OPINI  

Kesehatan Anak Terancam, di Mana Peran Negara?

depositphotos 190835086 stock illustration mother took her boy to
Gambar Ilustrasi

Begitu juga dengan pelayanan rumah sakit yang akan diberikan kepada rakyat. Setiap rumah sakit dipastikan memiliki pelayan berkualitas dan terbaik, jika salah pelayanan pemimpin akan memberikan peringatan agar tidak ada kecerobohan dalam menangani umat. Soal biaya pun bagi rakyat yang tidak mampu tetap dilayani secara gratis, jika ada yang mampu tidaklah sampai berjuta-juta bahkan bisa saja gratis secara merata.

Karena jaminan kesehatan dalam Islam memang suatu kewajiban yang harus dipenuhi pemimpin bukan berdasarkan belah kasihan atau demi keuntungan semata, dan ini sudah pernah diterapkan selama 1300 tahun lamanya. Bagi orang terdahulu yang telah kenikmatan pelayanan kesehatan dalam naungan Islam 13 abad bukanlah waktu yang singkat, melainkan lama dan penuh makna kesejahteraan merata.

Pertanyaannya atas dasar apa jaminan kesehatan, makanan atau minuman, dan obat-obatan dijamin oleh pemimpin Islam? Atas dasar keimananlah sehingga pemimpin mampu menangani persoalan umat dan rida memberikan hak umat tanpa harus ditutup rapat atau bahkan dinikmati seorang diri bersama keluarga. Ciri-ciri pemimpin seperti ini tidak akan pernah ada selama syariah diterapkan secara sempurna dalam kehidupan manusia.

Lantas, bagaimana tanggung jawab pemimpin era demokrasi sekarang, mengapa jaminan kesehatan rakyat susah dijamin, bahkan nyawa saja tidak ada harganya? Tanggung jawab pemimpin sekarang belum ada dan tidak tuntas jika nyawa rakyat saja dengan mudahnya tiada tanpa dirawat dengan baik, memberikan pelayanan terbaik saja tidak dilakukan bagaimana pemerintahannya dikatakan tuntas menjalankan tugas sebagai pemerintah.

Padahal, dalam Islam sudah dijelaskan, jangankan membunuh diharamkan, tidak menjaga rasa aman dan mendatangkan bahaya pada orang lain (rakyat) pun diharamkan. Nabi saw. bersabda, “Siapa saja yang membahayakan orang lain, Allah akan menimpakan bahaya kepada dirinya. Siapa saja menyusahkan orang lain, Allah akan menimpakan kesusahan kepada dirinya.” (h.r. Al-Hakim).

Apalagi, kasus gejala ginjal akut ini menimpa anak-anak yang mereka ini adalah generasi penerus bangsa. Keberadaannya, semestinya menjadi aset peradaban yang tidak boleh diabaikan pemerintah. Rasulullah saw. bersabda, “Imam atau khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat diurusnya.” (h.r. Muslim dan Ahmad).

Nabi saw. juga bersabda, “Sesungguhnya imam atau khalifah itu perisai orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung. Jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika memerintahkan yang selainnya maka ia harus bertanggung jawab atasnya.” (h.r. Muslim).

Untuk itu, belajar dari kasus ginjal akut yang menimpa anak-anak ini harusnya menjadi tamparan keras bagi pemimpin di mana dari kepemimpinannyalah Allah akan meminta pertanggungjawaban. Dari kasus ini juga menyadarkan umat bahwa segala jaminan apa pun tidak pernah diselesaikan dengan baik ketika sistem yang dipakai bukanlah mengikuti rambu syarak, melainkan akal pikir manusia yang jelas banyak menimbulkan mudarat bagi kehidupan, dan nasib generasi makin kacau karena belum selesai permasalahan yang ada menimpa generasi, kini harus mengalami hal baru, dan itu tidaklah mampu terselesaikan.

Apakah masih rela dijerat oleh sistem yang tidak berpihak pada rakyat bahkan nyawa tiada lagi harganya?

Wallahualam bissawab.