FORUM ACEH TAMIANG | Dengan bertambahnya usia Kabupaten Aceh Tamiang, yang ke 20 tahun, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaen (DPRK) setempat, Suprianto mengharapkan agar pelayanan untuk mendapatakan akses lebih luas bisa diperoleh oleh masyarakat, begitu juga untuk program kesehatan dan pendidikan harus menjadi sekala proritas untuk kedepannya.
“Karena maju mundurnya suatu bangsa dan daerah itu, kedepannya ditentukan oleh pendidikan hari ini. Dan diharapkan program pendidikan yang lebih baik di Aceh Tamiang, bisa menjadi konsen Pemerintah Daerah (Pemda) setempat untuk kedepannya,” ujar Suprianto ditemui Forum Keadilan, diruang kerjanya, kemarin, usia acara HUT Aceh Tamiang ke 20.
Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Partai Grendra itu menambahkan, pendidikan untuk kalangan mahasiswa di Aceh Tamiang, baru satu Fakultas yang berdiri, yakni Fakultas Yayasan Tamiang, sehingga kedepannya diharapkan ada lagi sekolah – sekolah lanjutan dibidang pertanian dan perikanan, seperti Politeknik yang pernah digagas oleh pendahulu bisa diwujudkan kembali dari “mati suri”.
“Politeknik yang khususnya dengan Fakultas Pertanian dan Fakultas Perikanan,” saran Suprianto.
Ditanya apakah masih banyak kekurangan apa yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang?. Suprianto berpendapat, bila ada kekurangan tersebut, tidak terlepas adanya dampak dari waban Covid – 19 melanda nasional selama tiga tahun belakangan ini, sehingga transfer anggaran dari Pemerintah Pusat (Jakarta) untuk daerah menjadi berkurang.
“Sudah berkurangnya anggaran untuk inprastruktur, anggran yang ada lebih diproritaskan untuk ekonomi dan kesehatan masyarakat, istilahnya jaringan sosial lah. Nah, jadi kekurangan itu, yang bisa mengakibatkan pembangunan inprastruktur yang diidam – idamkan oleh masyarakat belum bisa menyulur dibangun, karena dampak covid tersebut,” ungkapnya.
Selain itu, kekurangan lainnya, lanjut Suprianto, sama – sama kedepannya diharapkan jangan sampai adanya terjadi banjir. Bila ada banjir, tanggul – tanggul dibataran sungai Aceh Tamiang, khususnya di Kecamatan Bendahara itu, jangan sempat meluap airnya. Karena bila banjir, luapan air tersebut sampai ke sawah – sawah, tentu bisa mengakibatkan gagal panen.
“Ini kan dikeluhkan oleh masyarakat. Seolah – olah kita (pemerintah), khususnya Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh, kurang respon masalah ini. Nah ini sama – sama kita harapkan eksekutif dan legislatif Aceh Tamiang, untuk mendorong Pemrov Aceh, agar bisa membatu anggaran untuk memperbaiki tanggul – tanggul bantaran sungai yang rusak maupun sudah jebol di Aceh Tamiang. Itu yang proritas juga saya rasa,” ujarnya.
Sedangkan yang sudah bagus selama 20 tahun Aceh Tamiang berdiri, sambung Suprianto, bahwa keterlibatan masyarakat untuk keperdulian sosial terhadap sesama sangat luar biasa, sehingga dengan adanya nilai – nilai kebaikan tersebut, akan menjadikan contoh yang baik terhadap masyarakat lainnya.
“Untuk Pemerintah Daerah (Pemda) Aceh Tamiang, salah satu upaya yang dianggap telah bagus dilakukan, yakni dalam konteks beribadah (Syariat Islam) telah berjalan bagus, seperti adanya kegiatan safari ramadhan, sholat magrib dan sholat subuh keliling (berkunjung) dikampung – kampung, kemudian setiap hari kamis ada digelar zikir dan doa, semua itu telah diimplentasikan oleh pemerintah daerah dalam pelaksanaan Syariat Islam,” jelas Suprianto menghakhiri. (Sutrisno)









