FORUM MEDAN | Berbagai macam bantuan sosial (Bansos) telah digelontorkan Pemerintah. Dua diantaranya PKH (program keluarga harapan) dan BLT (bantuan langsung tunai). Banyak tak tepat sasaran dan membingungkan penerima bantuan, Rabu (28/7/2021)
“Berbagai macam bantuan terus diberikan Pemerintah melalui Kemensos buat masyarakat, namun diduga keras banyak yang tak tepat sasaran dan membingungkan,” kata Pengamat Sosial serta Pemerhati Anak Sulais Taufik S.Sos.I kepada wartawan.
Seperti yang terjadi di Medan Utara, beberapa warga mengeluh akibat informasi yang kurang jelas terkait Bansos. Banyak masyarakat tak mengetahui kalau mereka sebenarnya adalah penerima bantuan.
“Kita sangat prihatin kepada para petugas PKH dari Kemensos mengapa informasi persoalan bantuan orang miskin kurang kita dapatkan. Sehingga warga tak mengetahui kalau mereka sebenarnya adalah penerima manfaat bantuan,” ucap Sulais Taufik S.Sos.I.
Dan saat ini lanjut, Sulais, warga bingung karena tak ada sosialisasi yang diberikan kepada masyarakat oleh petugas dari pendamping Kemensos sehingga data banyak tak diketahui penerima Bansos.
“Banyak ulah yang dibuat petugas PKH, bahkan ada petugas seakan tak mau tau permasalahan yang dialami penerima bantuan orang miskin,” ungkap Sulais Taufik S.Sos.I.
Lebih gawatnya lagi, ada pendamping PKH yang bersekongkol dan mencari keuntungan lalu memanipulasi atau memalsukan data, dan berlaku diskriminatif sehingga penerima Bansos sesungguhnya bisa tak menerima bantuan.
“Patut kita sayangkan masyarakat yang benar-benar miskin bisa tidak mendapatkan Bansos. Disamping itu kerap terjadi pendamping PKH terlibat dalam aktivitas politik praktis,” beber Sulais Taufik S.Sos.I.
Seperti diketahui Zakaria (49) warga Jalan Syahbudin Yatim, Lingkungan 10, Kelurahan Pekan Labuhan, Kecamatan Medan Labuhan sempat sekarat akibat 14 hari tak makan.
Karena tak mempunyai rumah Zakaria bersama istrinya Latifah Hanum dan 3 anaknya menempati rumah warisan keluarga yang nyaris ambruk. Hampir seluruhnya atap rumah bocor, dan kalau hujan turun dalam rumah kebanjiran.
Dinding rumah hancur, banyak papan berlepasan. Lokasi dalam kamar hanya ada tilam lusuh serta tikar pemberian tetangga. Dapur berantakan dan kelihatan seperti kandang kambing.
Lebih gawat lagi kalau hujan datang, anak Zakaria dan isterinya harus mengungsi tidur akibat air hujan turun tepat di ruangan tengah.
Kini Zakaria yang bekerja serabutan berharap kepada Pemko Medan agar lebih memperhatikan kehidupan orang miskin.
Karena berbagai macam bantuan sosial (bansos) yang digelontorkan oleh Pemerintah Republik Indonesia tapi anehnya masih ada juga warga miskin tak menerima bantuan itu.
Terpisah, dari data Kemensos RI (Kementerian Sosial Republik Indonesia) Zakaria adalah merupakan penerima bantusan sosial (Bansos) jenis PKH. Namun hingga saat ini Zakaria belum ada menerima bantuan tersebut.
Hingga berita ini dinaikan Lurah Pekan Labuhan Khairun Nasyir belum dapat dikonfirmasi wartawan.
Konfirmasi terhadap pendamping PKH di Kec.Medan Labuhan bernama Eka mengakui kalau Zakaria telah tercatat sebagai penerima Bansos dari Kemensos namun hingga 5 tahun lamanya bantuan PKH belum didapatkan.(man)








