1000 Cahaya Muhammadiyah Paparkan Hasil Audit Energi Gedung PP Muhammadiyah

IMG 20260923 WA00521
Keterangan foto: Suasana pemaparan hasil audit energi Gedung PP Muhammadiyah di Ruang Rapat Lantai 2, Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Selasa (22/9/2026). (Foto oleh: Fajar Firmansyah/ @1000cahayamu)

FORUM JAKARTA — “Kalau kita berhemat, manfaatnya ada dua. Di dunia, kita bisa menghemat penggunaan energi. Di akhirat, berhemat juga merupakan bagian dari perintah Al-Qur’an. Karena itu, apa yang kita lakukan hari ini perlu kita tindaklanjuti agar manfaatnya bisa dirasakan bersama.” Pesan tersebut disampaikan Sekretaris PP Muhammadiyah, M. Izzul Muslimin, dalam Presentasi Hasil Audit Energi Gedung PP Muhammadiyah–Kantor Jakarta, Selasa (22/9).

Pertemuan yang berlangsung di Ruang Rapat Lantai 2 Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah ini merupakan pemaparan hasil dari rangkaian proses audit energi yang telah dilaksanakan sejak 2 September 2026. Audit dilakukan untuk melihat penggunaan energi sekaligus menemukan peluang penghematan dan perbaikan pengelolaan energi di lingkungan Gedung PP Muhammadiyah Kantor Jakarta.

Proses audit dilkukan oleh tim 1000 Cahaya yang terdiri dari Sudarto M Abukasim, Alif Jihad Rais, Lilik Yuwono, Surya Fitri, dan Ahmad Farid. Audit mencakup Gedung Pusat Dakwah, Gedung Wisma, dan Masjid At-Tanwir.

Tim melakukan pemeriksaan terhadap sistem kelistrikan, penggunaan pendingin ruangan (AC), pencahayaan, kenyamanan ruang, serta kondisi bangunan. Hasil pemeriksaan kemudian menjadi dasar bagi tim untuk menyampaikan sejumlah rekomendasi yang dapat dilakukan secara bertahap.

Beberapa rekomendasi berkaitan dengan pengaturan penggunaan AC dan lampu, pemeliharaan peralatan secara berkala, penguatan tata kelola energi, serta optimalisasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang tersedia di kompleks gedung.

Wakil Direktur Program 1000 Cahaya Muhammadiyah, Sudarto M. Abu Kasim, menekankan bahwa penghematan energi juga berkaitan dengan kebiasaan sehari-hari.

“Penghematan energi bukan hanya soal angka, tetapi juga soal perilaku. Perubahan perilaku perlu diintervensi melalui aturan yang jelas. Karena itu, hasil audit perlu ditindaklanjuti dengan penetapan penanggung jawab di setiap bagian, penyusunan SOP, pemantauan penggunaan energi, serta aturan bersama mengenai penggunaan AC dan lampu. Semua perlu dibangun secara bertahap. Kita harus mulai dari sekarang, karena kalau tidak dimulai, pola penggunaan energi yang belum efisien akan terus berlangsung,” ujar Sudarto.

Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah, Hening Parlan, menegaskan bahwa audit perlu dilanjutkan dengan tindakan nyata.

“Audit energi tidak boleh berhenti sebagai laporan. Hasilnya harus menjadi dasar perubahan kebijakan dan tindakan nyata, sehingga kita bisa melihat apa yang berubah, apa yang berkurang, dan menunjukkan konsistensi kita dalam mewujudkan gedung yang lebih ramah lingkungan,” tegas Hening.

Hasil audit selanjutnya akan menjadi bahan untuk menyusun prioritas tindak lanjut, mulai dari pembenahan teknis, penguatan tata kelola dan SOP, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga pemantauan penggunaan energi secara berkala.

Langkah ini diharapkan dapat mendorong pengelolaan Gedung PP Muhammadiyah yang lebih efisien dan ramah lingkungan, sekaligus menjadi pembelajaran bagi pengelolaan gedung di lingkungan Muhammadiyah secara lebih luas. (red)