OPINI  

Generasi Sadis di Medan, Buah Sekularisme yang Menyesatkan

images 1

Oleh: Susan Efrina (Aktivis Muslimah)

Kasus kekerasan dalam keluarga kembali terjadi di Indonesia. Sat Reskrim Polres Pelabuhan Belawan bersama Bhabinkamtibmas Kelurahan Titi Papan menangkap MA (25) yang diduga telah membakar ayah kandungnya. Insiden ini dipicu oleh cekcok terkait dagangan yang tidak laku. Tersangka menuduh ayahnya telah mengguna-gunainya, kemudian menyiram tubuh korban dengan bensin sebelum menyalakan api. Setelah mendapat laporan dari warga sekitar, polisi segera menangkap tersangka meskipun sempat terjadi perlawanan.

Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Belawan, AKP Riffi Noor Faizal, menyampaikan bahwa tersangka saat ini menjalani pemeriksaan untuk penyelidikan lebih lanjut. “Saat ini tersangka telah diamankan di Sat Reskrim Polres Pelabuhan Belawan untuk menjalani proses penyidikan lebih lanjut. Polres Pelabuhan Belawan mengimbau masyarakat untuk terus melaporkan tindak kriminal yang terjadi di lingkungan sekitar demi menjaga keamanan dan ketertiban bersama,” tuturnya (CNNIndonesia.com, 14/2/2025).

Kasus ini menambah daftar panjang tindak kriminal yang terjadi akibat lemahnya kontrol diri dan rapuhnya pemahaman terhadap nilai-nilai kehidupan. Fenomena ini tidak lepas dari pengaruh sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, menyebabkan individu kehilangan pegangan yang benar dalam menimbang persoalan hidup, termasuk dalam hal kepercayaan terhadap hal-hal gaib.

Sekularisme dan Lemahnya Akidah Umat

Maraknya kepercayaan terhadap takhayul dan praktik supranatural menunjukkan lemahnya pemahaman Islam yang benar di kalangan masyarakat. Banyak orang lebih percaya kepada dukun atau paranormal dibandingkan kepada Al-Qur’an dan hadis. Hal ini sangat memprihatinkan karena menandakan kerusakan akidah umat yang terpengaruh oleh sistem sekuler.

Sekularisme mengajarkan manusia untuk memisahkan agama dari kehidupan, sehingga banyak individu kehilangan arah dan tidak memiliki pedoman yang kuat dalam bertindak. Akibatnya, mereka mudah terjebak dalam pemikiran mistik yang merusak logika dan hubungan sosial. Sekularisme juga menciptakan manusia yang miskin iman, tidak mampu mengendalikan emosi, dan mengalami kehampaan spiritual.

Sistem ini makin memperparah kondisi masyarakat dengan mengabaikan aspek moral dan etika dalam kehidupan. Kapitalisme yang berjalan beriringan dengan sekularisme menjadikan materi sebagai tujuan utama, sehingga banyak anak yang mengabaikan kewajiban berbakti kepada orang tua (birrul walidain). Sistem pendidikan yang diterapkan pun berorientasi pada materi semata, tanpa menanamkan nilai-nilai Islam yang dapat membentuk karakter baik dan saleh.

Pendidikan dalam Islam: Membangun Generasi Berakhlak Mulia

Dalam Islam, pendidikan tidak hanya bertujuan untuk mencerdaskan individu dalam bidang sains dan teknologi, tetapi juga untuk membentuk manusia yang memiliki kepribadian Islam serta taat terhadap syariat. Pendidikan dalam Islam harus berlandaskan akidah Islam, sehingga setiap individu memiliki pemahaman yang kuat mengenai kewajiban sebagai hamba Allah.

Islam mengajarkan pentingnya membangun generasi yang memiliki pemikiran yang kukuh, iman yang kuat, serta tanggung jawab dalam setiap perbuatannya. Sistem pendidikan Islam tidak hanya membekali anak didik dengan ilmu pengetahuan seperti matematika, sains, dan teknologi, tetapi juga dengan pemahaman yang mendalam tentang agama.

Dalam pendidikan Islam, individu juga dibentuk agar mampu mengendalikan naluri mempertahankan diri (gharizah baqa’), sehingga mereka tidak mudah tersulut emosi atau terjerumus dalam hawa nafsu. Dengan demikian, masyarakat yang bertakwa kepada Allah akan tercipta, dan tindakan sadis seperti membakar orang tua sendiri tidak akan terjadi.

Peran Negara dalam Pendidikan Islam

Pendidikan dalam Islam bukan hanya tanggung jawab individu atau keluarga, tetapi juga menjadi kewajiban negara. Pemerintah memiliki peran penting dalam menyelenggarakan sistem pendidikan yang berbasis akidah Islam guna mencetak generasi yang bertakwa dan berakhlak mulia. Rasulullah saw. bersabda: “Imam (kepala negara) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya.” (h.r. Bukhari & Muslim).

Dalam Islam, negara wajib memastikan bahwa setiap warga negaranya mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan syariat. Pemerintah bertanggung jawab dalam membentuk generasi yang memahami nilai-nilai Islam, sehingga mereka tidak mudah terjerumus dalam pemikiran sekuler yang merusak.

Islam sebagai Solusi Hakiki

Penerapan sekularisme dalam kehidupan telah melahirkan generasi yang jauh dari agama dan kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Sistem ini gagal membangun individu yang memiliki akhlak dan keimanan yang kuat. Sebaliknya, Islam menawarkan solusi hakiki dengan memberikan pedoman hidup yang jelas melalui syariat.

Ketika Islam diterapkan secara menyeluruh, masyarakat akan terbentuk dengan akhlak yang baik, memiliki kontrol diri yang kuat, serta memahami kewajiban mereka terhadap Allah dan sesama manusia. Dalam sistem Islam, pemerintah akan memastikan bahwa pendidikan berbasis akidah Islam diterapkan dengan benar, sehingga generasi yang lahir adalah generasi yang bertakwa, cerdas, dan memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi.

Oleh karena itu, sudah saatnya umat Islam kembali kepada sistem Islam yang menjamin kehidupan yang lebih baik. Masyarakat harus menyadari bahwa solusi dari berbagai permasalahan yang terjadi saat ini bukanlah dengan tetap bertahan dalam sistem sekuler, melainkan dengan menerapkan Islam secara menyeluruh dalam setiap aspek kehidupan.

Wallahualam bissawab.

Penulis: Susan Efrina (Aktivis Muslimah)