FORUM JAKARTA | Beredar sebuah video berdurasi sekitar enam menit menampilkan pernyataan tegas dari Koordinator Nasional Gerakan Mahasiswa Riau (GEMARI) Jakarta), Kori Fatnawi, yang membantah keras tudingan miring terhadap aksi unjuk rasa GEMARI Jakarta di depan Gedung Merah Putih KPK RI beberapa waktu lalu.
Dalam video yang kini viral di berbagai platform media sosial tersebut, Kori menegaskan bahwa aksi GEMARI Jakarta murni sebagai bentuk dukungan terhadap langkah tegas Presiden Prabowo Subianto dalam menjalankan Asta Cita-nya, terutama dalam hal pemberantasan korupsi di Republik Indonesia.
“Aksi kami bukan pesanan, bukan bayaran, dan tidak ditunggangi oleh siapapun. Kami mendukung langkah Presiden Prabowo untuk menjalankan Asta Citanya — memberantas korupsi dan menegakkan keadilan,” ujar Kori dalam video tersebut.
Kori menyebut, tudingan dan fitnah terhadap gemari jakarta justru merupakan bentuk pelemahan terhadap nilai-nilai demokrasi di Indonesia. Padahal, GEMARI Jakarta selama ini konsisten menyuarakan pemberantasan korupsi, terutama terkait dugaan berbagai skandal korupsi yang menyeret nama Wakil Gubernur Riau, SF Hariyanto.
“Selama ini kami suarakan dugaan korupsi yang melibatkan SF Hariyanto. Kami sudah gelar aksi Jilid I dan Jilid II di depan KPK RI, menekan agar KPK segera turun ke Riau untuk periksa dan tangkap SF Hariyanto,” tegasnya.
Lebih lanjut, Kori menyentil langsung SF Hariyanto yang sempat menuding aksi GEMARI Jakarta ditunggangi atau berbayar. Ia menegaskan bahwa sebagai seorang pejabat publik sekaligus seorang yang telah berhaji, SF Hariyanto seharusnya memahami makna amanah dan tidak mudah melontarkan tuduhan yang mencederai semangat demokrasi.
“Bapak SF Hariyanto sudah Haji, tentu paham makna amanah. Jadi jangan menuduh aksi kami macam-macam. Kalau tak percaya, bapak bisa cek ke BIN nasional maupun internasional, apakah aksi kami dibayar atau ditunggangi,” ujar Kori menantang.
Ia menambahkan, kritik yang disampaikan GEMARI Jakarta bukan ditujukan pada pribadi seseorang, melainkan terhadap kinerja pejabat publik yang memiliki tanggung jawab moral dan hukum di hadapan masyarakat.
“Kami mengkritik bapak sebagai pejabat publik, bukan personal. Tugas bapak menjelaskan ke publik, bukan malah memfitnah Gemari Jakarta yang menyampaikan aspirasi,” lanjutnya.
Kori juga menegaskan bahwa GEMARI Jakarta akan terus mengawal dugaan berbagai kasus korupsi yang melibatkan SF Hariyanto, yang diduga kuat telah merugikan keuangan negara hingga ratusan miliar rupiah. Ia menekankan komitmen Gemari Jakarta untuk terus menekan KPK RI agar segera turun gunung ke Riau.
Dalam pernyataannya, Kori juga menyindir pihak-pihak yang disebutnya sebagai “tukang bisik” dan “penjilat” SF Hariyanto yang dinilai berusaha memutarbalikkan fakta perjuangan Gemari Jakarta.
“Untuk tukang bisik atau ‘penjilat’ SF Hariyanto, pahami aturan dulu sebelum bicara. Dalam konstitusi, tidak ada satu pasal pun yang menyebutkan hanya orang dari daerah tertentu yang boleh menyapaikan aspirasi di muka umum, baik itu Pasal 28 UDD 1945 dan UU Nomor 9/1998,” tegas Kori.
Menutup pernyataannya, Kori menegaskan bahwa dirinya adalah putra asli Riau yang lahir, bersekolah, dan besar di Bumi Lancang Kuning. Ia menegaskan bahwa kecintaannya terhadap tanah kelahiran justru menjadi alasan utama mengapa ia bersuara lantang.
“Saya lahir di Riau, sekolah di Riau, dan saya cinta tanah kelahiran saya. Karena cinta itulah saya bersuara agar Riau bersih dari korupsi,” pungkas Kori menutup videonya. (zas)







