Malam harinya, Irjen Oegroseno langsung turun ke Dolok Masihol, menyusun strategi untuk menangkap gerombolan bersenjata itu. Persis pada 1 Oktober 2010 dini hari, petugas menyergap kawanan pelaku. Baku tembak kembali terjadi antara petugas kepolisian dengan kelompok bersenjata itu.
Puncak kebersamaan ini terjadi pada 2 Oktober, sehari setelah Hari Kesaktian Pancasila. Irjen Oegroseno bersama Wakapolda Sumut, saat itu dijabat Brigjen Syafruddin, Dansat Brimob Polda Sumut Kombes Pol Verdianto Bitticaca dan anak buahnya, langsung turun ke lokasi perkebunan. Aparat TNI juga menurunkan pasukannya.
Pengepungan mengelilingi perkebunan menjadi skenario terbaik. Ini dilakukan agar komplotan ini tidak bisa kabur lagi. Di luar dugaan, masyarakat juga ikut bergabung bersama polisi. Dengan menggunakan sentir dan lampu petromak, masyarakat ikut berjaga di luar kebun.

Irjen Oegroseno, Brigjen Syafruddin, Dansat Brimob Polda Sumut Kombes Pol Verdianto Bitticaca dan anak buahnya, langsung menyusuri dalam kebun. Mereka juga turun menyusuri derasnya sungai. Pencarian di dalam kebun dilakukan petugas lain. Dalam pengejaran itu, kekompakan pasukan Brimob dengan Sabhara, terlihat sangat jelas.
Tidak pelak lagi, prediksi pimpinan Polda Sumut tidak meleset. Kontak senjata tidak dapat terelakkan lagi. Tidak hanya memiliki senjata M16 maupun jenis revolver, kawanan pelaku ternyata memiliki granat. Meski demikian, polisi tetap ekstra hati – hati di tengah kontak senjata itu.
Strategi penumpasan ini pun membuahkan hasil. Sebanyak 8 orang pelaku bersenjata tewas dalam baku tembak. Sedangkan 3 orang lagi ditangkap dalam kondisi hidup. Satu orang lagi yang merupakan otak pelaku berhasil kabur. Setelah itu, tugas polisi ternyata belum selesai juga.
Berdasarkan keterangan dari salah seorang pelaku yang ditangkap dalam keadaan hidup, ada senjata menyerupai jenis FN, yang jatuh di sungai. Sedangkan senjata M16 milik Imanuel Simanjuntak, sudah ditemukan petugas. Senjata milik alm Imanuel sebelumnya disebutkan terjatuh di sungai. Saat itu, pimpinan Polda Sumut memerintahkan anggotanya melakukan pencarian.
Pencarian senjata dilakukan dengan mengerahkan petugas – petugas handal di lapangan. Tidak menggunakan alat canggih, hanya memanfaatkan alat seadanya. Hasilnya kembali memuaskan, salah satu senjata yang komplotan sadis ini, akhirnya ditemukan di dasar sungai.
Gerombolan bersenjata ini ternyata berada di dalam kebun karena sedang mempersiapkan aksi perampokan. Mereka berencana ingin merampok gaji karyawan PT Inalum. Mereka mengetahui jadwal pengambilan gaji dari bank. Namun aksi itu gagal setelah kontak senjata dengan petugas.
Prestasi gemilang itu yang menjadikan tanggal 2 Oktober ini dianggap masyarakat sebagai Hari Kesaktian Polda Sumut. Institusi ini juga dinilai sakti karena dua bulan sebelum pengungkapan kasus komplotan bersenjata sadis ini, Polda Sumut bekerjasama dengan Poltabes Medan, juga berhasil menangkap 7 orang teroris asal Aceh.
Penangkapan di lakukan di sekitar Medan Kota. Komplotan teroris yang memiliki senjata dan granat itu ditangkap itu tanpa terjadi kontak senjata. Dalam hal ini, polisi dinilai berhasil dengan prestasi memuaskan, tanpa ada melakukan rekayasa. Saat ini, hari kesaktian itu pun masih dinantikan. Semoga! (Penulis: Arnold H Sianturi)









