Rumah Ketua Majelis Hakim Kasus Topan Ginting ‘Terbakar’

Potret Risiko di Balik Palu Keadilan:  Antara Ancaman dan Tanggung Jawab Hukum

Screenshot 2025 11 04 21 28 45 91 40deb401b9ffe8e1df2f1cc5ba480b12

FORUM MEDAN | Suasana tenang di Komplek Taman Harapan Indah, Medan Selayang, mendadak berubah mencekam. Asap tebal membumbung dari rumah milik seorang hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan, Khamazaro Waruwu, di Jalan Pasar II. Api melahap bagian rumah sekitar pukul 10.30 WIB. Tidak ada korban jiwa, namun kejadian itu menyisakan tanda tanya besar: apakah ini sekadar musibah, atau ada pesan tersembunyi di balik nyala api itu?

Khamazaro bukan hakim biasa. Ia adalah Ketua Majelis Hakim Tipikor PN Medan yang tengah menyidangkan perkara besar — dugaan korupsi senilai Rp157 miliar di Dinas PUPR Sumatera Utara. Salah satu nama yang disebut dalam kasus itu: mantan Kadis PUPR Sumut, Topan Ginting, serta dua terdakwa lainnya, Akhirun Piliang dan Rayhan Dulasmi Piliang, yang diduga terlibat dalam praktik suap proyek infrastruktur di Paluta.

Kebakaran itu terjadi di tengah sorotan publik terhadap kinerja pengadilan dan penegakan hukum di Sumut. Kobaran api padam pukul 11.18 WIB setelah Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Medan menurunkan sejumlah armada. Namun, api yang membakar kepercayaan dan rasa aman seorang hakim tampaknya belum padam.

Kapolsek Sunggal, Kompol Bambang Gunanti Hutabarat, membenarkan bahwa rumah tersebut milik seorang hakim PN Medan. Namun, ketika ditanya apakah berkaitan dengan kasus besar yang tengah disidangkan, ia menjawab singkat: “Masih dalam penyelidikan.”

Sementara petugas masih melakukan olah TKP, publik mulai bertanya-tanya: apakah kebakaran ini murni akibat korsleting, atau ada unsur kesengajaan yang mengancam integritas penegak hukum?

Ketua Kalibrasi Anti Korupsi dan Hak Asasi Manusia (KAKHAM), Antony Sinaga, SH, M.Hum, menilai kejadian ini tidak bisa dipandang remeh. “Seorang hakim yang sedang menangani kasus korupsi besar menjadi korban kebakaran rumah — itu sinyal bahaya. Negara harus memastikan tidak ada intimidasi atau ancaman terselubung terhadap aparat peradilan,” tegasnya.

Antony meminta pengusutan menyeluruh dan transparan, karena kasus semacam ini sangat rentan menimbulkan spekulasi publik.

“Transparansi adalah kunci. Jangan sampai peristiwa ini menimbulkan ketakutan di kalangan penegak hukum atau menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pengadilan,” ujarnya.

Bagi hakim, setiap putusan adalah pertaruhan — bukan hanya soal karier, tapi juga nyawa dan integritas. Kasus-kasus besar seperti korupsi miliaran rupiah kerap berkelindan dengan kekuasaan, politik, dan uang besar. Dalam ruang sidang yang seolah tenang, sesungguhnya bergejolak tekanan yang tidak tampak.

“Profesi hakim bukan sekadar jabatan, tapi panggilan moral,” kata seorang rekan sejawat Khamazaro yang enggan disebut namanya. “Kami tahu risikonya, tapi tetap harus berdiri di tengah badai.”

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari PN Medan mengenai penyebab kebakaran. Polisi masih mengumpulkan bukti dan melakukan penyelidikan mendalam. Namun bagi publik, api yang membakar rumah seorang hakim di Medan itu adalah simbol peringatan — bahwa perjuangan melawan korupsi tidak hanya berlangsung di ruang sidang, tetapi juga di ranah kehidupan pribadi para penegak hukum.

Mungkin rumah itu bisa dibangun kembali. Tapi keamanan dan rasa percaya — dua hal yang paling berharga dalam profesi hakim — membutuhkan waktu lama untuk pulih. (red)