FORUM MEDAN | Perum Bulog Kantor Wilayah Sumatera Utara (Sumut) mencatat telah menyerap sebanyak 10.600 ton gabah kering panen (GKP) dari petani hingga 17 Maret 2026. Dari jumlah tersebut, jika dikonversikan, setara dengan sekitar 5.382 ton beras.
Pemimpin Kantor Wilayah Bulog Sumut, Budi Cahyanto, mengatakan penyerapan gabah tersebut berasal dari sejumlah daerah sentra produksi padi di Sumut, di antaranya Kabupaten Langkat, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Simalungun, dan Batu Bara.
“Penyerapan terbesar sejauh ini berasal dari wilayah Langkat, Deli Serdang, dan Simalungun,” ujar Budi di Medan, Rabu.
Ia menjelaskan, potensi penyerapan gabah ke depan diperkirakan akan meningkat seiring musim panen yang diprediksi bertambah pada April 2026. Sejumlah daerah yang berpotensi menyumbang penyerapan lebih besar antara lain Serdang Bedagai, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Deli Serdang, dan Padang Lawas Utara.
Menurutnya, saat ini penyerapan gabah masih berada dalam skala lokal. Namun, dengan masuknya masa panen raya, jumlah serapan dipastikan akan meningkat signifikan.
Dalam proses pembelian, Bulog menetapkan harga gabah kering panen sebesar Rp6.500 per kilogram, sesuai ketentuan pemerintah. Gabah yang dibeli merupakan gabah yang telah dikemas dalam karung dan siap diangkut ke penggilingan terdekat.
Budi menambahkan, gabah yang diserap tersebut akan dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan masyarakat, seperti program bantuan pangan, Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), serta cadangan beras untuk penanganan bencana alam.
Selain itu, ia juga mengimbau para petani di Sumatera Utara untuk segera melakukan panen ketika padi telah siap, guna mendapatkan hasil yang optimal.
“Saya mengimbau para petani agar memanen padi tepat waktu agar hasilnya maksimal,” katanya.
Untuk tahun 2026, Bulog Sumut menargetkan penyerapan sebanyak 62.718 ton gabah kering panen sebagai upaya menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan di wilayah tersebut. (re)







