Poros Baru Washington – Moskow?Trump Gandeng Putin Selesaikan Konflik Global, Eropa Waspada

Oleh Herianto SE  / Mantan Aktivis PRD, Ketua Relawan Persatuan Nasional Sumatera Utara

Untitled 1 5
, Ketua Relawan Persatuan Nasional (RPN) Sumatera Utara, Herianto SE

Di bulan Januari 2026, hubungan antara Donald Trump dan Vladimir Putin tetap menjadi sorotan media internasional . Narasi yang berkembang lebih berfokus pada diplomasi strategis yang kontroversial :

– Undangan Dewan Perdamaian Gaza. Pada 19 – 20 Januari 2026 ; Donald Trump secara resmi mengundang Vladimir Putin untuk bergabung dalam Dewan Perdamaian (Board of Piece) guna membahas konflik di Gaza. Langkah ini mengejutkan komunitas internasional karena dianggap mengesampingkan peran sekutu tradisional AS dan memberikan panggung besar bagi Rusia di Timur Tengah .
– Dinamika Perang Ukraina. Meski sempat menunjukkan keakraban di awal 2025 , hubungan keduanya sempat memburuk di akhir tahun tersebut karena Putin menolak usulan gencatan senjata langsung yang diajukan Trump . Trump bahkan sempat mengancam akan memberikan sanksi seratus persen bagi negara yang berbisnis dengan Rusia jika perang tidak segera diakhiri .
– Sinyal kerjasama Nuklir , Trump memberikan sinyal positip untuk memperpanjang perjanjian pengurangan senjata nuklir ( New Start ) yang akan berakhir pada Februari 2026 , mengikuti tawaran dari Moskow .

Menyikapi ini Herianto , SE mantan aktivis PRD melihat ini sebagai ” Drama Politik Global ” antara dua kekuatan militer terbesar dunia AS dan Rusia dalam upaya menanamkan pengaruh yang lebih besar terhadap kepentingan keamanan dan ekonomi yang dinamis di dunia .

AS dan Rusia ingin memperluas kepentingan ekonomi nya di dunia dengan menguasi negara yang kaya akan sumber daya energi mineral , minyak dan gas untuk menjadi mitra kerjasama ekonomi yang saling menguntungkan baik bagi kepentingan ekonomi kedua negara maupun dalam upaya memajukan kerjasama ekonomi negara di kawasan dunia .

Perang bisa menjadi alat alternatif jika dibutuhkan tentunya dengan berbagai pertimbangan untung rugi , dan harus menguntungkan secara ekonomi bagi kedua negara ( transaksional ) dan negara kawasan penghasil mineral , energi dan gas dalam upaya meningkatkan tatanan perekonomian dunia .

AS – Rusia Bestian

Di luar jangkauan radar publik dan sorotan media internasional , hubungan antara Rusia dan AS ( klan Partai Republik ) sesungguhnya sudah lama terjalin melalui jalur informal yang konsisten , membentuk kemitraan dengan diam – diam merawat kepentingan strategis kedua belah pihak selama enam dekade belakangan ini .

– Fase pada zaman Presiden AS Richard Nixon ( 1969 – 1974 ) .

Pada zaman Presiden AS Richard Nixon ( klan Partai Republik ) , hubungan antara Uni Soviet ( Kremlin ) dan AS mengalami perbaikan signifikan mengurangi bahayanya perang dingin sebelumnya . Nixon mengadopsi kebijakan luar negeri yang dikenal sebagai Detente ( Peredaan Ketegangan ) untuk mengurangi bahaya perang dingin . Pendekatan ini menjadi perubahan besar dari kebijakan konfrontasi sebelumnya. Kebijakan Detente ini bertujuan untuk meredakan ketegangan geopolitik antara AS dan Uni Soviet ( dan Tiongkok ) dengan mendorong dialog dan negosiasi , alih – alih konfrontasi militer ?

Benih Oligarkhi di Rusia mulai tumbuh di era ini 1970 – 1980 selama periode ” Stagnasi Brezhnev ” .

– Era Nomenklatura di bawah kepemimpinan Leonid Brezhnev ; sistem ekonomi sentral Soviet mulai mandek . Kelompok Nomenklatura ( Bureaucratic elit ) yang memegang posisi kunci mulai menikmati hak istimewa ekonomi , sosial dan psikologis yang signifikan dibandingkan warga biasa .
– Peran Pasar Gelap ; Pada periode ini , Pemerintah Soviet mulai menyadari ketidakmampuan sistem terpusat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat . Hal ini memicu pertumbuhan pasar gelap dan jaringan informal di mana kelompok tertentu mulai menguasai sumber daya negara .

