FORUM LHOKSEUMAWE | Pengikisan garis pantai di kota ini terjadi akibat hantaman ombak besar, ketika terjadi angin dari arah Timur Laut selama delapan bulan dan angin Barat Laut selama empat bulan.Angin Barat Timur Laut langsung berhadapan dengan pesisir Kota Lhokseumawe. Kondisi ini mengakibatkan tingkat abrasi pantai sangat dominan.Sehingga abrasi pantai terus meluas.
Faktor terus menghilangnya daratan di Kota Lhokseumawe yang dipengaruhi oleh geografisnya, itu terjadi sejak hutan bakau musnah di sepanjang pantai.Sebelumnya, tanaman mangrove mampu membendung hantaman ombak, ketika terjadi angin Timur Laut.
Disampaikan Walikota Lhokseumawe, Suaidi Yahya, pada Penanaman 1.000 bibit mangrove di Pulau Seumadu Rancung, Kota Lhokseumawe, turut dilakukan Pangdam IM, Danrem 011/LW, Wali Kota Lhokseumawe, Dandim 0103/Aut, Dandenrudal bersama Forkopimda, masyarakat serta seluruh Muspika di Lhokseumawe, 27 Januari 2022.

“Seperti ditahun 90-an, pantai Lhokseumawe masih dipenuhi hutan mangrove yang sangat rapat dan terpancang sebagai jangkar, mampu menangkap sentimen dan menahan partikel tanah serta memiliki kemampuan meredam energi pasang surut dan gempuran gelombang,”ujar Suaidi.
Dalam testimoninya, Suaidi Yahya menceritakan, sewaktu terjadi Tsunami di Aceh tahun 2024 lalu, hutan mangrove telah mampu mengurangi kerusakan.Peristiwa bencana nasional itu merupakan pembelajaran yang bisa kita petik, dimana kedahsyatan gelombang Tsunami mampu diredam oleh kehebatan tanaman mangrove sampai setengah energi dari gelombang Tsunami, hingga meminimalisir kerusakan.







