DAERAH  

Panen Padi Biofortifikasi di Sergai: Dari Sawah untuk Perangi Stunting dan Perkuat Ketahanan Pangan

IMG 20260813 WA0147

FORUM SERDANG BEDAGAI — Upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kualitas gizi masyarakat mulai dikembangkan melalui budidaya padi biofortifikasi di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai).

Hal itu terlihat dalam kegiatan panen padi biofortifikasi di Dusun Kelapa, Desa Melati 2, Kecamatan Perbaungan, Kamis (13/8/2026). Kegiatan tersebut diikuti sekitar 120 peserta yang terdiri atas petani dari sembilan kelompok tani (poktan), tiga Kelompok Wanita Tani (KWT), Dinas Pertanian Sergai, Katimker Sergai, BPP Sijonam, BPP Sei Rejo, para penyuluh pertanian lapangan (PPL), Fakultas Pertanian UISU, DPW Perhiptani Sumut, pengurus koperasi Kecamatan Perbaungan, serta perwakilan SPPG Kecamatan Perbaungan dan SPPG Tuntungan.

Panen dilakukan secara simbolis bersama para peserta. Dalam kegiatan tersebut, HarvestPlus Solutions juga menginisiasi upaya menghubungkan petani padi biofortifikasi dengan koperasi. Skema ini diarahkan agar beras hasil panen petani dapat disalurkan ke SPPG untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) sekaligus membantu upaya pengentasan stunting.

Sekretaris Dinas Pertanian Sergai yang mewakili Kepala Dinas Pertanian mengapresiasi kegiatan tersebut. Pemerintah daerah berharap semakin banyak petani tertarik membudidayakan padi biofortifikasi karena selain memiliki manfaat gizi, varietas tersebut juga berpotensi memberikan hasil produksi yang tinggi.

IMG 20260813 WA0148

Sulaiman, SP, yang turut membimbing petani dalam budidaya padi biofortifikasi, mengatakan minat petani terhadap varietas tersebut cukup tinggi. Namun, ketersediaan benih saat ini belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan petani.

Padi biofortifikasi merupakan padi yang dikembangkan untuk menghasilkan beras dengan kandungan zat gizi mikro lebih tinggi, seperti zinc atau zat besi. Peningkatan kandungan gizi dilakukan sejak tanaman tumbuh melalui proses pemuliaan tanaman.

Salah satu varietas yang dikembangkan di Indonesia adalah Inpari IR Nutri Zinc yang dilepas Kementerian Pertanian. Pengembangan padi biofortifikasi diharapkan dapat membantu meningkatkan asupan gizi masyarakat, menekan risiko kekurangan zat gizi mikro, serta mendukung upaya pencegahan stunting dan anemia.

Menurut Sulaiman, pengembangan padi biofortifikasi dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, antara lain pemuliaan tanaman secara konvensional melalui persilangan tetua padi, pemanfaatan bioteknologi, serta pengembangan galur baru yang memiliki ketahanan terhadap hama dan penyakit sekaligus produktivitas tinggi.

Ia berharap pemerintah, khususnya Dinas Pertanian, mengambil langkah lebih lanjut untuk mendorong pengembangan padi biofortifikasi di Sergai.

“Selain mendukung pencegahan stunting, padi biofortifikasi juga memiliki produktivitas yang tinggi. Karena itu, pengembangannya dapat berjalan seiring dengan upaya mempertahankan swasembada beras,” ujar Sulaiman.

Dengan menghubungkan petani, koperasi dan SPPG, pengembangan padi biofortifikasi diharapkan tidak berhenti pada kegiatan panen. Rantai pasok tersebut diharapkan mampu membuka pasar bagi petani sekaligus menghadirkan sumber pangan bergizi untuk masyarakat.

Langkah itu menjadi penting karena pangan tidak hanya dituntut tersedia dalam jumlah cukup, tetapi juga harus memiliki kualitas gizi yang baik. (red/zen)