FORUM JAKARTA | Suasana hangat menyelimuti ruang rapat Gedung A lantai 2 Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI di bilangan Senayan, Jakarta. Di ruangan yang berarsitektur modern itu, sekelompok anak muda berseragam hijau khas Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (HIMMAH) duduk berhadapan dengan jajaran pejabat kementerian. Bukan sekadar pertemuan biasa—ini adalah silaturahmi awal yang sarat semangat kolaborasi untuk masa depan pendidikan Indonesia.
Audiensi yang dipimpin langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat HIMMAH, Abdul Razak Nasution, menjadi momentum penting bagi organisasi mahasiswa Islam yang telah berusia lebih dari enam dekade itu. Turut mendampinginya, Wakil Ketua Umum Fadlan Zainuddin Siregar, Awaludin Nasution, Bendahara Umum Novrizal Taufan, serta dua Wakil Sekretaris Jenderal Sahala Pohan dan Qori Fatnawi. Mereka diterima dengan tangan terbuka oleh Dr. Mariman Darto, SE., M.Si, Staf Ahli Menteri Bidang Manajemen Talenta.
“Ini bukan sekadar audiensi, tapi silaturahim awal menuju kolaborasi konkret. Kami ingin menjadi bagian dari gerakan besar menciptakan pendidikan yang bermutu,” ujar Razak membuka percakapan, Kamis (16/10/2025).
Nada suaranya tenang, tapi penuh keyakinan. HIMMAH, menurutnya, siap berkontribusi aktif dalam mendukung program unggulan Kemendikdasmen, terutama dalam memperkuat mutu pendidikan nasional.
Sebagai organisasi mahasiswa yang lahir dari rahim Al Jam’iyatul Washliyah—salah satu ormas Islam tertua di Indonesia—HIMMAH memiliki akar kuat di dunia pendidikan.
Al Washliyah mengelola sembilan perguruan tinggi dan lebih dari 700 sekolah, mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga SMA di seluruh Indonesia. Potensi besar inilah yang ingin HIMMAH sinergikan dengan program pemerintah.
“Kami berharap sekolah-sekolah Al Washliyah mendapat perhatian lebih dari Kemendikdasmen, terutama dalam hal sarana dan prasarana. Banyak sekolah masih butuh renovasi, papan interaktif, dan dukungan fasilitas belajar,” terang Razak.
Ia menambahkan, peningkatan kualitas pendidikan harus berjalan beriringan dengan perbaikan infrastruktur dan penguasaan teknologi. “Kalau pendidikan bagus, fasilitas memadai, dan teknologi dikuasai, kita siap menyongsong Indonesia Emas 2045,” ujarnya optimistis.

Resonansi dari Kementerian
Gayung bersambut. Dr. Mariman Darto yang mewakili Kemendikdasmen, mengapresiasi semangat HIMMAH untuk ikut serta dalam gerakan pendidikan bermutu.
“Al Washliyah punya kontribusi besar dalam pendidikan dan dakwah. Sudah selayaknya kita bersinergi. Visi Pak Menteri Abdul Mu’ti jelas: pendidikan bermutu harus berjalan di seluruh Indonesia,” kata Mariman.
Ia menjelaskan, program prioritas Kemendikdasmen saat ini mencakup revitalisasi sarana prasarana, penyediaan papan interaktif di sekolah, serta rehabilitasi gedung rusak sedang dan berat. Selain itu, kementerian juga tengah mendorong akselerasi peningkatan kualifikasi guru melalui RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau) dan Pendidikan Profesi Guru (PPG).
“Kalau ada guru D1, D2, atau D3 yang ingin lanjut ke S1, dorong mereka. Asal sudah dua tahun mengajar dan punya NIK tenaga pendidik, bisa ikut RPL. Ini bagian dari peningkatan kapasitas SDM pendidikan,” tambahnya.
Bukan hanya soal fasilitas dan kurikulum, Dr. Mariman menekankan pentingnya penguatan karakter di sekolah-sekolah. Ia mencontohkan gerakan seperti Pagi Ceria Indonesia, Senam Indonesia Raya, doa bersama, hingga kegiatan budaya belajar yang menggembirakan. “Pendidikan bukan hanya soal nilai akademik, tapi juga pembentukan karakter anak bangsa,” ujarnya.
Mariman juga berjanji akan menyampaikan langsung aspirasi HIMMAH kepada Menteri Abdul Mu’ti, bahkan menyebut rencana kehadiran menteri pada pelantikan PP HIMMAH sekaligus peringatan HUT HIMMAH ke-66 mendatang.
Pertemuan siang itu berakhir dengan foto bersama dan jabat tangan erat. Namun lebih dari sekadar simbol, audiensi tersebut menandai lahirnya komitmen baru antara HIMMAH dan Kemendikdasmen: membangun sinergi, memperkuat mutu, dan menanamkan nilai-nilai karakter di dunia pendidikan.
Bagi Abdul Razak Nasution, perjuangan belum selesai. Tapi ia yakin, langkah kecil ini akan berbuah besar. “Jika pendidikan kita kuat, karakter anak bangsa terbentuk, dan teknologi kita kuasai—maka masa depan Indonesia 2045 bukan sekadar mimpi,” katanya menutup pertemuan dengan senyum penuh harapan. (soeqri)







