Air Mata Adelia Kado HUT Bhayangkara

Meminta Kapolda Sumatera Utara mengusut tuntas kasus pembunuhan terhadap Rahmadani

d027bf0b 04eb 4693 a523 746fcf934446

Adelia Azzurah nelangsa. Aura duka terlihat di wajahnya. Gadis belia ini tak menyangka ayah kandungnya dianiaya hingga meregang nyawa. Dibunuh secara sadis dan bengis. Mirisnya, polisi seakan tak berdaya menangkap semua pelakunya. “Saya hanya ingin keadilan,” rintihnya berderai air mata.

Sudah empat bulan Adelia dan keluarganya berjuang meminta keadilan. Berulang kali pula mereka mendatangi penyidik di Polrestabes Medan. Hasilnya, stagnan tanpa perkembangan. Perkara pembunuhan Rahmadani, ayah kandung Adelia, seolah jalan di tempat.

Perjuangan panjang Adelia untuk mendapatkan keadilan, mengundang simpati rekan-rekannya dari kelompok Mahasiswa Pemerhati Keadilan Sumatera Utara. Mereka pun menggelar aksi damai di Markas Polda Sumatera Utara, Rabu 2 Juli 2025. Massa mahasiswa membawa sejumlah spanduk berisi kecaman, salah satunya bertuliskan: “Tangkap Semua Pelaku, Copot Penyidik LP 591/II/2025”.

Aksi damai dalam nuansa peringatan HUT Bhayangkara ke-79 tahun itu, sontak mengejutkan para pengunjung Polda Sumatera Utara. Puluhan polisi bergegas siaga menghadang massa mahasiswa. “Kami datang untuk mendapatkan keadilan,” teriak mahasiswa.

Dalam momen penuh haru, Adelia Azzurah — mahasiswi yang juga anak korban pembunuhan berdarah pada 21 Februari 2025 silam – menangis di depan aparat kepolisian. Dengan suara bergetar dan derai air mata, Adelia memohon agar kasus pembunuhan terhadap ayahnya diusut tuntas.

Dengan berurai air mata, Adelia mengenang kisah kelam hingga terpisah dengan Rahmadani, ayah kandungnya. Mereka sudah 18 tahun tidak berjumpa. “Saya sudah 18 tahun tidak bertemu ayah. Sekali saya dapat kabar, beliau sudah meninggal dunia. Ayah tidak sempat melihat saya menjadi mahasiswa.”

Sejumlah polisi yang siaga, tampak tertunduk mendengarnya. Sebagian lagi terlihat berusaha tegar meski dengan mata berkaca-kaca. Mereka seakan larut berempati dalam penderitaan yang dialami Adelia.

“Saya mohon kepada Bapak Kapolda, tolong pak! Saya minta tolong. Saya mohon, tolong usut sampai tuntas,” lirih Adelia menangis.

Adelia berulang kali menyampaikan permohonan kepada Kapoldasu Irjen Pol Whisnu Hermawan Februanto agar polisi segera menangkap semua pelaku dan dalang pembunuhan terhadap ayahnya. “Saya mohon kepada Bapak Kapolda, mohon segera diusut karena sudah 4 bulan lebih tidak ada kabar. Jangan hanya cuma satu pelaku ditangkap, tapi semua yang terlibat. Jangan Cuma satu saja,” harapnya.

Aksi mahasiswa itu juga disimbolkan dengan pemberian kue ulang tahun untuk Polri dan deraian air mata sebagai bentuk kado pahit dari rakyat.

Koordinator aksi, Arya Sinurat, menjelaskan bahwa kedatangan mereka sebagai bentuk desakan kepada pihak kepolisian agar transparan dan serius menangani kasus pembunuhan yang terjadi di Jalan Selambo, Desa Amplas, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang. Kasus ini tercatat dalam laporan polisi nomor LP 591/II/2025 atas nama pelapor Deviansyah.

Arya menduga masih banyak pelaku yang belum tertangkap. Ia juga mendesak Kapolda Sumut untuk mencopot penyidik yang dinilai lamban serta membongkar kasus ini secara terbuka.

“Kami meminta Kapolda melindungi masyarakat sipil dan tegas menindak setiap pelaku dalam konflik sosial dan lahan, agar tidak ada lagi korban berikutnya,” ujar Arya dengan nada tegas.

Massa juga mengancam akan kembali turun ke jalan jika tuntutan mereka tidak direspons dengan tindakan konkret. Mereka menilai Polda Sumut tidak maksimal dalam berkoordinasi dengan Polrestabes Medan.

Dalam suasana aksi, Perwira Pawas Polda Sumut AKP Irwanta Sembiring menemui massa. Di hadapan mahasiswa, ia berjanji bahwa pihaknya akan menuntaskan penyidikan dan menangkap pelaku lainnya. “Akan mengawal perkara ini supaya cepat tuntas termasuk menangkap pelaku-pelaku yang lain,” ujar AKP Irwanta Sembiring di tengah kerumunan massa.

Meski berlangsung dengan penuh emosi dan tuntutan keras, aksi berakhir dengan tertib dan damai.

Sesuai laporan, peristiwa pembunuhan terhadap Rahmadani terjadi di Jalan Salembo Desa Amplas, Percut Situan, pada Jumat 21 Februari 2025. Ia dibantai oleh sekelompok orang terkait konflik lahan. Pihak keluarga mengetahui kematian Rahmadani setelah di RS Bhayangkara Medan. Tubuhnya beram-beram dan di leher sebelah kiri terdapat luka. Selain itu, ada luka seperti terkena tembakan. Kasus ini pun dilaporkan Deviansyah, abang Rahmadani, ke Polrestabes Medan. (zas)