OPINI  

Ketika Bantuan Hanya Menyentuh Permukaan

Oleh Khairani Mahasiswi Universitas Al-Azhar Medan

download

Kecamatan Medan Marelan menggelar kegiatan “Sapa warga”. Kegiatan ini dilakukan adalah bentuk kepedulian sosial. Sapa warga bukan hanya untuk meningkatkan interaksi atau ajang silaturahmi, melainkan sebagai wujud nyata kepedulian dan kedekatan pemerintah dengan masyarakat. Melalui kegiatan ini, camat secara langsung mengunjungi warga untuk mendengarkan keluhan, memberikan motivasi, serta menyalurkan bantuan sosial kepada masyarakat yang membutuhkan. Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk memperkuat komunikasi dan memastikan kehadiran pemerintah di tengah masyarakat, terutama bagi warga yang sedang mengalami kesulitan.

Kegiatan Sapa Warga dilaksanakan oleh Camat Medan Marelan sebagai bentuk kepedulian dan upaya mempererat hubungan antara pemerintah dengan masyarakat. Melalui kegiatan ini, aparatur pemerintahan turun langsung ke lapangan untuk berinteraksi dengan warga, terutama mereka yang sedang mengalami kesulitan seperti sakit atau kondisi ekonomi terbatas. Kegiatan pendekatan ini penting karena menciptakan rasa kedekatan emosional antara pemerintah dan warga, menumbuhkan kepercayaan, serta memperkuat nilai kepedulian dan empati sosial. Namun, jika ditinjau lebih dalam, kegiatan seperti ini cenderung bersifat seremonial dan sementara. Pemberian bantuan sosial berupa sembako, kunjungan, atau dukungan moril hanya memberikan dampak jangka pendek bagi penerima. Warga memang merasa diperhatikan dan sedikit terbantu dalam kebutuhan sehari-hari, tetapi akar permasalahan seperti kemiskinan struktural, keterbatasan lapangan kerja, dan akses kesehatan tidak otomatis terselesaikan.

Kita bisa ambil pelajaran dari kegiatan yang pernah lakukan oleh pemerintah Medan pada tahun 2023. Saat itu Pemerintah Kota Medan juga menyalurkan bantuan sembako kepada warga terdampak banjir. Bantuan tersebut membantu warga bertahan selama seminggu, namun setelah itu banyak warga kembali mengeluhkan tidak adanya solusi untuk drainase dan pekerjaan tetap.

Hal ini menunjukkan bahwa bantuan karitatif perlu disertai perbaikan kebijakan lingkungan dan ekonomi lokal. Kita dapat mengambil pelajaran berharga dari kegiatan yang pernah dilakukan oleh Pemerintah Kota Medan pada tahun 2023. Pada saat itu, pemerintah menyalurkan bantuan sembako kepada warga yang terdampak banjir sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab sosial. Bantuan tersebut memang sangat membantu masyarakat untuk bertahan hidup dalam situasi darurat, terutama dalam memenuhi kebutuhan pokok selama sekitar satu minggu. Namun, setelah bantuan tersebut berakhir, banyak warga kembali menghadapi kesulitan dan mengeluhkan tidak adanya solusi nyata terhadap permasalahan utama, yaitu buruknya sistem drainase yang menyebabkan banjir berulang, serta minimnya lapangan pekerjaan yang membuat kondisi ekonomi warga tetap tidak stabil. Dari sini kita bisa belajar bahwa kebijakan bantuan bersifat karitatif hanya mampu memberikan dampak jangka pendek dan tidak menyelesaikan sampai ke akar permasalahan. Sistem sekuler dalam tata kelola sosial dan ekonomi umumnya cenderung mengandalkan program bantuan yang bersifat sementara, seperti pemberian sembako atau uang tunai kepada masyarakat yang membutuhkan. Pendekatan ini memang mampu memberikan dampak positif dalam jangka pendek, terutama pada situasi darurat seperti krisis ekonomi atau bencana alam. Namun, dalam praktiknya sistem sekuler yang digunakan saat ini belum mampu menciptakan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Berbeda dengan islam, di dalam pandangan Islam, negara memiliki tanggung jawab yang sangat besar dalam menjamin kesejahteraan rakyat secara menyeluruh, baik dalam aspek kesehatan, pangan, pendidikan, maupun bantuan sosial. Prinsip ini berakar dari nilai dasar Islam yang menempatkan pemimpin sebagai pelindung umat dan pengatur urusan rakyat (ra’ in), sebagaimana sabda Rasulullah bahwa “Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” Rasulullah sangat menekankan tanggung jawab atas segala kebutuhan umat, serta memastikan tidak ada seorang pun umat yang kelaparan atau terlantar.

Dalam kegiatan sapa warga ini, memang bermanfaat bagi masyarakat dan upaya nyata untuk meringankan beban masyarakat. Namun, Islam tidak berhenti pada bantuan sementara karena dalam perspektif Islam, kepedulian semacam itu seharusnya dibangun di atas sistem yang terstruktur dan berkelanjutan. Negara idealnya tidak hanya hadir untuk memberikan bantuan sesaat kepada warga yang kesulitan, melainkan menciptakan sistem kesejahteraan yang menjamin setiap individu hidup layak secara konsisten. Inilah bentuk kesejahteraan hakiki yang diinginkan dalam syariat Islam, yakni terciptanya masyarakat yang adil, saling peduli, dan terbebas dari kesenjangan sosial.

Wallahu a’lam bishawab