OPINI  

Pelucutan Senjata Hamas, Siasat AS Melemahkan Palestina

Oleh: Nurul Fadillah Margolang,S.Pd

20250712 MAP001

Dilansir dari kantor berita Agence France-Presse (AFP), Jumat (31/7/2026), Trump mengungkap Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian telah mencapai kesepakatan perlucutan senjata dengan  Hamas maupun kelompok bersenjata lainnya di Gaza. Trump mengatakan bahwa perlucutan senjata akan dilakukan secara bertahap. Setelah perlucutan senjata selesai, pasukan Israel akan mundur di Jalur Gaza. Setelah pasukam Israel mundur dari Gaza, Pasukan Stabilisasi Internasional atau ISF akan bekerja sama dengan polisi Palestina yang baru untuk mengambil alih tanggung jawab atas Gaza.

Menanggapi terkait pelucutan senjata, Zionis Israel belum merilis pernyataan resmi, namun seorang pejabat senior mengonfirmasi bahwa penarikan militer tidak akan terjadi dalam waktu dekat, seperti dikutip dari Al Jazeera, Sabtu (1/8/2026). Bahkan sehari setelah Trump mengumumkan rencana pelucutan senjata, Pasukan Israel kembali melancarkan serangan udara di Jalur Gaza pada Sabtu dan Minggu (1-2/8/2026), yang menewaskan sedikitnya delapan warga Palestina. Rangkaian serangan terbaru menyasar permukiman warga, tenda pengungsian, hingga fasilitas medis penting.

Rencana pelucutan senjata Hamas merupakan siasat Amerika Serikat dan Israel melalui Board of Peace (BoP) untuk melemahkan pasukan Hamas dalam perjuangan rakyat Palestina. Sejatinya, pembentukan BoP ini tidak bertujuan untuk memberikan kebebasan bagi Palestina, namun adanya BoP merupakan arsitektur kekuasaan global baru berbasis hegemoni AS. Karena pada faktanya, bahkan sampai hari ini genosida di Gaza tidak kunjung berhenti sekalipun adanya perjanjian gencatan senjata ataupun dewan perdamaian dibentuk. Maka, “Peace”  yang dicanangkan bukanlah untuk Gaza tapi untuk para penjajah. Ketika nasib Gaza diserahkan kepada dewan perdamaian Negara Barat ibarat menyerahkan umpan ke mulut harimau, umat Islam sedang dipaksa menerima penjajahan dalam wajah baru.

Pelucutan senjata bukanlah solusi bagi perdamaian, keamanan dan pembebasan Gaza, karena penjajahan, perampasan tanah dan genosida atas Gaza masih terus dilakukan oleh zionis Israel. Rancangan “The New Gaza” yang dirancang oleh BoP merupakan  upaya penghapusan identitas sejarah Gaza dan mengubahnya menjadi kawasan hiburan/industri, serta menuntut pengosongan wilayah demi rekonstruksi.

Kehadiran Pasukan Stabilisasi Internasional (yang beranggotakan beberapa negeri muslim seperti Indonesia, Maroko, Kazakhstan, Kosovo, dan Albania) oleh BoP bertujuan untuk menjalankan agenda stabilisasi secara praktis mencakup pembatasan atau pelucutan kemampuan militer kelompok perlawanan seperti Hamas. Artinya AS menjadikan kaum muslimin bertarung dengan saudarinya sementara AS dengan mudah mengambil kedaulatan Gaza dan merekontruksinya sesuai kepentingannya serta melanggengkan kepentingan strategi Zionis dan sekutu-sekutunya. Maka, adanya Pasukan Stabilisasi Internasional atau ISF ini tidak ditujukan untuk membebaskan Palestina dari penjajahan Israel.

Maka dari itu, bahaya ketika kita menyerahkan urusan Palestina kepada AS dan zionis Israel yang senantiasa membuat siasat untuk melanggengkan penjajahan atas tanah Palestina. Islam tegas mengharamkan penyerahan kedaulatan kaum Muslim kepada kekuasaan kafir. Allah SWT berfirman :“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang beriman.”(TQS. An-Nisa : 141)

Melihat penjajahan yang terus menerus dilakukan, kaum muslimin tidak boleh berdiam diri, kita harus terus melakukan kritik dan koreksi atas pengkhianatan yang dilakukan oleh pemimpin negeri-negeri muslim termasuk Indonesia yang bersekutu dengan AS dan bergabung dalam BoP.

Dominasi politik, militer, dan keamanan kaum kafir atas negeri-negeri Muslim adalah perkara haram. Meneyerahkan urusan pemerintahan, keamanan, dan masa depan Gaza kepada pasukan internasional dan dewan yang dikendalikan Barat jelas bertentangan dengan prinsip ini.

Rasululullah ﷺ bersabda : ” Imam (Khalifah) adalah perisai, orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadist ini menegaskan bahwa perlindungan wilayah termasuk Palestina hanya bisa terwujud dalam kepemimpinan Islam yang berdaulat.  Sejarah Daulah Khilafah membuktikan hal ini, Khalifah Umar bin Khattab RA apada tahun 637 M tanpa diserahkan kepada kekuatan asing.. Allah SWT sudah menuntun penyelesaian persoalan sebagaimana yang dialami Palestina hari ini berdasarkan QS Al-Baqarah : 191 yang artinya : “Perangilah mereka ( yang memerangimu) di mana pun kamu jumpai dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusirmu.”

Sepanjang sejarah, Khilafah mempertahankan Palestina sebagai bagian tak terpisahkan dari wilayah Islam. Tidak ada konsep ” pasukan internasional” dalam pengelolaan tanah suci ini. Karena itu, solusi hakiki bagi Gaza dan Palestina bukanlah dewan perdamaian versi Barat melainkan kebangkitan kesadaran umat Islam untuk bersatu dan mewujudkan Khilafah Islamiyyah, sehingga kedaulatan negeri-negeri Muslim dapar dijaga , penjajahan dihentikan, dan Palestina dapat dibebaskan, untuk itu, kita harus berjuang bersama untuk menegakkkannya kembali.

Wallahualam Bisshawab

Penulis Nurul Fadillah Margolang, S.Pd.