Di fase ini oligarkhi di Soviet mulai bangun kerjasama ekonomi dengan AS , meskipun belum begitu maksimal .

– Fase Perjanjian Belosheva di zaman Boris Yeltsin .

Pada Desember 1991 Boris Yeltsin ( Rusia ) , Kravchuck ( Ukraina ) , dan Shuskevich ( Belarus ) menandatangani perjanjian yang menyatakan Uni Soviet bubar dan membentuk persemakmuran negara – negara merdeka ( CIS ) . Setelah Soviet bubar , Yeltsin menerapkan Reformasi ekonomi radikal yang dikenal sebagai Terapi Kejut ( Shock Therapy ) untuk mengubah ekonomi terencana ( komunis ) menjadi kapitalisme pasar bebas secara cepat .

Langkah utama adalah melepas harga pada Januari 1992 , yang bertujuan menghentikan kelangkaan barang . Namun mengakibatkan hiperinflasi dan menghancurkan tabungan warga Rusia .

Amerika Serikat di bawah George HW Bush Presiden AS ( Partai Republik ) memberikan dukungan politik dan ekonomi yang konsisten kepada Yeltsin , menganggapnya sebagai mitra terbaik untuk transisi demokrasi dan pasar . Lembaga keuangan internasional IMF dan World Bank yang dipengaruhi oleh AS, memberikan bantuan teknis senilai miliaran Dollar AS untuk mendukung Reformasi ekonomi . Akhirnya Rusia melakukan privatisasi besar – besaran terhadap perusahaan negara , yang kemudian memicu kebangkitan oligarkhi Rusia .

Penasehat Ekonomi AS berperan dan merancang program Privatisasi dan Terapi Terkejut .

Oligarkhi dalam bentuk modernnya — pengusaha yang menguasai sebagian besar ekonomi dan mempengaruhi politik — muncul setelah bubarnya Uni Soviet pada tahun 1991 . Melalui skema ” Pinjaman untuk Saham ” ( Loans for Shares ) di era Boris Yeltsin , aset negara yang bernilai tinggi di jual murah kepada kelompok kecil orang .

– Fase Vladimir Putin , saat Vladimir Putin berkuasa , ia memangkas kekuasaan oligarkhi politik seperti Boris Berezovsky tetapi tetap mempertahankan struktur oligarkhi bisnis di mana pengusaha besar memiliki pengaruh ekonomi yang kuat .

Beberapa oligarkhi Rusia yang lahir dari era Privatisasi Yeltsin ( 1990 an ) dan mengokohkan di bawah kekuasaan Vladimir Putin memiliki pengaruh dan koneksi signifikan di AS , khususnya terkait lingkungan bisnis Donald Trump selama masa kampanye 2016 hingga kepresidenan nya . Oligarkhi Rusia ini menjadi bankir pribadi dan sekutu Putin , berinvestasi besar – besaran di properti Trump selama bertahun – tahun . Termasuk tingginya interaksi antara team kampanye Trump dengan individu – individu yang terhubung dengan Rusia .

– Ketegangan dengan NATO dan isu Greenland .

Trump sedang dalam konflik terbuka dengan sekutu NATO terkait rencana aneksasi atau pengambil alihan Greenland . Langkah kebijakan Trump ini dilandasi atas upaya beberapa anggota NATO yang secara diam – diam berupaya menjadikan lautan Arktik Greenland sebagai sumber migas baru alternatif menutupi kebutuhan energy Eropa yang selama ini sangat bergantung kepada Rusia .Sebagaimana kita ketahui Rusia merupakan pemasok energy gas terbesar di Eropa . Tentunya temuan dan alternatif sumber migas baru di lautan Arktik akan berdampak langsung atas berkurangnya penjualan energy gas Rusia di pasar Eropa . Sementara Amerika berupaya untuk menutupi kebutuhan energy dalam negeri dengan menjadikan sumber energi di lautan Arktik Green land sebagai sumber alternatif ke depan . Dua kekuatan militer terbesar akan menyatu dalam satu kepentingan penguasaan migas dunia , untuk menutupi kebutuhan energy dalam negeri masing – masing serta menjaga pasar dunia agar tetap jadi mitra kerjasama strategis yang saling menguntungkan secara ekonomi .

Penulis adalah Herianto SE  / Mantan Aktivis PRD, Ketua Relawan Persatuan Nasional Sumatera Utara