FORUM ACEH TAMIANG | Di antara lumpur yang mengering dan kayu-kayu gelondongan yang mengubur masa lalu, satu kalimat sederhana menjadi penguat jiwa: kalian tidak sendirian.
Kalimat itu bukan sekadar ucapan, melainkan janji kemanusiaan yang dibawa Komunitas Da’i Melayu Sumatera Utara saat menyapa korban banjir bandang di Kampung Sekumur, Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang. Kunjungan ini dilakukan sebelum mereka menggelar agenda besar Pelatihan Da’i Melayu Sumut sekaligus Camp Dakwah Jilid II di Sibolangit.
Perjalanan selama tiga jam menyeberangi medan sulit tak menyurutkan langkah rombongan. Senyum mereka merekah saat tiba, meski sesekali mata tak kuasa menahan air mata melihat kenyataan pahit yang tersaji di depan mata.

Kampung Sekumur nyaris lenyap. Banjir bandang menyapu habis pemukiman warga, menyisakan tumpukan kayu setinggi hingga 10 meter. Dari reruntuhan itu, hanya sebuah masjid dan satu bangunan rumah yang masih berdiri kokoh—seolah menjadi saksi iman yang tak runtuh diterjang bencana.
“Beberapa tahun lalu saya pernah diundang menyampaikan tausiah Maulid di kampung ini. Sekarang, kampung itu tak lagi seperti dulu,” ungkap Ustadz Bukhari Al Hafidz, Ketua Komunitas Da’i Melayu Sumut, dengan suara bergetar.
Ustadz yang akrab disapa Ust Gondrong itu tampak larut bersama anak-anak kampung. Bukan hanya sembako dan bantuan logistik yang dibawa, tetapi juga perhatian pada luka yang tak terlihat: trauma di hati anak-anak.

Tawa pun pecah di antara mereka. Permainan sederhana dan jajanan kecil menjadi obat sementara bagi ketakutan yang masih membekas. Bagi para dai, menjaga mental anak-anak agar tak terjebak trauma adalah bagian dari dakwah kemanusiaan yang tak kalah penting.
“Kami bahagia bercampur sedih,” ujar Ust Bukhari. “Melihat senyum mereka, tapi juga menyadari betapa berat cobaan yang dilalui,” tambahnya.
Di tengah keterbatasan, ketulusan warga justru menyentuh lebih dalam. Meski sedang berduka, mereka masih menawarkan makan siang kepada rombongan dai. Sebuah jamuan sederhana yang lahir dari keikhlasan.
Momen itulah yang membuat Ustadz Khairul Imam, Ketua Panitia Pelaksana Pelatihan Da’i Melayu, tak kuasa menahan air mata.
Di Kampung Sekumur, dakwah tak disampaikan dari mimbar megah. Ia hadir lewat genggaman tangan, doa yang lirih, tawa anak-anak, dan keyakinan bahwa Allah tak pernah meninggalkan hamba-Nya.
Di antara puing dan lumpur, harapan kembali ditanam. Karena bagi mereka, iman adalah bangunan yang paling kokoh—bahkan ketika segalanya runtuh. (re)







