OPINI  

Cuti Ayah, Mampukah Memperbaiki Kualitas Generasi?

sddefault

Di sinilah peran suami sangat dibutuhkan, di mana suami menunjukkan dukungan kehamilan istri dengan menunjukkan empatinya ketika istri mengalami yang namanya masa ngidam. Karena di masa ini seorang istri yang sedang hamil perasaannya akan menjadi lebih sensitif. Di sinilah seharusnya sosok seorang suami menunjukkan dukungannya, dengan mencurahkan kasih sayang yang tulus.

Ini akan memberikan rasa aman dan juga merupakan amunisi yang sangat berharga bagi semangatnya dalam menjaga kehamilannya dan ditambah lagi dengan adanya wacana pemberian hak cuti bagi suami yang bekerja sebagai ASN, ini akan banyak membantu istri dalam masa pemulihan paskah melahirkan. Dalam hal ini cuti ayah memang dibutuhkan. Namun, lagi-lagi ini bukanlah solusi yang mendasar yang menyentuh akar permasalahan. Karena pada dasarnya tidak semua kaum pria (suami) bekerja di lembaga institusi pemerintahan (ASN).

Kebanyakan kaum pria (suami) di negara ini status pekerjaannya sebagai karyawan swasta. Tentu dengan adanya UU hak cuti bagi suami yang di khususkan untuk ASN ini akan menimbulkan ketimpangan dan tidak adanya rasa keadilan bagi masyarakat awam. Lagi-lagi inilah busuknya buah dari penerapan sistem kapitalis, tampak nyata bagaimana cara negara dalam menyelesaikan persoalan yang ada di tengah umat, persoalan tidak bisa diselesaikan secara tuntas.

Berbeda dengan Islam, dalam Islam anak adalah investasi di dunia maupun di akhirat. Investasi bukan hanya materi, tetapi investasi pahala dan dosa. Investasi pahala akan terus mengalir tanpa putus walaupun kedua orang tua sudah tiada. Begitu juga investasi dosa akan juga terus mengalir walaupun kedua orang tua sudah di dalam kubur. Maka itu, dalam Islam kedua orang tua dalam mendidik anak sangat berhati-hati, dan dalam mendidik anak juga harus mengikuti petunjuk yang diberikan Rasulullah saw. menjelaskan mendidik anak lakukan semenjak dalam kandungan. Beliau juga menjelaskan bahwa setelah empat puluh malam sejak pembuahan bayi sudah diberi pendengaran, maka dalam Islam seorang ayah selayaknya sudah menampakkan tanggung jawabnya dalam mendidik anak semenjak dalam kandungan.

Bentuk mendidik itu bisa dengan cara mengajak bicara calon bayi di dalam perut ibunya dengan perkataan yang baik serta mulai mengajak anak untuk mulai taat kepada Sang Pemberi Kehidupan dengan selalu memperdengarkan dan membacakan ayat suci Al-Qur’an, maka hal itu akan menjadikan generasi Islam yang berkualitas. Dengan disertai juga supporting sistem, yaitu sistem Islam. Dengan menjalankan kebijakannya dengan berbagai bidang, maka akan terbentuklah generasi berkualitas, beriman, bertakwa, dan terampil serta berjiwa pemimpin. Ke semuanya itu hanya bisa terwujud dalam bingkai naungan Daulah Khilafah.

Wallahualam bissawab.

Penulis: Rismayana (Aktivis Muslimah)