OPINI  

Menuntaskan Persoalan Sampah, Haruskah Menggandeng Asing?

TPA Terjun

Kedatangan Mr Song Changguang selaku Vice President China Tianying Inc (CNTY) di Balai Kota Medan kemarin disambut baik oleh Pemko Medan untuk berkontribusi dalam penanganan persoalan sampah di Kota Medan. Sebab, melalui kolaborasi yang dilakukan diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih optimal serta mendatangkan kebermanfaatan terutama bagi masyarakat.

CNTY merupakan perusahaan internasional yang bergerak dalam industri kota dan pemulihan sumber daya serta bidang perkembangan teknologi energi bersih tanpa karbon, termasuk pengolahan limbah menjadi energi. Waspada.co.id. (16 Januari 2023).

Peningkatan jumlah sampah diakibatkan oleh  rendahnya kesadaran masyarakat, sehingga mereka membuang sampah tidak pada tempatnya. Sedikitnya fasilitas TPA, lemahnya peraturan yang ditegakkan, serta kurang berjalannya pengangkutan sampah juga menjadi penyebab menumpuknya sampah. Dan mengatasi persoalan sampah dengan menggandeng asing itu adalah kesalahan besar. Karena Pemko harus memahami jebakan kerjasama dengan asing yang akan menimbulkan ketergantungan kepada asing. Ekonomi dalam negeri akan terpengaruh oleh ekonomi China. Ini berpotensi adanya intervensi dan penjajahan oleh asing. Investasi dan kerjasama hanya kedok untuk menjerat bangsa demi kepentingan asing.

Kerjasama yang sarat dengan investasi asing (pinjaman) yang diberikan China diikat dengan berbagai syarat seperti adanya jaminan dalam bentuk aset, adanya imbal hasil seperti ekspor komoditas tertentu ke China hingga kewajiban Negara agar mengadakan peralatan dan jasa teknis harus diimpor dari China. Jika ditelusuri lebih mendalam tentu ada tata kelola yang salah dalam mengatasi sampah sehingga penimbunan bisa terjadi. Indonesia, menganut sistem Kapitalisme Demokrasi yang menjadikan keuntungan adalah satu-satunya tolak ukur.

Akibatnya upaya dalam mengatasi sampah tidak soluktif. Ditambah dengan minimnya peran Negara dalam mengurusi urusan masyarakat. Negara hanya menyediakan segala regulasi yang ada tanpa berperan mengontrol langsung realisasi sebenarnya ditengah-tengah masyarakat. Karenanya wajar, permasalahan sampah saja pun tak kunjung selesai. Maka, mustahil masalah sampah ini bisa teratasi selama Negara masih menerapkan sistem ekonomi kapitalis. Apalagi kerjasama dengan swasta dan asing hanya menegaskan berlepas tangannya pemerintah dalam tanggung jawab mensejahterakan rakyat. Kerjasama dengan asing juga berpotensi menjadi pintu masuk program-program asing yang bisa mengekspoitasi potensi generasi dan mengarahkan pembangunan SDM sesuai kepentingan asing.

Kondisi yang sangat berbeda akan kita dapati didalam Islam. Islam mampu mensejahterakan rakyatnya. Seperti dalam buku Politik Ekonomi Islam, Abdurrahman Al-Maliki menjelaskan sesungguhnya proyek-proyek yang mengundang asing adalah cara yang berbahaya terhadap intervensi negeri-negeri Islam. Investasi asing bisa membuat ummat menderita akibat bencana yang ditimbulkannya juga merupakan jalan untuk menjajah suatu Negara. Tentu ini tidak boleh dibiarkan sebab kaum muslim diharamkan memberi jalan kepada orang kafir untuk bisa mendominasi dan menguasai kaum mukmin. Allah SWT berfirman dalam Qs. An-Nisa Ayat 141: “Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan bagi orang kafir untuk memusnahkan orang-orang mukmin.

Dalam Islam, Negara yang berdaulat sangat penting dan utama. Islam menolak kerjasama dengan Negara asing apalagi Negara kafir dalam mengelola permasalahan dalam negeri yang masih bisa diatasi sendiri Karena itu jalan untuk menyudahi neoliberalisme dan neoimperialisme dengan kembali kepada Allah swt dengan menerapkan aturan Islam secara menyeluruh dalam naungan Daulah Islamiyah.

Sistem tersebut mengajarkan kepada pemeluknya bagaimana harus menjaga, mengelola, dan mengolah dengan baik lingkungan sekitarnya maupun hasilnya. Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang yang berbuat baik.” (TQS. Al A’raf ayat 56).

Maka mengatasi masalah sampah bisa diatasi dengan adanya kesadaran dari individu. Islam mendorong masyarakat untuk memiliki gaya hidup yang bersih, mengkonsumsi sesuai kebutuhan, melarang menumpuk barang tanpa ada manfaat. Gaya hidup yang bersih, apa adanya menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah dan mengkonsumsi sesuatu dengan secukupnya tanpa berlebihan.

Negara memiliki peran yang sangat penting dalam mengatasi masalah sampah dengan menerapkan aturan yang diambil berdasarkan hukum syara dengan upaya preventif.  Bukan berkompromi dengan asing seperti dalam sistem kapitalis. Oleh karena itu, dengan adanya kesadaran dan tanggung jawab setiap individu, masyarakat, dan negara menjadikan seluruh komponen masyarakat akan lebih peduli terhadap lingkungan. Maka tidak ada solusi yang mampu mengatasi problematika selain solusi Islam.

Sejatinya tidak akan menghantarkan perubahan nasib jika bukan melakukan upaya perubahan dengan panduan Islam sebagai solusinya. Sudah saatnya lah, mengganti sistem rusak dan merusak kapitalisme liberal dengan menjadikan Islam memimpin seluruh kehidupan manusia dalam Naungan Daulah Islamiyah. Wallahu’alam Bissawab.

Penulis: Atika Nasution (Alumni Mahasiswi Uisu Medan)