Indonesia kembali berduka akibat pertandingan sepak bola yang menghilangkan banyak nyawa. Nasi sudah menjadi bubur, kejadian hari itu sungguh sangat memilukan apalagi bagi setiap orang tua yang anaknya mengalami insiden tersebut hingga tewas kehilangan nyawanya.
Olahraga sepak bola kerap digemari oleh kaum muda hingga orang tua. Tidak bisa dipungkiri di berbagai negara mana pun, olahraga yang satu ini selalu eksis dan selalu dipertandingkan. Kecintaan masyarakat terhadap sepak bola menjadikan mereka selalu hadir untuk melihat pertandingan sepak bola, baik dilayar kaca ataupun melihat langsung di stadion.
Para penggemar sepak bola biasanya tidak ingin ketinggalan untuk melihatnya, apalagi jika yang akan bertanding adalah tim kebanggaannya. Mereka pasti akan ikut andil untuk memeriahkan pertandingan tersebut dan mendukung timnya. Sampai-sampai ada beberapa orang yang rela menempuh jarak yang cukup jauh untuk menonton pertandingan. Begitulah jika sudah suka, apa pun tantangannya tidak akan menjadi penghalang baginya.
Namun, ada hal yang perlu untuk dipahami, bahwa ada dampak yang tidak baik ketika kita terlalu berlebihan dalam menyukai sesuatu sampai menjadi orang yang fanatik terhadap sesuatu itu. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, sebab akan berbahaya baik untuk diri sendiri maupun kelompok. Dapat kita lihat bersama dampak dari fanatik terhadap golongan jelas terlihat pada kejadian pertandingan sepak bola di stadion Kanjuruhan. Semua itu berawal dari fanatik terhadap golongan, yaitu tim sepak bola yang menjadi kebanggaan. Akibat tidak terima tim yang dibanggakan kalah, ini menimbulkan aksi protes dari para suporter.
“Ada yang mengejar Arema karena merasa kok kalah. Ada yang kejar Persebaya. Sudah dievakuasi ke tempat aman. Makin lama makin banyak, jika tidak pakai gas air mata aparat kewalahan, akhirnya disemprotkan,” kata Mahfud kepada CNN Indonesia TV (cnn.com, 02/10/2022).
Mereka para suporter semua kesal dan marah hingga membuat keributan di dalam stadion Kanjuruhan. Aksi protes mereka jelas sangat mengganggu dan berbahaya bagi orang lain sampai akhirnya aparat harus bertindak untuk mengamankan situasi yang kacau pada saat itu. Pada saat situasi kacau, lantas aparat mengambil tindakan untuk mengamankan situasi dan yang mereka lakukan adalah menyemprotkan gas air mata kepada para suporter atau penonton di dalam stadion. Sontak semua orang-orang yang berada di sana merasakan mata perih, sesak nafas, hingga berlari kebingungan. Ditambah lagi, para aparat menggunakan kekerasan untuk mengamankan situasi. Hal ini jelas kesalahan, sebab tindakan semacam itu tidaklah manusiawi.
Dari kejadian itu sedikitnya 129 orang dilaporkan tewas setelah terjadi kerusuhan suporter di Kanjuruhan (kompas.com, 02/10/2022).
Kejadian semacam ini pun tidak hanya terjadi di Indonesia, banyak juga negara lain mengalami hal yang serupa. Sungguh berbahaya dampak dari fanatisme terhadap golongan. Sebab, bisa menimbulkan kegaduhan sama seperti yang terjadi di stadion Kanjuruhan. Hanya gara-gara tidak terima jika tim yang dibanggakan kalah, lantas menimbulkan aksi protes yang seharusnya tidak perlu untuk dilakukan. Di dalam pertandingan, menang kalah itu hal yang biasa dan sudah menjadi alamiahnya dari sebuah pertandingan.
Aksi protes dan tidak terima akan kekalahan inilah yang dinamakan fanatisme terhadap golongan atau kelompok. Orang-orang yang seperti ini biasanya tidak bisa menerima kebenaran dan selalu melihat kesalahan orang lain saja, bahkan sampai menyalahkannya. Sungguh hal yang demikian harus segera diluruskan agar tidak makin merusak masyarakat akibat memiliki pemikiran yang keliru ini.
Buah pemikiran seperti ini tentu saja bukan berasal dari Islam, melainkan di luar dari Islam. Ditambah lagi, saat ini kita hidup bukan di bawah naungan sistem Islam, hingga pemikiran yang salah sangat mudah untuk masuk ke dalam tubuh setiap individunya. Lagi pula, asas kebebasan pada sistem hari ini menjadikan setiap individu sulit untuk mengontrol dirinya untuk bisa selalu berada pada jalan yang benar. Maka, tidak heran jika emosi saja bisa sampai menghilangkan nyawa manusia dan merusak lingkungan sekitar. Semua ini disebabkan karena setiap individu tidak dijaga keimanannya oleh sistem hari ini. Alhasil, kepada sesama manusia juga tidak mampu untuk saling menjaga dan menyayangi.
Berbeda halnya dengan sistem Islam, jika di dalam Islam, persaudaraan antara individu dibangun atas dasar keimanan bukan sebuah asas manfaat belaka. Apalagi fanatik terhadap golongan, hal ini juga sangat dilarang, sebab sesama muslim itu saling bersaudara tanpa memedulikan golongan ataupun kelompoknya. Jika sudah begini, tidak akan ada pertikaian muslim yang satu dengan yang lainnya, sebab persaudaraannya telah dibangun atas keimanan. Inilah yang akan menjadikan hubungan ini kokoh tidak mudah rapuh, tidak mudah untuk menyakiti, apalagi sampai menghilangkan nyawa saudara sesama muslimnya yang tidak bersalah, di dalam Islam ini tidak diperbolehkan.
Sistem hari ini dengan sistem Islam jelas jauh berbeda, di mana jika di dalam Islam, segala sesuatunya harus diatur berdasarkan syariat Islam. Bahkan, ketika mengurusi persoalan individu dan masyarakat harus senantiasa merujuk kepada syariat Islam. Setiap solusi yang didapatkan jelas membawa kebaikan bagi seluruhnya dan tentunya sesuai dengan syariat. Jika pada sistem hari ini tentu saja tidak berdasarkan syariat Islam, tetapi pada kegeniusan akal manusia yang terbatas. Hingga solusi yang didapat juga pasti terbatas, bahkan lebih seringnya tidak mampu memberi solusi sama sekali. Inilah yang menyebabkan masyarakat secara terus-menerus tidak mampu menyelesaikan problematika di dalam kehidupannya. Termasuk menjaga persaudaraan sesama muslim.
Maka, sudah seharusnya kita menyadari bahwa Islam itu sistem yang terbaik dan tidak ada sistem mana pun yang mampu menggantikannya. Oleh sebab itu, kembali kepada sistem Islam adalah solusi nyata agar setiap problematika di dalam kehidupan kita mampu terselesaikan dan kita menjadi hamba yang taat kepada perintah-Nya.
“Janganlah kamu saling bermarah-marahan, berdengki-dengkian, saling berpaling muka dan bercerai-berai, tetapi jadilah kamu sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara dan tidak dibolehkan bagi seorang muslim tidak bertegur sapa dengan saudaranya (sahabatnya atau kawannya) lebih dari tiga hari.” (h.r. Bukhari dan Muslim).
Wallahualam bissawab.









