HUKUM  

Rusli, Dari tak Tahu Akhirnya Sampai ke Kuba

IMG 20210916 WA0200



Rusli. Itulah nama pria kelahiran 26 Juli 1973 silam yang mampu menuju sebuah negara kepulauan yaitu Kuba di lautan Karibia pada tahun 1996 silam dalam hal menimba ilmu sebagai se-orang petinju.

Sehingga mampu menjadikan beberapa petinju mengharumkan nama baik Sumut diajang PON Kalimantan Timur pada tahun 2008 seperti, Rumiris P Simarmata, Siti Aisyah (medali emas). Sedangkan medali perunggu diraih Sadarmawati, Dhaniel Pasaribu dan Nirwan Efendi Harahap dan Benget Simorangkir. Begitu juga PON Riau 2012 lalu, Rusli kembali berhasil menghantarkan atlet binaannya meraih emas yaitu, Nurmala Deli dan Maduma Simbolon.

Sementara prestasi yang diraih Rusli sebelum ditunjuk sebagai pelatih, petinju yang turun dikelas 45 kg dan murah senyum ini antara lain, pernah ikut Pra PON di Semsrang Jateng 1992 meraih perunggu. Lalu ikut Pekan Olahraga pada tahun 1993, 1996. Pernah juga memperkuat Indonesia diajang Sea Games pada tahun 1997 meraih medali perak serta memperkuat kontingen Merah Putih diajang Pra Olympic di Uzbekistan pada tahun 1998.

Berawal dari keberhasilan itulah, Rusli meraih predikat petinju berbakat yang mana usai meraih perak tersebut, ia pun mendapat tawaran pekerjaan sebagai pegawai PD Pasar selama 9 tahun yang berkantor di Pajak Petisah Medan dan ASN di Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Sumatera Utara hingga sekarang.

Namun sebelum meraih apa yang ia dapat seperti saat ini, sudah pasti pula ada sebuah kisah perjalanan yang bisa diceritakan pada tulisan ini.

Pertama-tama Rusli mengenal olahraga tinju sejak duduk dibangku SLTP pada tahun 1989. Saat itu Rusli mulai serius menyaksikan para petinju yang berlatih.

“Ya usai pulang sekolah, saya langsung menyaksikan abang-abang berlatih tinju. Apalagi sasana tinju Mutiara di bawah binaan ibu Tety Hasibuan, yang berada di Jalan Kapten Muslim itu sangat dekat dengan kediaman saya,” kata ayah dari dua putra dan satu putri dari istri Nadya Diti Sari SPd ini mengenang perjalanannya serius.

Dari melihat itulah, Rusli mulai terjun langsung berlatih. Dan bentuk keseriusan , ada yang melihat sehingga langsung mengajak untuk lebih serius lagi berlatih. Dan tepatnya pada tahun 1991, Rusli diajak untuk mengikuti seleksi untuk menghadapi kejuaraan antar sasana dan diajang itu pula, ia mendapat predikat juara terbaik.

Setelah itu pada tahun yang sama, Rusli kembali mengikuti seleksi menghadapi Kejuaraan Daerah (Kejurda) di Padangsidimpuan. Lagi-lagi Rusli yang turun di kelas 45 kg berhasil meraih predikat juara.

“Jujur saja, saya gak nyangka kok bisa meraih juara. Padahal awalnya hanya latihan-latihan biasa saja dan tak terpikir efek dari pukulan lawan. Namun saya dinilai cepat dalam mempelajari tehnik bertinju,” ucap pria yang punya hobby memancing ini sambil tersenyum.

Setelah itu, Rusli pun terpilih memperkuat kontingen Sumatera Utara pada ajang Pra PON di Semarang pada tahun 1992. Usai di Pra PON, langsung diterjunkan mengikuti Pekan Olahraga Nasional pada tahun 1993 di Jakarta. Dan diajang PON ini, ia gagal dibabak kedua, sebab lawan yang dihadapi para petinju punya nama di Indonesia saat itu.

“Wajar saja saya kalah, sebab sekali lagi saya gak tau kalau itu Pekan Olahraga Nasional. Apalagi saya merupakan petinju baru dan masih duduk dibangku kelas 3 SMA, sehingga belum banyak pengalaman. Namun saya tak langsung patah arang,” kata pria yang saat ini menjabat sebagai Kepala Seksi Kepelatihan Olahraga di UPT Kebakatan Olahraga Disporaau yang beralamat di Jalan Setia Sei Sikambing Kec Medan Helvetia Medan lagi.

Rusli kembali menuturkan, bahwa setelah PON 1993, ia kembali berlatih serius dan tak pernah absen baik mengikuti Porda, Kejurda, Pra PON bahkan PON tahun 1996 yang mana saat itu berhadapan dengan mantan atlet olympiade Emasembalo asal NTT.

Disaat melawan petinju asal NTT tersebut, Rusli harus kalah pada babak perdelapan final pada ajang empat tahunan ini ia kembali belum meraih medali. Ternyata dibalik itu, Tuhan berkata lain. Rusli malah dipanggil oleh PB Pertina Pusat untuk mengikuti Pelatihan Nasional (Pelatnas) di Jakarta. Sebab ia dinilai punya potensi besar.

“Sekali lagi waktu saya dipanggil mengikuti Pelatnas senangnya sangat luar biasa. Sebab waktu itu saya punya cita-cita ingin juara dan mengharumkan nama bangsa,” kenang Rusli kembali sambil tersenyum.

Dan dalam waktu yang sama, ternyata Rusli malah terpilih mewakili Sumut untuk mengikuti try out bersama petinju lainnya ke Kuba selama tiga bulan penuh. Disana ia dan teman-teman digembleng para pelatih terbaik negara tersebut yang mana ada juga para petinju dari Filiphina dan Denmark juga ikut berlatih.

“Sewaktu disana saya berlatih secara bersamaan dengan petinju asal Filiphina. Dan disaat Sea Game Jakarta pada tahun 1997, dan saya meraih medali perak setelah kalah dari petinju Thailand. Tapi sebelumnya saya mengalahkan petinju Laos dan Filiphina,” tambah Rusli serius.

Setelah usai Sea Game Jakarta, ia mendapat rekomendasi dari PB Pertina Pusat agar diberi pekerjaan. Dan awalnya saya bekerja di Perusahaan Daerah (PD) Pasar dari tahun 2000 hingga 2009.

“Setelah itu saya mencoba ikut melamar jadi PNS. Sebab ditahun 2010 kala itu, ada penerimaan calon pegawai negeri dari bidang pelatih berprestasi dan alhamdulillah saya lulus dan sekarang saya bertugas di Pusat Pelatihan Latihan Pelajar (PPLP) Sumut. Sebab selama dua kali PON seperti Kaltim dan Riau, semua atlet yang saya bina berhasil meraih prestasi terbaik, ” ungkap Rusli.

Jadi dari perjalanan inilah, Rusli punya harapan besar pada atlet pelajar yang di bina di PPLP Sumut agar dapat belajar dan berlatih secara sungguh-sungguh agar dapat mengharumkan nama daerah maupun bangsa diajang internasional. (kesuma)

Biodata
Nama : Rusli
Lahir : Medan 26 Juni 1973
Agama : Islam
Nama Istri : Nadya Diti Sari S.Pd

Anak
Fatihul Wahbi
Rafqa Hamizan
Azira zahra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *