Berawal Candaan, Berujung Damai: Polres Padangsidimpuan Rangkul Pelajar yang Bertikai

Untitled 1 17

FORUM PADANGSIDIMPUAN | Ketegangan yang sempat mewarnai Jalan Cut Nyak Dhien, Sabtu (11/4/2026), perlahan mereda. Di balik peristiwa perkelahian antar pelajar, terselip cerita tentang emosi yang tak terkendali—dan tangan-tangan yang hadir untuk meredakannya.

Jajaran Polres Padangsidimpuan bergerak cepat begitu menerima laporan warga. Dipimpin IPDA Joko Winarno dan IPDA Sutan Gorga, petugas segera mengamankan para pelajar yang terlibat dan membawa mereka ke ruang pelayanan untuk menghindari konflik yang lebih besar.

Di ruang itulah, suasana berubah. Bukan lagi teriakan atau dorongan, melainkan percakapan yang perlahan membuka akar persoalan. Dari pendalaman yang dilakukan, terungkap bahwa keributan itu bermula dari tuduhan pencurian ponsel—yang ternyata hanya candaan iseng yang berujung salah paham.

Alih-alih menempuh jalur hukum yang kaku, polisi memilih jalan yang lebih menenangkan. Dengan menghadirkan pihak sekolah sebagai pembina, proses mediasi dilakukan dengan pendekatan humanis—mengajak para pelajar untuk memahami konsekuensi dari tindakan mereka, tanpa menghakimi masa depan mereka.

Perlahan, emosi yang sempat memuncak berubah menjadi penyesalan. Para pelajar yang sebelumnya bertikai akhirnya saling menunduk, menyadari bahwa amarah sesaat bisa membawa dampak panjang. Dalam suasana penuh kelegaan, mereka sepakat berdamai secara kekeluargaan.

Kesepakatan itu kemudian dituangkan dalam surat perdamaian yang difasilitasi pihak kepolisian. Lebih dari sekadar dokumen, itu menjadi simbol komitmen bahwa mereka memilih untuk memperbaiki diri—dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Kehadiran polisi di tengah konflik tersebut bukan hanya menjaga keamanan, tetapi juga menjadi penengah yang merawat harapan. Di usia yang masih muda, para pelajar itu diberi kesempatan kedua—untuk belajar, tumbuh, dan melangkah ke depan tanpa bayang-bayang kesalahan masa lalu.

Kini, situasi di Kota Padangsidimpuan kembali tenang. Dan dari sebuah konflik kecil, lahir pelajaran besar: bahwa dialog dan kepedulian masih menjadi jalan terbaik untuk menyelesaikan persoalan. (Irnas)