Dalam beberapa kasus, racun ini juga dapat merusak organ lain, termasuk jantung, otak, dan ginjal, sehingga berpotensi menimbulkan komplikasi yang mengancam jiwa. Jika tidak ditangani, bakteri penyebab difteri dapat mengeluarkan racun yang merusak jantung, ginjal, atau otak.
Difteri juga sangat mudah menular. Seseorang bisa tertular difteri bila tidak sengaja menghirup atau menelan percikan air liur yang dikeluarkan penderita saat batuk atau bersin.
Penularan juga bisa terjadi jika menyentuh benda yang sudah terkontaminasi air liur penderita, seperti gelas atau sendok, hingga sentuhan pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita.
Menurut Dinas Kesehatan Aceh, anak-anak dengan usia dibawah 5 tahun dan orang dewasa di atas 60 tahun lebih berisiko terkena penyakit difteri.
Risiko terserang difteri juga akan lebih rentan menyerang orang yang tidak mendapat imunisasi secara lengkap atau tidak mendapat imunisasi sama sekali. “Status imunisasi berhubungan dengan tingkat keparahan penyakit,” kata Kadinkes Aceh Utara Amir Syarifuddin, SKM.
Selain itu, difteri juga lebih berisiko terjadi pada orang yang:
- Tinggal di area padat penduduk atau buruk kebersihannya.
- Bepergian ke wilayah yang sedang terjadi wabah difteri.
- Memiliki daya tahan tubuh lemah, misalnya karena menderita AIDS.
PENCEGAHAN DIFTERI
Penyakit difteri dapat dicegah dengan melakukan beberapa upaya. Namun satu-satunya pencegahan difteri yang diyakini paling efektif adalah mendapatkan vaksinasi difteri.







