Gerakan SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah Satukan Komunitas Lintas Iman untuk Aksi Keadilan Iklim

Melalui SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah, anak muda dan organisasi keagamaan lintas iman mengembangkan pendidikan lingkungan, usaha ramah lingkungan, serta advokasi kebijakan untuk menghadapi krisis iklim

IMG 20261030 WA0047 scaled
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Syafiq A. Mughni, menyampaikan pidato kunci dalam kegiatan SMILE: Learning and Shaping the Future di Jakarta, Kamis (29/10/2026). Ia menekankan pentingnya mewujudkan nilai-nilai agama melalui tindakan nyata untuk menjaga lingkungan dan memperjuangkan keadilan iklim.

FORUM JAKARTA — Menghadapi krisis iklim tidak cukup hanya dengan meningkatkan kesadaran. Perubahan membutuhkan keterlibatan masyarakat, kerja bersama lintas agama, serta kemampuan mengubah kepedulian menjadi tindakan nyata. Berbagai komunitas menunjukkan bahwa upaya merawat lingkungan dapat dimulai dari persoalan sehari-hari, mulai dari pengelolaan sampah hingga pengembangan usaha ramah lingkungan dan advokasi kebijakan.

Semangat tersebut mengemuka dalam SMILE: Learning and Shaping the Future—Pembelajaran dan Masa Depan Anak Muda untuk Keadilan Iklim, yang diselenggarakan Eco Bhinneka Muhammadiyah di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Kamis (29/10/2026).

Selama dua tahun, program SMILE (Strengthening Youth Multifaith Leader Initiative on Climate Justice through Ecofeminism) melibatkan pemuda lintas iman di sembilan wilayah, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Sumatera Utara, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sulawesi Selatan, dan Maluku Utara. Program yang didukung Ford Foundation dan Kementerian Dalam Negeri ini mengembangkan tiga pendekatan utama, yakni ekoliterasi, ekososiopreneurship, serta advokasi dan kampanye.

Rangkaian acara meliputi pameran praktik baik melalui gallery walk, pidato kunci, peluncuran buku, penampilan hiburan, diskusi lintas iman, pemutaran film dokumenter, serta tiga sesi pembelajaran tematik tentang ekoliterasi, ekososiopreneurship, dan advokasi-kampanye.

Hening Parlan, Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah, menegaskan bahwa upaya merawat bumi dan menjaga masa depan generasi merupakan pekerjaan panjang yang membutuhkan keterlibatan semua pihak. “Indonesia tidak cukup dikerjakan oleh satu agama. Bumi kita satu, satu untuk semua, dan kita semua hidup di dalam bumi yang satu. Dalam kerja-kerja kemanusiaan, tidak seharusnya ada batas yang memisahkan,” ujarnya. Hening mengajak seluruh peserta untuk terus bersemangat, menjaga koneksi, dan memperkuat kolaborasi demi keberlanjutan gerakan bersama.

Dari Persoalan Sehari-hari Menjadi Aksi Nyata

Dalam pidato kunci, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Syafiq A. Mughni, menekankan bahwa nilai-nilai agama perlu diwujudkan dalam tindakan nyata untuk menjaga lingkungan dan mewujudkan keadilan iklim. Ia mengingatkan bahwa setiap perbuatan, sekecil apa pun, memiliki makna dan konsekuensi. Mengutip ajaran Al-Qur’an, ia menjelaskan bahwa setiap kebaikan maupun keburukan seberat zarah akan mendapatkan balasannya. “Zarah, yang diibaratkan sebagai biji sawi, menggambarkan sesuatu yang sangat kecil, tetapi tetap berada dalam pengetahuan Allah,” ujarnya.

Menurut Prof. Syafiq, kepedulian terhadap lingkungan perlu diwujudkan melalui tindakan nyata yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia juga menilai bahwa gerakan dakwah amar makruf nahi mungkar sejalan dengan upaya mendorong perubahan menuju kebaikan, termasuk melalui advokasi yang melibatkan masyarakat dan para pengambil kebijakan. “Kita perlu melakukan tindakan nyata yang mengarah pada terwujudnya climate justice atau keadilan iklim,” tegasnya.

Pada pameran atau Gallery Walk, berbagai praktik baik yang dipamerkan memperlihatkan bahwa aksi lingkungan dapat tumbuh dari potensi lokal.

