FORUM MEDAN | Pentingnya Classifier sebagai tenaga keolahragaan yang bertugas melakukan klasifikasi kecacatan atlet sebelum bertanding, sangatlah menunjang sebuah keberhasilan dalam hal mencapai prestasi.
Untuk itulah hal tersebut, harus menjadi perhatian penuh bagi Dispora Sumut dalam hal menyiapkan tenaga classifier sebelum menghadapi Peparnas Sumut-Aceh tahun 2024 mendatang.
Demikian hal itu disampaikan Kepala Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Disporasu, M Tohir Spd mewakili Kadisporasu pada acara Kegiatan Peningkatan Standarisas Tenaga Olahraga pada Pelatihan Clasifier NPC Sumut tingkat Nasional Dasar di Thong Inn Hotel, Deliserdang dari 20 hingga 25 September 2021 mendatang.
“Saat ini Sumut belum mempunyai tenaga classifier olahraga khusus disablitas yang bersertifikat IPC. Jadi melalui kegiatan inilah diharapkan nantinya dapat diperoleh kandidat untuk selanjutnya agar bisa bertugas sebagai classifier di PON 2024,” katanya serius, Senin (20/9/2021).
M Tohir yang mewakili Kadisporasu, Ir Ardan Noor mengatakan, Peparnas sangat penting terutama strategis dalam memberikan pesan kepada Propinsi lain akan bisa lebih ramah terhadap disabilitas.
Keuntungan disini, Disporasu bersama NPC Sumut sudah melakukan berbagai persiapan, diantaranya menyiapkan tenaga classifier. walaupun eventnya empat tahun kedepan baru digelar.
“Kita harus memiliki tenaga yang handal untuk menghadapi Peparnas 2024,” ujarnya lagi.
Sementara, Ketua NPC Sumut, Alan Sastra Ginting menyampaikan kalau pihaknya banyak mengucapkan terima kasih atas fasilitasi yang diberikan Disporasu untuk menyiapkan tenaga classifier menghadapi Peparnas 2024 mendatang
Bahwa classifier ini merupakan gerbang utama bagi atlet untuk bisa bertanding di PON 2024 tanpa melalui lulus klasifikasi maka atlet tidak dapat bertanding,.
“Saya berharap para peserta bisa memperleh ilmu sehingga bisa diberdayakan pada PON 2024,” kata Alan serius.
Sebab msnurut Alan menghadapi Peparnas apalagi sebagai tuan rumah, bukanlah pekerjaan mudah, tapi tuntut keseriusan, sehingga terciptakan hasil maksimal nantinya.
Sedangkan Ketua Pelaksana Kegiatan Pelatihan Classifier, Maimun mengatakan, kegiatan ini diikuti 50 peserta yang berasal dari latarbelakang tenaga medis dan akademisi.
“Peserta ada yang fisioterapi, perawat dan akademisi,” kata Maimon mengakhiri. (kesuma)







