (WTO).
” Minyak sawit Indonesia dinilai lebih murah dan kompetitif dibandingkan minyak nabati produksi Eropa (seperti rapeseed dan Bunga Matahari), sehingga penolakan ini juga didorong oleh proteksionisme pasar,” jelasnya.
Herianto pun mengajak semua pihak agar menjaga persatuan dan kesatuan bangsa agar secara bersama – sama kita dapat mengatasi bencana alam di Sumatera.
Hal ini penting karena mustahil kita bisa berdaulat secara politik dan mandiri secara ekonomi tanpa persatuan bangsa. Demi cita – cita menuju Indonesia emas 2045, sebuah masyarakat adil dan makmur.
“Pentingnya jaga persatuan dan kesatuan bangsa agar bisa berdaulat secara politik , mandiri secara ekonomi menuju Indonesia adil dan makmur,” tutupnya.
Sebelumya Hasim Djojo Hadikusomo , Wakil Ketua dewan pembina Partai Gerindra mengatakan bahwa Prabowo tidak memiliki lahan satu hektar pun .
“Pak Prabowo tidak memiliki lahan satu hektare pun,” kata Hasyim. (re)







