Sentimen Negatif Global Memanas, Aktifis 98 Soroti “Invisible Hand” di Balik Anjloknya IHSG

IMG 20250418 WA0005 1068x1424 1
Pengamat ekonomi yang juga Ketua Relawan Persatuan Nasional (RPN) Sumatera Utara, Herianto SE

FORUM MEDAN | Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) pada perdagangan kemaren masih berada dalam tekanan, di tengah berlanjutnya sentimen negatif dari investor global pasca peringatan MSCI terkait resiko Investabilitas pasar saham Indonesia.

Kemaren pukul 09.30 WIB, Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan perdagangan sementara karena IHSG turun 8 persen dalam satu periode perdagangan. Indeks parkir di level 7.654, 66.

Indeks turun 8 persen ke level 7.654, 66. Sebanyak 694 saham turun, 34 naik, dan 230 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 10, 78 Trilyun , melibatkan 12,07 Milyar saham dalam 852.200 kali transaksi.

Dengan demikian sepanjang pekan ini IHSG sudah turun 14,59 persen. Kapitalisasi pasar pun anjlok parah. Sebanyak Rp 2.550 Trilyun menguap dari pasar modal dalam empat hari terakhir. Tercatat kapitalisasi pasar pada perdagangan intraday kemaren sebesar Rp 13. 820 Trilyun.

Aktivis 98 Herianto, SE mengatakan saat ini Indonesia masuk dalam pusaran kepentingan ekonomi global dan sangat diperhitungkan, terutama pasca Trump tinggalkan IMF.

Berdasarkan struktur kuota dan hak suara (voting power) terbaru tahun 2025 – 2026, Amerika Serikat merupakan pemegang posisi sebagai kontributor dan pemegang hak suara terbesar IMF dengan kepemilikan saham diatas 16 – 17 persen, dan memberikan hak Veto, menyusul Jepang, Tiongkok dan Uni Eropa (Jerman, Perancis, Inggris dan Italia) .

Secara kolektif , negara Uni Eropa, Jerman, Perancis, Inggris dan Italia memiliki suara yang sangat kuat saat ini , menyaingi total suara negara lainnya seperti Jepang dan Tiongkok pasca IMF ditinggal Trump.

“Justru kekuatan kolektif Eropa , Jerman , Perancis , Inggris dan Italia inilah sekarang yang paling berkontribusi mempengaruhi kebijakan IMF , pasca ditinggal Trump,” kata Herianto SE, Jumat (30/1/2026) di Medan.

Ketegangan Trump (AS) dan Eropa yang diawali dari keinginan Trump ingin menguasai Greenland justru mendatangkan perlawanan dengan mengirimkan pasukan gabungan Uni Eropa ke wilayah tersebut dan memantik kemarahan Uni Eropa.

Saat Amerika Serikat inisiatif memprakarsai pembentukan Dewan Perdamaian Gaza (Board of Piece) untuk mengakhiri konflik di Gaza dan mengelola masa transisi pasca perang, rekonstruksi dan rehabilitasi, justru penolakan paling keras datang dari kelompok gabungan Uni Eropa.

Indonesia saat ini resmi masuk Dewan Perdamaian Gaza pimpinan Trump yang sudah abaikan IMF.

“Hubungan strategis dan harmonis antara Prabowo – Trump – Putin yang merupakan raksasa ekonomi dunia saat ini , menimbulkan sentimen bagi negara Uni Eropa, tetapi tidak dengan frontal putus hubungan kerjasama ekonomi dengan Indonesia saat ini. Lebih dominan gertakan dari lawan Trump dan Putin,” jelas Herianto.

Ketua RPN Sumatera Utara ini pun menduga Uni Eropa melalui IMF dibalik anjloknya IHSG, melalui peran Goldman Sachs, menurunkan peringkat saham Indonesia ke Underweight (29/1/2026) , akibat resiko Investabilitas yang disorot MSCI, memicu potensi penurunan status ke pasar Frontier.

“Langkah ini memicu kekhawatiran arus keluar dana pasif hingga US$ 7,8 Milyar dan penurunan harian IHSG sebesar 7,35 persen,” Papar Heri .

– Indonesia Tidak Perlu Panik, Tidak Berdampak Langsung Terhadap Ekonomi Rakyat.

Menurut beliau, Presiden Prabowo harus mampu memanfaatkan situasi ini dengan mengendalikan BI dari tangan permainan IMF dengan melakukan kebijakan moneter memparalelkan hubungan BI dan Danantara. Dua raksasa ekonomi dunia saat ini AS dan Rusia tidak akan tinggal diam dalam antisipasi tekanan atas anjloknya IHSG saat ini, dengan tetap mengandalkan kemitraan strategis dengan Indonesia, begitu juga dengan Tiongkok.

“Sudah nggak jamannya lagi bangun opini (trust) yang ada sekarang siapa yang kuasai Sumber daya alam (memiliki kekayaan alam) maka akan jadi penentu (posisi tawar tinggi) dalam membangun kerjasama ekonomi dunia. Dunia saat ini telah berubah , kuasai Sumber daya alam merupakan perang ekonomi , bukan perang dunia ketiga (fisik),” jelasnya.

– Anjloknya IHSG Dorongan Sentimen Teknikal, Arus Modal Keluar, serta Kebijakan MSCI, Bukan Kerusakan Fundamental Makro Ekonomi Domestik Indonesia.

Berdasarkan data terbaru per Januari 2026, meskipun Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) mengalami tekanan berat, bahkan sempat anjlok di atas 7 % – 8 % dan memicu trading halt, fundamen ekonomi Indonesia dinilai masih cukup kuat dan tangguh .

Tekanan pada IHSG saat ini lebih banyak didorong oleh sentimen teknikal, arus modal keluar, serta kebijakan MSCI, bukan disebabkan oleh kerusakan fundamental makro ekonomi domestik.

– Pertumbuhan Ekonomi Stabil , Ekonomi Indonesia pada 2025 tercatat tumbuh solid, dengan pertumbuhan stabil yang didukung oleh konsumsi domestik dan investasi, bertahan di tengah ketidakpastian Global.
– Inflasi Terkendali, inflasi Indonesia terjaga dalam rentang sasaran, dengan inflasi Desember 2025 tercatat relatif terkendali di angka 2,92 % (yoy).
– Investasi Masuk Tinggi , selama 2025, realisasi investasi di Indonesia tetap tinggi, menunjukkan kepercayaan investor jangka panjang masih ada.
– Langkah Bank Indonesia (BI), BI berkomitmen menstabilkan Rupiah dengan langkah – Langkah seperti Intervensi di Pasar Spot dan Domestic Non Deliverale Forwaard (DNDF), serta penyesuaian suku bunga (BI Rate) yang adaptif.
– Sektor Riil Tangguh , sektor pertanian dan konsumsi rumah tangga masih menunjukkan pertumbuhan yang positif, menjadi bantalan ekonomi.

“Votalitas IHSG saat ini adalah momentum perbaikan pasar saham , dan investor disarankan untuk fokus pada saham – saham blue chip yang findamentalnya sehat “dari pada” panik,” tutupnya. (re)