Pernyataan dari salah satu pejabat negara kini tengah viral dikalangan masyarakat terutama mahasiswa, pernyataan tersebut mengenai penggunaan pinjol untuk membayar uang kuliah yang beliau anggap sebagai kemajuan teknologi.
Dikutip melalui laman berita tirto.id- Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy, menilai adopsi sistem pinjaman online (pinjol) melalui perusahaan p2p lending di lingkungan akademik adalah bentuk inovasi teknologi.
Menurut dia, inovasi teknologi dalam pembiayaan kuliah melalui pinjol sebenarnya menjadi peluang bagus namun sering kali disalahgunakan. Belum sembuh luka masyarakat terhadap pernyataan pejabat negara yang mengeluarkan statement pendidikan tinggi adalah kebutuhan tersier beberapa waktu lalu, kini masyarakat kembali dikecewakan terhadap pernyataan menteri yang mendukung pinjol sebagai inovasi pembiayaan kuliah.
Sikap pejabat yang demikian menunjukkan rusaknya paradigma kepemimpinan dalam sistem sekuler kapitalisme, yang malah mendukung pengusaha pinjol yang menghantarkan kerusakan dan merusak masyarakat. Juga membuktikan lepas tanggungjawabnya negara dalam tercapainya tujuan pendidikan.
Penerapan pinjol sebagai solusi untuk membayar uang kuliah sejatinya hanyalah halusinasi karena bukannya meringankan, dengan diterapkannya sistem pinjol tersebut masyarakat akan semakin terbebani. Beban tersebut turut dirasakan mahasiswa yang hari ini fokusnya harus terbagi-bagi, antara menimba ilmu dan memikirkan bagaimana untuk membayar uang kuliah ditengah kondisi ekonomi yang sulit. Ditambah kebijakan pinjol yang diterapkan mahasiswa juga harus memikirkan bagaimana cara untuk melunasi hutang pinjol beserta bunga yang terdapat pada pinjol.
Sangat miris entah dimana hati nurani para pemimpin, akibat beban yang berat tersebut mahasiswa tidak lagi berpikir untuk menjadi para ahli melainkan gelar pendidikan yang diraih hanya sebagai modal untuk mendapatkan pekerjaan.
Kesulitan ekonomi yang dirasakan saat ini juga menciptakan pragmatisme ditengah masyarakat bahwasannya pinjol dijadikan jalan pintas untuk mencukupi kebutuhan hidup. Realitas diatas sesungguhanya adalah bukti gagalnya negara hari ini dalam mensejahterkan masyarakat.
Sungguh kesejahteraan hanya dapat dirasakan didalam sistem Islam, bukan pada sistem yang rusak buatan manusia sistem kapitalisme sekuler yang tengah diadopsi negara hari ini. Islam menjadikan negara sebagai pihak yang bertanggungjawab atas rakyatnya dalam semua bidang kehidupan, termasuk mewujudkan kesejahteraan dan komitmen dalam mewujudkan tujuan pendidikan. Negara akan berusaha menghapuskan kebodohan ditengah masyarakat, memberikan fasilitas pendidikan geratis, dan mencetak generasi yang berkpribadian Islam, menguasai tsaqafah Islam dan ilmu terapan serta ilmu yang dimiliki para pelajar diarahkan untuk dikontrobusikan kepada masyarakat.
Islam menetapkan pejabat adalah tauladan ummat, mereka adalah sosok yang senantiasa menjaga dirinya dari prilaku kemaksiatan dan peka terhadap segala persoalan yang tengah terjadi dimasyarakat. Maka untuk menghadirkan sosok pejabat yang mampu menjalankan amanah tersebut, pejabat negara yang diangkat adalah sosok yang ahlul takwa atau orang yang benar-benar amanah dan takut kepada tuhannya. Sehingga tidak akan menyalahgunakan jabatannya untuk menyakiti hati rakyat. Teknologi yang dikembangkan didalam institusi negara Islam juga akan diarahkan sesuai dengan tuntunan syari’ah untuk membantu memudahkan aktivitas masyarakat bukan untuk menjebak masyarakat kedalam aktivitas kemaksiatan dan kerusakan seperti pinjol.
Wallahu’alam Bissawab….









