Muslim Suku Hui di China: Berpuasa, Berzakat, Lalu Lebaran sebagai Ruang Iman dan Identitas

Untitled 1 29

FORUM CHINA | Di tengah luasnya wilayah China, ada satu komunitas Muslim yang telah lama hidup dan berakar kuat: suku Hui. Meski tak banyak dikenal di Indonesia, etnis ini menjadi salah satu wajah penting Islam di negeri Tirai Bambu.

Suku Hui tersebar di berbagai wilayah seperti Ningxia, Gansu, Qinghai, Yunnan, hingga Hainan. Di antara wilayah tersebut, Ningxia bahkan ditetapkan sebagai daerah otonom bagi etnis Hui, menandakan kuatnya keberadaan mereka dalam sejarah dan kehidupan sosial di China.

Sejarah Hui bukanlah kisah singkat. Komunitas ini lahir dari percampuran panjang antara etnis Han dengan para pedagang Muslim dari Arab dan Persia yang datang sejak masa Dinasti Tang. Sebagian dari mereka menempuh Jalur Sutra dan menetap di Chang’an, sementara lainnya datang melalui jalur laut dan tinggal di wilayah pesisir seperti Fujian. Dari interaksi lintas budaya inilah, identitas Hui perlahan terbentuk.

Secara fisik, orang Hui hampir tak berbeda dengan etnis Han. Namun, identitas mereka terletak pada keyakinan dan cara hidup. Mereka memeluk Islam, menjalankan syariat, sekaligus menyatu dengan budaya lokal China. Perpaduan ini melahirkan tradisi keagamaan yang khas—Islam yang tumbuh dalam balutan budaya China.

Salah satu momen paling penting bagi komunitas Hui adalah Idulfitri. Hari raya ini menandai berakhirnya Ramadan, bulan penuh ibadah, pengendalian diri, dan penguatan hubungan sosial.

BACA JUGA: Lebaran Muslim China: Masjid Penuh, Sedekah Mengalir, Tradisi Tetap Dijaga

Pagi Idulfitri dimulai dengan salat berjemaah di masjid atau lapangan terbuka. Setelah itu, suasana berubah menjadi lebih hangat dan akrab. Zakat fitrah dibagikan kepada mereka yang membutuhkan, memastikan bahwa kebahagiaan hari raya dapat dirasakan bersama.

Tradisi silaturahmi pun menjadi bagian tak terpisahkan. Rumah-rumah dipenuhi kunjungan keluarga dan kerabat. Ucapan selamat mengalir dari satu pintu ke pintu lain, mempererat hubungan yang telah terjalin.

Di meja makan, suasana Lebaran semakin terasa. Hidangan khas seperti daging domba, daging sapi, aneka roti, hingga makanan manis dan pastri tersaji sebagai simbol kebersamaan. Di sejumlah kota, perayaan juga meluas ke ruang publik melalui pertunjukan budaya, pasar rakyat, dan pertemuan komunitas.

Bagi suku Hui, Idulfitri bukan sekadar ritual keagamaan. Ia adalah cara menjaga hubungan keluarga, memperkuat solidaritas, sekaligus meneguhkan identitas sebagai Muslim di tengah masyarakat yang mayoritas bukan Islam.

Dari masjid, rumah, hingga ruang-ruang publik, tradisi itu terus hidup—diturunkan dari generasi ke generasi. Dalam kesederhanaannya, Lebaran orang Hui menunjukkan satu hal yang kuat: bahwa Islam di China bukanlah sesuatu yang baru, melainkan bagian dari sejarah panjang yang terus dirawat dengan penuh kesadaran dan keteguhan. (red/voi)