FORUM JAKARTA | Menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, suasana kebersamaan mulai terasa di berbagai sudut permukiman. Namun di balik semarak Ramadan yang segera berakhir, ada pesan penting yang disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Al Washliyah (GPA), Aminullah Siagian: menjaga keamanan, ketertiban, dan kehangatan keluarga adalah tanggung jawab bersama.
Aminullah mengajak masyarakat untuk kembali menguatkan peran pengurus RT dan RW sebagai garda terdepan dalam menjaga kondusivitas lingkungan. Menurutnya, lingkungan yang aman tidak hanya tercipta dari kehadiran aparat, tetapi juga dari kepedulian warga yang saling menjaga satu sama lain.
“RT dan RW adalah mata dan telinga masyarakat. Mereka yang paling dekat dengan warga, sehingga deteksi dini terhadap potensi gangguan keamanan sangat penting dilakukan,” ujarnya, Senin (16/3/2026).
Ia menilai dinamika ekonomi yang belum sepenuhnya stabil dapat memicu meningkatnya potensi kriminalitas menjelang akhir Ramadan dan saat libur panjang Lebaran. Karena itu, ia mendorong seluruh pengurus GPA di berbagai daerah untuk aktif menghidupkan kembali sistem keamanan lingkungan (siskamling) serta meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas mencurigakan di sekitar permukiman.
Namun pesan Aminullah tidak hanya berhenti pada keamanan lingkungan. Ia juga menyoroti pentingnya peran keluarga, terutama orang tua, dalam mengawasi aktivitas anak-anak selama masa libur sekolah menjelang Lebaran.
Menurutnya, euforia menyambut Idulfitri seringkali membuat sebagian anak dan remaja terlibat dalam aktivitas yang berisiko, seperti bermain petasan secara berlebihan, berkeliaran hingga larut malam, bahkan mencoba hal-hal negatif yang dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
“Orang tua perlu lebih protektif memantau anak-anaknya. Jangan sampai semangat menyambut Lebaran berubah menjadi sesuatu yang membahayakan,” katanya.
Ia juga mengingatkan masyarakat yang berencana mudik agar memastikan keamanan rumah sebelum ditinggalkan. Hal-hal sederhana seperti memeriksa kompor, mematikan listrik yang tidak diperlukan, serta memastikan pintu dan jendela terkunci dengan baik dapat mencegah risiko kebakaran maupun tindak pencurian.
Lebih dari sekadar pengamanan fisik, Aminullah menekankan bahwa Idulfitri adalah momentum spiritual yang sangat berharga bagi keluarga. Ia mengajak para orang tua menjadikan momen ini sebagai ruang untuk membangun komunikasi yang hangat dengan anak-anak.
“Jadikan Idulfitri sebagai momen penuh makna bersama anak. Bangun komunikasi yang intens, berikan motivasi kebaikan, dan rancang masa depan mereka dengan penuh harapan,” ungkapnya.
Dalam pandangannya, silaturahmi yang dilakukan saat Lebaran juga memiliki nilai pendidikan yang sangat penting bagi anak-anak. Dari kebiasaan saling mengunjungi, meminta maaf, dan berkumpul bersama keluarga, anak-anak belajar tentang empati, rasa hormat, dan arti persaudaraan.
“Berikan teladan kepada anak tentang praktik baik silaturahim—dengan keluarga, tetangga, dan teman. Dari situ mereka belajar tentang kebersamaan, kesetaraan, dan saling menghargai,” ujarnya.
Aminullah juga menyoroti pentingnya menjaga toleransi dan kerukunan antarumat beragama selama perayaan Idulfitri. Ia mengingatkan bahwa perayaan keagamaan seringkali berdekatan dengan hari besar lainnya, sehingga sikap saling menghormati menjadi kunci terciptanya kedamaian di tengah masyarakat.
Dalam konteks penetapan hari raya, Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026 melalui metode hisab. Sementara itu, Al Washliyah, Nahdlatul Ulama dan pemerintah diperkirakan merayakan Idulfitri pada Sabtu, 21 Maret 2026 melalui metode rukyatul hilal.
Meski ada perbedaan waktu perayaan, Aminullah menegaskan bahwa semangat kebersamaan harus tetap dijaga.
Menurutnya, keamanan dan kedamaian Lebaran hanya bisa terwujud melalui sinergi semua pihak—mulai dari aparat keamanan, pemerintah daerah, tokoh agama, hingga masyarakat di tingkat paling bawah.
“Lebaran adalah momen untuk membuka hati, menghapus prasangka, dan saling memaafkan. Dari situlah tumbuh rasa saling memiliki dan kebahagiaan, terutama bagi anak-anak yang melihat teladan dari orang tuanya,” tuturnya.
Di tengah kesibukan menyiapkan hari kemenangan, pesan sederhana itu menjadi pengingat bahwa Lebaran sejatinya bukan hanya tentang perayaan, tetapi tentang menjaga kehangatan keluarga, keamanan lingkungan, dan persaudaraan antar sesama. (red)









