-Akhirnya ketika kekuasaan itu sudah berada di tangan kami, kami tidak akan memperkenankan keberadaan agama apapun di muka bumi ini, selain agama kami”.
Akar Pemikiran dan Sifat Ideologinya
“Zionisme” itu usianya sudah sangat tua, setua usia Taurat itu sendiri. Gerakan inilah yang telah membongkar semangat nasionalisme di kalangan orang-orang Yahudi semenjak hari-harinya yang pertama. Gerakan Herzl, pada hakekatnya merupakan pembaharuan dan penataan kembali “Zionisme” yang sudah kuno itu.
“Zionisme” ditegakkan berdasarkan ajaran Taurat yang telah diselewengkan dan Talmud. Tetapi perlu juga dicatat disini, bahwa sejumlah pemimpin zionisme adalah termasuk pula dalam deretan orang-orang yang atheis. Agama Yahudi menurut mereka, hanyalah mantel untuk merealisir ambisi-ambisi politik dan ekonomi.
Tempat Penyebaran dan Kawasan Pengaruhnya
Zionisme adalah sebuah mantel politik Yahudi Internasional. Seperti yang telah dikatakan oleh orang-orang Yahudi sendiri (bagaikan Tuhannya orang-orang Hindu, ya’ni Wisnu, yang mempunyai 100 tangan). Oleh sebab itu, zionisme dengan segala perangkatnya yang ada di dunia, mempunyai tangan-tangan yang dominan dan terarah, yang aktif demi kepentingannya.
Zionisme inilah yang mengendalikan dan membuat planing untuk Israel. Freemasonry bergerak bersama ajaran-ajaran zionisme dan pedoman-pedomannya. Para pemimpin dunia dan ahli pikirnya, tunduk kepada gerakan ini.
Zionisme mempunyai beratus-ratus organisasi di Eropa, dan Amerika yang bergerak dalam berbagai lapangan yang penampilannya seakan-akan nampak saling bertentangan, padahal semuanya aktif bekerja untuk kepentingan Yahudi Internasional.
Ada yang kekuatannya sangat berlebihan, tapi ada pula yang sangat lemah. Namun bagaimanapun penampilan, realitas masih menunjukkan bahwa, orang-orang Yahudi sekarang masih berada diatas angin.”[]. Wallahu a’lam bish-shawwab.
Diterjemahkan oleh A. Najiyullah dari kitab Al – mausu’ah al – muyassarah fi al – adyan wa al – madhahib al – mu’ashirah (Ensiklopedia Perbandingan Agama dan Mazhab).
Diketik ulang dan dishare oleh Karsidi Diningrat, dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.









