OPINI  

Rusaknya Jalan Umum Helvetia Bak Kubangan Kerbau

Oleh: Rismayana (Aktivis Muslimah)

lt5a954d70cd9dd

Kondisi jalan besar Helvetia Pasar 9, Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang kian hari semakin parah kerusakannya. Jalan yang menghubungkan antara Kabupaten Deli Serdang dan Kota Madya Medan ini belum ada tanda-tanda perbaikan dari pejabat daerah setempat. Padahal kerusakan jalan ini sudah sering diviralkan oleh beberapa akun media sosial.

Kerusakan parah di kawasan Jalan Veteran Pasar 9, Desa Manunggal Kecamatan Labuhan Deli, perbatasan (Kota Medan dan Deli Serdang) yang berlubang, licin dan selalu tergenang air saat hujan, sudah banyak dikeluhkan warga dan masyarakat pengguna jalan tersebut. Karena kondisi jalan tersebut sangat membahayakan keselamatan para pengguna kendaraan yang melintasi jalan tersebut.

Dengan kondisi jalan yang dipenuhi lubang dan genangan lumpur hal ini membuat pengendara saat melintas harus ekstra hati-hati. Selain menghambat aktivitas warga, keadaan jalan yang rusak parah ini juga meningkatkan risiko kecelakaan, terutama saat hujan ketika lubang tertutup air dan sulit terlihat. Ini adalah kondisi yang sangat membahayakan para pengguna jalan.

Seringnya terjadi kecelakaan saat melintasi jalan yang rusak parah ini, dibenarkan oleh salah satu warga setempat. Paiman salah satu warga Jalan Veteran Pasar 9 mengatakan akibat rusak parahnya Jalan Veteran Pasar 9, sudah banyak pengendara saat melintas di jalan tersebut menjadi korban. Mereka terjatuh karena tidak melihat ada lubang yang tertutup akibat tergenang air. Bahkan ada korban yang meninggal dunia akibat terjatuh, ujar Paiman. (Detiksumut, 3/6/2026).

Kondisi jalan Pasar 9 Helvetia di Kecamatan Labuhan Deli yang rusak parah hingga menyerupai kubangan lumpur kerbau, ini menunjukkan masih lemahnya perhatian pemimpin di era sistem kapitalis terhadap pembangunan infrastruktur (jalan) dasar yang setiap hari digunakan masyarakat. Sebagai infrastruktur dasar jalan bukan hanya sekadar sebagai sarana transportasi belaka. Tetapi juga sebagai urat nadi aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan juga bagian dari mobilitas warga Deli Serdang, Marelan, dan juga Belawan.

Seperti saat ini kondisi jalan yang semakin rusak parah, dan lama dibiarkan rusak tentu ini akan menganggu jalannya aktivitas perekonomian masyarakat, seperti terlambatnya penguna jalan sampai pada tujuannya. Belum lagi risiko kecelakaan akibat menghindari jalan yang berlubang akibat tergenang lumpur dan air. Tentu dalam hal ini masyarakatlah yang harus menanggung risiko.

Sudah sering dikeluhkan dan dilaporkan, tetapi tetap dibiarkan. Inilah keluhan warga setiap kali melintas di Jalan Veteran Pasar 9 Helvetia. Sehingga untuk mencari kenyamanan dan keamanan dalam berkendara akhirnya warga sekitar mencari solusi dengan menggalang dana dan mengunakan tenaganya bergotong royong untuk menimbun lubang yang berlumpur.

Inilah yang terjadi dalam sistem kapitalis, pembiaran kerusakan jalan seakan hal yang lumrah, tanpa ada perhatian dan penanganan yang serius dari pejabat yang berwenang. Padahal persoalan infrastruktur (jalan yang rusak) adalah bagian dari periayahan negara, karena jalan merupakan bagian dari fasilitas umum. Seharusnya negara memastikan kelayakan fasilitas umum selalu layak digunakan sebelum kerusakan semakin parah. Namun hari ini perbaikan akan dilakukan setelah kondisinya viral atau menimbulkan korban.

Lagi-lagi inilah kerusakan yang terjadi pada hasil dari sistem kapitalis, lambatnya pembangunan infrastruktur sering terkendala dengan birokrasi yang panjang, sehingga anggaran dana yang dikeluarkan akan lambat dicairkan. Inilah yang terus terjadi dengan penerapan sistem kapitalis, infrastruktur bukan dijadikan kebutuhan yang mendesak bagi masyarakat. Padahal salah satu sebab berputarnya roda perekonomian adalah dengan baiknya fasilitas berupa infrastruktur.

Berbeda dengan Islam, dalam pandangan Islam negara merupakan pengurus urusan rakyat yang wajib menjamin kemaslahatan rakyatnya. Termasuk menyediakan jalan yang aman dan memadai. Karena dalam Islam pemimpin tidak hanya bertanggung jawab terhadap urusan politik dan keamanan, tetapi juga seluruh kebutuhan umum yang mempengaruhi kehidupan masyarakat sehari-hari dan juga untuk seluruh makhluk ciptaan Allah SWT.

Sejatinya pemimpin dalam Islam harus bertanggung jawab dan meriayah segala urusan umat dan makhluk yang ada di muka buminya Allah, dan semuanya akan dimintai tanggung jawab. Seperti hadist Rasullullah SAW yang berbunyi, “Kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpin. (HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, Islam memandang pembangunan dan pemeliharaan jalan sebagai bagian dari pelayanan negara kepada rakyat, bukan sekedar proyek pembangunan. Negara wajib memastikan akses transportasi berjalan, aman dan tidak membahayakan pengguna jalan. Sebagaimana dahulu pernah terjadi di masa kejayaan Islam, di bawah kepemimpinan Khalifah Umar Bin Khattab.

Khalifah Umar berkata, “Jika saja ada seekor keledai terperosok ke sungai di Kota Baghdad, maka akan ada hisab dan akan ada pertanggung jawaban, mengapa engkau tidak meratakan jalan tersebut. Padahal beliau itu tinggal nan jauh di Kota Madinah, yang jaraknya ribuan mil. Tetapi beliau masih sempat memikirkan umatnya yang jauh. Dengan keterbatasan komunikasi dan transportasi.

Inilah indahnya hidup dalam kepemimpinan Islam, pengelolaan anggaran dalam Islam diarahkan untuk memenuhi kebutuhan rakyat secara optimal. Sehingga fasilitas publik tidak menunggu rusak parah atau diviralkan terlebih dahulu baru diperbaiki. Dalam Islam, pengelolaan bersifat amanah dan berorientasi pada pelayanan. Sehingga pelayanan insfratruktur dapat benar-benar menjadi sarana kemaslahatan, bukan sumber kesulitan bagi masyarakat.

Wallahu a’lam bish-shawab

Penulis adalah Rismayana (Aktivis Muslimah)