FORUM Tebing Tinggi | Tragedi berdarah yang merenggut nyawa remaja MZF (19), warga Kecamatan Tanjung Beringin, Serdangbedagai, kembali dihadirkan dalam bentuk rekonstruksi. Senin (22/9/2025).
Pada rekontruksi diperagakan detail kejadian biadab yang dilakukan kelompok geng motor berujung maut.Rekonstruksi digelar di lapangan Polres Tebingtinggi, dipimpin langsung Kasat Reskrim AKP Budi Sihombing, didampingi KBO Sat Reskrim IPTU T. Simanjuntak dan Kanit Resum Ipda NJ. Silalahi.
Sejumlah personel Sat Reskrim turut menjadi pemeran pengganti dalam adegan yang diperagakan.
Hadir pula tim Kejaksaan Negeri Tebingtinggi, penasihat hukum prodeo, serta pihak keluarga korban yang dengan wajah pilu menyaksikan setiap detail penganiayaan yang menimpa MZF.
Delapan tersangka yang berhasil dibekuk, masing-masing DKG, DVM, RS, JF, RSS, WAD, MAN, dan RS, ikut dihadirkan bersama barang bukti berupa senjata tajam dan tumpul: pedang panjang, celurit, egrek, gancu, mata gergaji, double stick, hingga bom molotov. Semua benda ini diyakini dipakai para pelaku untuk menghabisi korban.
Pantauan wartawan di lokasi, rekonstruksi memperlihatkan 37 adegan yang menggambarkan kronologi kejamnya aksi geng motor. Dari korban dipukul dengan benda tumpul, dibacok, perutnya ditusuk dengan pecahan botol bom molotov, hingga kepala dilindas sepeda motor secara bergantian.
Serangkaian adegan itu mempertegas betapa sadisnya penganiayaan yang dialami MZF.

Meski penuh muatan emosional, rekonstruksi berlangsung tertib dan aman. Aparat menegaskan bahwa kegiatan ini penting untuk memperjelas rangkaian peristiwa, sekaligus menjadi bahan pertimbangan dalam proses hukum selanjutnya.
Seperti diketahui, peristiwa maut itu terjadi Kamis dini hari (11/9/2025) di Jalan Setiabudi, Kelurahan Brohol, Kota Tebingtinggi. Tawuran pecah antara geng motor asal Tebingtinggi dengan kelompok Dolok Masihul. MZF yang naas tertangkap, dihajar secara brutal, lalu ditinggalkan dalam kondisi sekarat.
Polisi bersama Polsek Rambutan yang menerima laporan warga segera turun ke lokasi dan mengevakuasi korban ke rumah sakit. Namun luka parah yang diderita membuat MZF tidak tertolong, ia meninggal dunia sesaat setelah mendapat perawatan medis.
Ketegasan aparat dan pemerintah kota dalam menindak, mencegah, sekaligus memutus mata rantai geng motor menjadi ujian serius. Jika tidak, maka rekonstruksi demi rekonstruksi hanya akan menjadi panggung formalitas, sementara di jalanan, nyawa remaja lain bisa kembali melayang..( MET )