IMG 20261030 WA0048
Peserta SMILE: Learning and Shaping the Future Eco Bhinneka Muhammadiyah dari sembilan provinsi berkumpul di Jakarta, Kamis (29/10/2026). Selama dua tahun, program ini memperkuat kepemimpinan pemuda lintas iman untuk mewujudkan keadilan iklim. Foto: dok. Eco Bhinneka / Fajar

Pembelajaran mengenai praktik tersebut diperluas melalui tiga sesi paralel pada siang hari. Sesi ekoliterasi membahas pendidikan lingkungan melalui keluarga, sekolah, media kreatif, board book, gamifikasi, dan dialog lintas iman.

Sesi ekososiopreneurship mengangkat pengembangan usaha berbasis potensi lokal dan pemanfaatan limbah untuk menciptakan nilai tambah sekaligus memperkuat peran perempuan dan pemuda. Adapun sesi advokasi dan kampanye membahas pengorganisasian masyarakat, penguatan jejaring pemuda lintas iman, penyusunan rekomendasi kebijakan, serta upaya mendorong perubahan dalam pengelolaan lingkungan.

Pada saat yang sama, kegiatan paralel juga menghadirkan pemutaran dan diskusi film dokumenter The Season of Extinction. Film tersebut mengajak peserta melihat kehidupan masyarakat yang terhubung dengan kawasan karst Pracimantoro dan merefleksikan relasi manusia dengan alam. Diskusi membahas proses riset dan produksi film, pengalaman warga, peran media dalam menyampaikan isu lingkungan, serta perspektif ekofeminisme dalam merepresentasikan hubungan manusia dengan alam.

Kolaborasi Lintas Iman dan Keberlanjutan Gerakan

Rangkaian kegiatan ini menghadirkan sesi “Berbagi Refleksi: Merawat Kolaborasi untuk Keadilan Iklim”. Dipandu Ahsan Jamet Hamidi dari Eco Bhinneka Muhammadiyah, sesi tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk bertukar pengalaman, menyampaikan pandangan, serta merumuskan harapan bagi keberlanjutan inisiatif lingkungan.

Ria Cornelis dari Eco GPIB menceritakan kegiatan ekologis gereja, mulai dari penanaman mangrove dan kunjungan ekologi hingga pelatihan kepemimpinan pemuda gereja. Dari Gereja Katedral, Tatuk menjelaskan upaya mengurangi botol plastik sekali pakai serta memanfaatkan sampah plastik menjadi barang berguna.

Edi Saputra dari Himpunan Difabel Muhammadiyah (HIDIMU) menegaskan bahwa penyandang disabilitas memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk berkontribusi menjaga lingkungan. Sementara itu, Anggun dari Pemuda Agama Khonghucu Indonesia (PAKIN) menemukan kesamaan nilai lintas agama dalam hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Baginya, kepedulian terhadap lingkungan juga merupakan bentuk bakti.

Susilawati dari ‘Aisyiyah DKI Jakarta menyoroti hubungan persoalan lingkungan dengan kehidupan sosial dan ekonomi, termasuk peluang mengolah minyak jelantah menjadi sabun serta kardus bekas menjadi media budidaya jamur. Perwakilan LDII, Agus, berharap pembelajaran bersama Muhammadiyah dapat memperkuat sinergi lintas organisasi keagamaan. Dari kalangan pemuda, Anam dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) berharap pendampingan bagi anak muda terus berlanjut agar kepedulian lingkungan berkembang menjadi aksi nyata di sekolah dan masyarakat.

Farah Sofa dari Ford Foundation menyoroti pentingnya kepemilikan lokal, dampak yang terukur, dan narasi yang kuat untuk menjaga keberlanjutan gerakan sosial dan lingkungan. Menurutnya, berbagai inisiatif yang tumbuh di tingkat komunitas menunjukkan bahwa kolaborasi dapat terus berkembang dan menghasilkan perubahan nyata.

“Ini seperti benih yang ditanam, yang akan tumbuh menjadi pohon,” ujar Farah. Ia berharap kepercayaan, kreativitas, dan kolaborasi yang telah dibangun Eco Bhinneka Muhammadiyah melalui program SMILE terus bertumbuh, memperkuat gerakan lintas iman, dan berkontribusi pada terwujudnya keadilan iklim. ***(red)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *