Tekanan di Balik Pengakuan Atlet Pencak Silat: “Sumpah Mak, Bukan Azi yang Ngambil Kereta. Daripada Mati, Azi Iyakanlah”

Kuasa Hukum Dr. M. Sa’i Rangkuti Desak Penanganan Medis Segera dan Proses Hukum Objektif untuk Azizan

d91daccd 6bba 41da 99b4 7967056a6bbb
Kedua orangtua M. Azizan berada memperlihatkan sertfikat penghargaan anaknya yang merupakan atlet pencak silat nasional dan pernah membawa nama Indonesia di pertandingan internasional di Netherland, Belanda, Sabtu pagi 14 Februari 2026. (Foto: Zas/Dil).

FORUM MEDAN | Dengan mata berkaca-kaca dan suara yang berulang kali terputus, seorang ibu menirukan pengakuan jujur dari putranya, M. Azizan alias Azi. “Sumpah, demi Mak. Bukan Azi yang ngambil kereta. Bukan Azi.”

Kalimat itu, menurut sang ibu, diucapkan Azizan saat ia menjenguknya di Polsek Medan Area, Sabtu siang (14/2/2026). Di hadapannya, anak yang selama ini dikenal sebagai atlet pencak silat yang dikenal sopan itu disebut tak lagi berdiri tegap seperti biasa.

Didampingi kuasa hukum, Dr. M. Sa’i Rangkuti, S.H., M.H., serta ayah Azizan, keluarga mengungkap dugaan adanya tekanan dalam proses pemeriksaan terkait tuduhan pencurian sepeda motor yang menjeratnya.

Sang ibu mengaku, putranya terpaksa menyetujui tuduhan tersebut karena tak tahan menghadapi situasi yang dialaminya.

“Tapi Azi disiksa, Mak. Dipukul, ditampar-tampar. Jadi Azi ngaku, nggak tahan. Dibekap mukanya. Jadi Azi nggak sanggup lagi. Azi iyakanlah sama polisi itu, daripada Azi mati,” ucapnya, menirukan cerita anaknya dengan suara bergetar.

3986ed84 bea3 424d a475 b68c11bf9122
Didampingi kuasa hukum Dr. M. Sa’i Rangkuti, S.H., M.H (pakai Kaca Mata Hitam), kedua orangtua M. Azizan berada di depan Bidpropam Polda Sumut untuk membuat laporan atas dugaan tindakan kekerasan dan penembakan terhadap anaknya yang merupakan atlet pencak silat, Sabtu pagi 14 Februari 2026. (Foto: Zas/Dil).

Bagi seorang ibu, tak ada yang lebih menyakitkan selain mendengar anaknya mengaku menyerah demi bertahan hidup.

Usai pertemuan itu, kedua orang tua Azizan menunjukkan hasil rontgen kaki yang menurut mereka memperlihatkan dugaan retak atau patah tulang. Mereka juga menyebut adanya dugaan lebam di bagian dada dan punggung. Kondisi tersebut membuat Azizan disebut masih kesulitan berjalan.

“Kakinya nggak bisa jalan normal, jalan pun pincang-pincang. Jadi Azi masih sakit,” ujar sang ibu.

Di sela tangisnya, ia kembali menegaskan bahwa anaknya membantah tuduhan tersebut. Menurutnya, pengakuan dalam pemeriksaan terjadi karena tekanan.

“Kata Azi dipaksa suruh ngaku. Jadi Azi ngakulah karena udah nggak tahan.”

BACA JUGA: Tangis Ibu Atlet Nasional di Polda Sumatera Utara, Dugaan Salah Tangkap dan Kekerasan di Polsek Medan Area Guncang Hati Keluarga

Kekhawatiran terbesar sang ibu kini bukan hanya soal proses hukum, tetapi masa depan anaknya. Azizan dikenal sebagai atlet nasional seni pencak silat yang pernah mewakili Indonesia dalam ajang internasional di bawah naungan Prabowo Subianto selaku Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI).

“Setelah lihat foto ini, saya makin yakin anak saya disiksa. Ini sampai patah tulangnya. Gimana nanti dia? Jadi cacat lah anak saya,” ucapnya lirih.

Kuasa hukum Azizan, Dr. M. Sa’i Rangkuti, menegaskan pihaknya akan menempuh langkah hukum sesuai ketentuan yang berlaku apabila dugaan tersebut dapat dibuktikan secara fakta. Ia juga menilai kondisi kliennya membutuhkan penanganan medis segera agar tidak menimbulkan dampak permanen.

“Kondisinya belum membaik. Kelihatannya perlu segera dibantarkan untuk mendapatkan tindakan medis agar tidak menimbulkan dampak permanen,” katanya.

4e1af51e 4d56 4fde a91b 4537e9a13580

Didampingi kuasa hukum Dr. M. Sa’i Rangkuti, S.H., M.H (pakai Kaca Mata Hitam) dan suaminya, Ibu M. Azizan menangis histeris usai membuat laporan dugaan salah tangkap, kekerasan dan penembakan di Kantor Bidpropam Polda Sumatera Utara, Sabtu pagi 14 Februari 2026. (Foto: Zas/Dil).

Menurutnya, langkah hukum yang ditempuh merupakan bagian dari komitmen terhadap prinsip negara hukum. Pihaknya juga telah membuat pengaduan resmi ke Polda Sumatera Utara melalui Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam), dengan laporan terdaftar pada 14 Februari 2026.

Sementara itu, Kapolsek Medan Area AKP M. Ainul Yaqin saat dikonfirmasi menyatakan proses penyelidikan telah dilakukan sesuai prosedur. Ia juga membantah tudingan penutupan mata maupun perlakuan lain sebagaimana yang disampaikan pihak keluarga.

Bagi masyarakat sekitar kawasan Jalan Pendidikan, Pasar 3 Tembung, Percut Sei Tuan,, Azi lebih dikenal sebagai atlet berprestasi dari perguruan silat Naga Merah. Sejak remaja, ia menekuni pencak silat dengan disiplin tinggi. Sejumlah kejuaraan telah diikutinya dan berbagai prestasi berhasil diraih. Namun, bagi warga, yang paling membekas bukan sekadar medali atau piagam, melainkan sikap dan kepribadiannya.

“Anaknya sopan. Setahu kami baik. Dia ngajar-ngajar silat untuk anak-anak,” ujar seorang tetangga.

Keseharian Azi diisi dengan melatih pencak silat di kalangan anak anak beberapa tempat. Ia mengajarkan teknik dasar bela diri, kedisiplinan, serta pentingnya menghormati orang tua dan sesama. Di mata para orang tua, kehadiran Azi menjadi contoh positif bagi generasi muda agar menjauhi pergaulan negatif dan lebih fokus pada kegiatan olahraga.

2283d33c 67bd 4444 8e82 91e1735d9d70
Didampingi kuasa hukum Dr. M. Sa’i Rangkuti, S.H., M.H (pakai Kaca Mata Hitam), kedua orangtua M. Azizan memperlihatkan hasil rontgen yang memerlihatkan patah tulang pada kaki anaknya akibat kekerasan yang diduga dilakukan aparat Polsek Medan Area, Sabtu pagi 14 Februari 2026. (Foto: Zas/Dil).

Tak hanya aktif sebagai pelatih, warga juga menyebut Azi dikenal ringan tangan membantu kegiatan lingkungan. Ia kerap menyapa tetangga dengan ramah dan menunjukkan sikap santun kepada orang yang lebih tua. Selama tinggal di lingkungan tersebut, ia dinilai tidak pernah terlibat persoalan yang meresahkan masyarakat.

Di mata anak-anak didiknya, Azi bukan hanya pelatih, melainkan juga kakak sekaligus panutan. Ia menanamkan bahwa pencak silat bukan semata tentang kekuatan fisik, tetapi juga pengendalian diri dan budi pekerti.

Seiring persoalan yang kini bergulir, dukungan warga mengalir kepada keluarga untuk menempuh jalur hukum demi mencari kejelasan. Mereka berharap proses hukum berjalan objektif dan adil, dengan tetap mempertimbangkan rekam jejak serta karakter yang selama ini dikenal baik di tengah masyarakat. (Zas/Dil)