Bentrok Warga dan Karyawan PT Bridgestone di Sergai Berujung Anarkis, 28 Kendaraan Dibakar

1000184103

FORUM SERDANG BEDAGAI | Bentrokan antara puluhan warga yang mengatasnamakan Kerajaan Nagur Bolak dengan karyawan PT Bridgestone di Dusun VII, Desa Tinokkah, Kecamatan Sipispis, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Kamis (25/6/2026), berujung ricuh dan mencekam. Sedikitnya 27 unit sepeda motor dan satu unit truk Fuso hangus dibakar dalam insiden tersebut.

Kericuhan terjadi saat massa melakukan aksi yang mereka sebut sebagai pengembalian lahan seluas sekitar 7.000 hektare yang diklaim sebagai tanah milik Kerajaan Nagur Bolak. Situasi yang awalnya berupa aksi massa berubah menjadi bentrokan hingga berujung tindakan anarkis.

Selain membakar puluhan kendaraan, beberapa warga dilaporkan mengalami luka tembak dan telah dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.

Kepala Desa Tinokkah, Rio Damanik, mengatakan sengketa lahan di kawasan tersebut telah berlangsung cukup lama. Namun, aksi terakhir yang dilakukan massa menjadi yang paling serius karena berujung pada kerusuhan besar.

“Konflik ini sebenarnya sudah berlangsung sejak tahun 1998, ketika lahan tersebut masih berstatus Hak Guna Usaha (HGU) yang dikelola Goodyear. Setelah beralih ke PT Bridgestone, setahu saya masa HGU berakhir sekitar tahun 2022 atau 2023,” ujar Rio kepada wartawan.

Menurut Rio, setelah berakhirnya HGU, muncul berbagai kelompok yang mengklaim kepemilikan atas lahan tersebut. Salah satunya kelompok Sorbajahe Nagatongah Sihora Hora (SNS) yang menggarap sekitar 400 hektare lahan. Hingga kini, persoalan tersebut belum menemukan penyelesaian, bahkan di lokasi sudah terdapat tanaman dan rumah permanen.

Selain itu, muncul pula kelompok yang mengatasnamakan Tanah Ulayat dan mengklaim sekitar 200 hektare lahan sebagai milik mereka. Lahan tersebut hingga kini juga masih dimanfaatkan untuk aktivitas pertanian.

“Sedangkan bentrok terakhir ini melibatkan kelompok yang mengatasnamakan Kerajaan Nagur Bolak yang mengklaim seluruh kawasan seluas 7.000 hektare. Aksi mereka kemudian berujung ricuh hingga terjadi pembakaran kendaraan,” jelas Rio.

Rio menambahkan, tidak seluruh peserta aksi merupakan warga Desa Tinokkah. Meski Kerajaan Nagur Bolak berada di wilayah Desa Tinokkah, sebagian besar massa yang terlibat dalam bentrokan berasal dari luar desa.

Ia juga menjelaskan bahwa lokasi lahan yang menjadi objek sengketa berada di wilayah Desa Nagur Pane dan Desa Parlambean.

Sementara itu, aksi massa tersebut mendapat pengamanan dari personel Kepolisian Resor Tebing Tinggi. Hingga berita ini diturunkan, pihak Polres Tebing Tinggi belum memberikan keterangan resmi terkait kronologi bentrokan, jumlah korban, maupun langkah hukum yang akan diambil pasca kerusuhan tersebut.

Peristiwa ini menambah panjang daftar konflik agraria di kawasan tersebut yang hingga kini belum memperoleh penyelesaian secara menyeluruh. Warga berharap pemerintah bersama pihak terkait segera mengambil langkah penyelesaian agar sengketa lahan tidak kembali memicu bentrokan serupa di kemudian hari. (heri)