Oleh: Hustina Halimah Putri HS (Mahasiswi Universitas Terbuka)
Marhaban ya Ramadhan. Selamat datang di bulan Ramadhan. Tak terasa, bulan Ramadhan kembali hadir menyapa kita. Saat ini kita memasuki bulan suci Ramadhan 1443 H. Ramadhan adalah bulan yang spesial. Bulan yang mewajibkan kita untuk berpuasa selama sebulan penuh, yang dapat membimbing kita untuk meraih predikat hamba yang bertakwa. Ramadhan adalah bulan yang bertabur dengan pahala yang berlipat ganda. Bulan pengampunan atas dosa-dosa. Bulan yang didalamnya pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.
Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan lagi istimewa. Kita sebagai kaum muslim mestinya menyambut ramadhan dengan cara cara istimewa pula. Kali ini, momentum bulan ramadhan dimeriahkan dengan berbagai macam cara yang penuh suka cita. Tarhib ramadhan dilakukan umat muslim dalam menyambut bulan ramadhan yang penuh kemulian dengan berbagai kegiatan. Semarak ramadhan tampak dari penyelenggaran tarhib ramadhan di beberapa kota yang ada di Indonesia setelah terhalang kondisi pandemi.
Cara penyambutan bulan ramadhan pun berbeda beda, ada yang i’tikaf dimesjid sembari mendengar ceramah, melantunkan ayat suci al-qur’an, ada pula pulahan umat muslim melakukan konvoi bersama mengelilingi kota masing masing. Dengan melibatkan anak-anak, para remaja, dan orang tua dengan menumpangi kendaraan gandeng (odong-odong), sepada motor dan mobil. Inilah bukti dari rasa bahagia dan syukur kaum muslim ketika dapat menyambut bulan suci ramadhan kembali.
Momentum bulan suci ramadhan seharusnya membuat kita memiliki kesadaran untuk menjadi individu dan masyarakat yang bertakwa. Menghantarkan diri kita benar-benar meraih takwa yang hakiki. Bukan sekedar bersemangat meraih predikat hamba bertakwa dibulan suci ramadhan saja. Tapi,saat ini kita tak merasakan sebenarnya takwa dalam segala aspek kehidupan dikarenakan sistem kapitalis sekuler, yang menghilangkan peran Allah dalam mengatur kehidupan.
Sistem kapitalis sekuler melahirkan aturan buatan manusia bukan bersumber dari sang pencipta. Kehidupan ala barat menjadi identitas baru kaum muslim. Dalam keadaan ini, wajar jika ramadhan hanya menahan lapar dan haus selama satu bulan, sementara waktu siang hari digunakan untuk bermalasan dan tidur serta aktivitas kedunian semata.
Kaum muslim mestinya menyongsong bulan ramadhan dengan bersama-sama beramal shalih, penuh ketaatan dan ketundukan, bergerak bersama berjuang menegakkan syariat islam secara kaffah. Sebab saat ini kita sebagai umat muslim bila dikatakan bertakwa maka wajib untuk tunduk dengan segala sesuatu yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW yaitu syariat islam. Itulah buah dari konsekuensi keimanan seseorang kepada Rabbnya.
Maka dari itu sudah saatnya umat muslim mengembalikan kewibawaan ramadhan. Umat perlu memprioritaskan kembali untuk meraih ridho Allah SWT dari setiap aktivitas. Hal ini hanya dapat dilakukan dengan mengembalikan hukum Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Akan terasa keberkahan ramadhan jika kaum muslim sudah terikat dengan aturan Allah SWT secara totalitas dalam naungan Daulah Islamiyyah.Wallahu’alam bishwawab.







