FORUM JAYAPURA – Universitas Muhammadiyah Papua (UM Papua) menggelar kuliah umum bersama Wakil Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Adriaan Palm, di Aula UM Papua, Rabu (23/9/2026). Kuliah umum mengangkat tema “Indonesia, the Netherlands and the EU: Stable, Predictable and Reliable Relationships in Turbulent Times” dan berlangsung interaktif melalui dialog dengan mahasiswa.
Kuliah umum tersebut turut dihadiri Rektor UM Papua Dr. Rustamadji, Wakil Rektor II Dr. Ir. Muhammad Nur Jaya, beserta jajaran dosen dan mahasiswa UM Papua.
Dalam kesempatan itu, Adriaan mengajak mahasiswa memahami perubahan dunia yang berlangsung cepat, termasuk dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari. Ia meminta mahasiswa tidak menerima informasi begitu saja, melainkan membangun kemampuan berpikir kritis dan memeriksa kebenarannya.
“Adik-adik juga bisa memberikan feedback seperti pertanyaan kritis dan tidak menerima semua yang orang bilang, tapi bertanya kenapa dan cek apakah itu benar atau tidak,” kata Adriaan melalui penerjemah.

Ia menilai kemampuan berpikir kritis penting di tengah perkembangan media sosial dan arus informasi yang semakin cepat, agar mahasiswa mampu melihat fakta dan memahami persoalan dari berbagai sudut pandang.
Selain soal literasi kritis, Adriaan turut membahas hubungan Indonesia dan Belanda serta peluang kerja sama di bidang politik, ekonomi, pendidikan, kebudayaan, lingkungan, dan pengembangan sumber daya manusia. Menurutnya, kerja sama antarnegara membutuhkan hubungan yang setara dan kepercayaan yang dibangun dalam jangka panjang.
Ia menambahkan, kunjungannya ke Papua juga bertujuan mendengar langsung aspirasi masyarakat dan melihat peluang kerja sama yang dapat dikembangkan. “Saya datang ke sini untuk melihat dengan mata saya sendiri, mendengar dengan telinga saya sendiri kemungkinan-kemungkinan kerja sama dan ke mana masyarakat Papua sendiri ingin pergi,” katanya.
UM Papua Buka Ruang Kerja Sama
Menanggapi kunjungan tersebut, Wakil Rektor I UM Papua, Dr. Indah Sulistiani, mengatakan kedatangan Adriaan Palm menjadi momentum membangun jejaring kerja sama bagi pengembangan mahasiswa, serta menyebut UM Papua menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Papua.
Indah menjelaskan, UM Papua yang sebelumnya berstatus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi sejak 2001 resmi beralih status menjadi universitas pada 2020. Saat ini UM Papua memiliki enam program studi dan satu program studi magister.
Ia mengatakan UM Papua terbuka bagi siapa saja yang ingin memperoleh pendidikan sekaligus bersama-sama meningkatkan kualitas SDM di Papua. “Jadi, di perguruan tinggi Muhammadiyah, kami sangat membuka ruang untuk siapa saja bergabung dalam upaya memajukan kualitas sumber daya manusia di Papua,” katanya.
Menurut Indah, peluang kerja sama dengan Belanda dapat dikembangkan di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga praktik dan magang mahasiswa. “Banyak hal yang kami harapkan berkaitan dengan kedatangan Wakil Duta Besar, di banyak bidang, tadi ada bidang pendidikan, bidang penelitian, bidang pengabdian, maupun sebagai pelaksanaan praktek atau magang,” ucapnya.
Ia berharap komunikasi tersebut dapat ditindaklanjuti menjadi kerja sama nyata yang sesuai dengan kebutuhan Papua, serta berharap ke depan kerja sama antara UM Papua dan Kedutaan Besar Belanda di Indonesia dapat semakin meningkat dan terimplementasi dalam kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan konteks Papua. (re)







