Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan, pemerintah akan menyiapkan lahan tanam kedelai seluas 10 ribu hektare untuk mendukung ketersediaan pasokan kedelai dalam negeri. Menurut dia, gerakan tanam kedelai di Indonesia harus terus digalakkan agar ketersediaan kedelai bagi pelaku ekonomi dapat terpenuhi. Ketua Komisi IV DPR Sudin mengatakan, akan rapat dengan Badan Pangan Nasional sebagai penyanggah pangan nasional terkait dengan produktivitas pertanian. Dia juga akan mendiskusikan hasil kedelai yang telah disubsidi karena petani tidak akan menanam kedelai kalau tidak disubsidi. Pemerintah berharap petani akan memetik hasil pada masa yang akan datang. Republika. (Jumat 02 Jun 2023).
Ketahanan pangan adalah persoalan penting bagi suatu bangsa. Upaya yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah pangan jelas bersifat sementara. Tidak akan dapat membuat masyarakat langsung keluar dari masalah utama ketika hanya dengan memberikan bantuan. Ketahanan pangan bukan sekadar memastikan masyarakat dapat makan beberapa bulan, melainkan harus menjamin kebutuhan rakyat terpenuhi selama hidupnya. Ibarat penyakit, yang diobati hanya rasa nyerinya sehingga penyebab utama penyakit itu akan terus ada. Ini tentu menyebabkan penderita selalu merasakan sakit. Meskipun ada obat pereda nyeri, tetapi sifatnya sementara.
Itulah gambaran pada masalah ini. Penyelesaian secara praktis dalam masalah ketahanan pangan hanya dapat mengatasi permasalahan luar dan bersifat sementara. Itu pun sekadar untuk kelompok tertentu. Selama penyebab utama masalah tidak teratasi, kondisi masyarakat akan tetap memprihatinkan. Dan ketahanan pangan berkaitan erat dengan kualitas SDM. Sayangnya hal ini masih belum diperhatikan secara serius oleh pemerintah. Padahal negeri ini merupakan negeri yang kaya, baik dari sisi SDA ataupun SDM. Dengan kekayaan ini, logikanya akan mencukupi kebutuhan masyarakat. Hanya saja, kondisi masyarakat yang sebagian besar berada pada garis menengah ke bawah membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.
Lihat saja, masyarakat sulit membeli kebutuhan sehari-hari karena keuangan mereka terbatas, harga kebutuhan pokok melonjak, atau ketersediaan kebutuhan pokok langka. Kesulitan keuangan itu terjadi karena gaji mereka kecil, usaha mereka gulung tikar, ataupun mengalami PHK. Semua itu mempersulit masyarakat memenuhi kebutuhannya. Ketahanan pangan juga berhubungan dengan ketersediaan bahan pokok. Pada kenyataannya, petani negeri ini mengalami kesulitan dalam bertani. Mereka susah mencari pupuk, kalaupun ada, harganya mahal. Mereka dihadapkan dengan hama tanaman yang merusak pertanian atau teknologi pertanian yang masih tradisional. Meskipun ada bantuan pemerintah, jumlahnya terbatas dan masih membuat sulit para petani, kecuali para petani yang memiliki modal besar, mereka baru dapat keuntungan. Namun, mayoritas petani negeri ini bukanlah petani kaya. Semua masalah ini akibat penerapan kapitalisme. Ideologi berasaskan sekulerisme liberalisme yang telah memberi kebebasan para kapitalis menguasai berbagai usaha, mulai dari hulu, distribusi hingga hilir. Akhirnya, para petani kesulitan mendapatkan stok pupuk, obat-obatan, dll.
Kapitalisme membuat peran negara yang harusnya mengurusi kebutuhan rakyat hanya sebatas regulator. Pemegang kebijakan akan membuat regulasi yang pada kenyataannya justru banyak menguntungkan para kapitalis. Banyak perusahaan swasta justru menguasai industri pangan, seperti beras, minyak sawit, ikan, dsb.
Berbeda dengan Islam. Sebagai agama yang sempurna, Islam akan menyelesaikan permasalahan ini secara fundamental (dari dasar). Ini karena Negara wajib menjadikan Islam sebagai landasan dalam membuat aturan. Negara wajib menjalankan syariat Islam dengan kaffah agar masyarakat dapat hidup berkah, termasuk dalam mewujudkan ketahanan pangan. Ketahanan pangan merupakan salah satu pilar ketahanan negara dalam kondisi apa pun, keadaan tenang, bencana, atau peperangan. Pangan bukanlah sekadar masalah ekonomi, tetapi termasuk masalah politik. Pemimpin harus memiliki politik ketahanan pangan untuk mewujudkan ketahanan pangan yang kuat. Islam akan menjadikan seorang pemimpin menerapkan sistem ekonomi Islam.
Sistem ekonomi ini akan melahirkan kebijakan yang benar dalam pengelolaan, pendapatan, sampai seluruh transaksi harus berdasarkan pada Islam. Misalnya, bidang pertanian, perikanan, ataupun kelautan, akan diserahkan pada ahlinya. Semua bidang itu akan mendapat pembiayaan yang cukup dan negara senantiasa mendorong mereka untuk mengembangkannya. Negara juga berkewajiban memenuhi seluruh hajat rakyatnya sehingga bertanggung jawab mengelola rantai pangan, mulai dari produksi, distribusi, sampai konsumsi. Negara tidak boleh membiarkan seluruh rantai itu berjalan sendiri atau menyerahkan pada swasta. Ia harus mengawasi sehingga tidak ada pemodal atau pihak lain yang bisa merusak harga, berbuat curang, ataupun menimbun barang. Ketahanan pangan bukanlah sekadar memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi, melainkan juga menjamin pangan yang rakyat konsumsi halal dan tayib. Semua ini hanya bisa terlaksana jika negara mengambil Islam sebagai solusi fundamental. Islam memberikan jawaban dengan adanya sistem pemerintahan Islam yang akan menjadikan Islam sebagai landasan pengambilan kebijakan. Wallahu’alam Bissawab.









