FORUM JAKARTA | Lantunan ayat suci Al-Qur’an bergema syahdu dari ruang utama Kantor Pengurus Besar Al Washliyah, Rabu (1/10/2025). Suasana hening, penuh khidmat. Para kader muda Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (HIMMAH) duduk bersila, mata mereka tertuju pada mushaf, bibir komat-kamit melafalkan ayat demi ayat. Di tengah hiruk pikuk kehidupan kota, majelis ilmu itu menghadirkan keteduhan.
Kegiatan yang diberi nama “HIMMAH Mengaji” ini bukan sekadar acara rutin, melainkan sebuah gerakan spiritual yang ingin menumbuhkan kembali tradisi para ulama: menghidupkan majelis Qur’ani.
Ketua Umum PP HIMMAH, Abdul Razak Nasution, menyebut kegiatan mengaji sebagai jihad intelektual—usaha merawat iman, memperkuat takwa, sekaligus memperkaya ilmu agama. “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya,” ujarnya sambil mengutip sabda Rasulullah SAW (HR. Bukhari).
Razak menegaskan, HIMMAH tidak boleh hanya hadir sebagai organisasi yang bergerak di bidang intelektual, tetapi juga sebagai penjaga nilai-nilai Islam. Dengan mengaji, para kader ditempa untuk tidak hanya cerdas secara akal, tetapi juga kokoh dalam akhlak.
“HIMMAH Mengaji bukan sekadar simbol kegiatan keagamaan, tetapi ruh perjuangan. Kita ingin seluruh pimpinan wilayah dan cabang HIMMAH menjadikan program ini sebagai tradisi. Dari majelis Qur’an inilah lahir generasi beriman, berilmu, dan siap mengabdi untuk umat dan bangsa,” tegasnya.
Firman Allah SWT dalam QS. Fathir ayat 29 menjadi peneguh arah gerakan ini:
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dengan sembunyi maupun terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan merugi.”

Bagi para kader HIMMAH, kegiatan mengaji bulanan ini terasa seperti oase di tengah kesibukan akademik dan dinamika sosial. Ada ketenangan yang lahir saat ayat-ayat suci dibacakan, ada semangat baru yang tumbuh saat hati disirami cahaya Qur’an.
Mungkin inilah wajah HIMMAH yang sesungguhnya: bukan sekadar pergerakan mahasiswa, tetapi juga ladang amal jama’i, tempat para pemuda Islam menemukan arah hidup dengan cahaya wahyu.
“Insya Allah, dengan istiqomah mengaji, kita akan melahirkan generasi Qur’ani yang cerdas, berakhlak mulia, dan siap menjaga kejayaan Islam,” pungkas Razak. (soeqri)







