DAERAH  

Hari lingkungan Hidup Sedunia, YBHI Tanam 300 Bibit Alpukat di Bantaran Sungai Deli

Mangrove
Gerakan Muda Indonesia Tionghoa (Gema INTI) menuangkan 300 liter Eco Enzym serta menabur 400 bibit ikan Nila di Sungai Deli

FORUM MEDAN | Yayasan Budaya Hijau Indonesia (YBHI) menggandeng BPBD Kota Medan menanam 300 batang bibit Alpukat di bantaran sungai Deli, Kelurahan Kota Bangun, Kecamatan Medan Deli, Minggu (5/6/2022).

Selain menanam bibit Alpukat, dalam acara Hari Lingkungan Hidup Sedunia tersebut juga menuangkan 300 liter Eco Enzym serta menabur 400 bibit ikan Nila yang dilakukan Gerakan Muda Indonesia Tionghoa (Gema INTI).

Hadir dalam acara Kadis DLH Julpansyah, Founder Yayasan Budaya Hijau Indonesia Batara, Komunitas Budha Nusantara, BNPB, Kepala Pelaksana BPBD M Husni, Tagana, Camat Medan Deli Fery Suheiri, Lurah Tanjung Mulia Hilir Hendra, Lurah Kota Bangun Pohan, GRANAT, Ketua Gema INTI drg Marthyn, Lions, Bhabinkamtibmas, Babinsa sertu Supandi, Kepsek SMPN 38 Nurhanim dan para Kepling.

Penanaman pohon buah Alpukat sebanyak 300 batang menjadi kluster kedua di bantaran sungai Deli Kota Bangun.

“Kita telah berhasil menciptakan kluster dua untuk pohon buah tropis yang kita siapkan 300 batang pohon alpukat di Bantaran Sungai Deli. Ini menjadi temuan untuk ruang terbuka hijau di kota Medan,” ungkap Founder Yayasan Budaya Hijau Indonesia, Batara kepada forumkeadilansumut.

Pertama kali penanaman pohon Rambutan di Medan Tuntungan, sekaligus menetapkan zona dan mitigasi tanggap bencana. YBHI dengan BPBD Medan akan bergandengan tangan dan bahu membahu menciptakan empat kluster lagi.

“Adapun empat kluster itu sudah direncanakan untuk penanaman pohon kelapa, kelengkeng, mangga, dan duku. Rencana selanjutnya kita akan buat di Kecamatan Medan Sunggal atau di tempat pembuangan sampah sementara sudah kita bersihkan di bantaran sungai dan rencana akan kita tanam pohon duku,” kata Batara.

Dijelaskan Batara, kluster pohon buah ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran diri masyarakat untuk merawat pohon yang nantinya akan dapat dinikmati oleh masyarakat setempat.

“Dalam rentang enam tahun kita mencoba menanam pohon keras itu tidak berhasil, yang paling minim partisipasi masyarakat untuk merawatnya karena mereka merasa itu tidak berguna bagi mereka,” tuturnya.(man)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *